Wednesday, January 28, 2026

Arboretum Ala Gumilar

Rekomendasi
- Advertisement -
Koleksi tanaman berkayu dari berbagai daerah di Indonesia.

Aneka tanaman berkayu ditanam untuk keperluan sendiri sekaligus sumber plasma nutfah.

Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri, tersengsem pohon besar sejak dahulu karena memesona.

Trubus — Sekilas kolam ikan yang mengelilingi bangunan berukuran 40 m x 40 m itu tampak biasa. Setelah diamati lagi, beberapa kayu batangan bulat yang utuh menyembul di permukaan air. Padahal kedalaman kolam mencapai 2 m. Tumpukan gelondong itu memang sengaja ditempatkan di dalam air. “Kolam ini juga sebagai tempat pengawetan kayu,” kata pemilik kolam berisi gelondongan, Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri.

Rektor Universitas Indonesia periode pada 2007—2012 itu menghitung terdapat sekitar 50 m3 aneka kayu di kolam berisi ikan dewa itu. Semula ia menjadikan kolam itu sebagai tempat penyimpanan kayu. Namun, banya nyamuk bersarang sehingga guru besar Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia, itu memasukkan bibit ikan dewa sebagai penghuni kolam.

Pohon besar

Gumilar tidak membeli kayu gelondongan itu lalu menyimpannya di dalam kolam. Kayu-kayu itu hasil panen dari kebun sendiri. Masa penyimpanan kayu bervariasi. Mulai dari 1—3 tahun tergantung kebutuhan. Gumilar mengatakan, “Maksudnya jika saya bikin bangunan tidak perlu membeli kayu.” Semua bangunan di lahan 5 hektare itu memang mayoritas berunsur kayu dari kebun Gumilar.

Ia mengandalkan sekitar 50 m3 beragam kayu untuk membangun rumah tinggal di dalam kebun. Saung dan gazebo beserta kursi pun terbuat dari kayu hasil panen sendiri. Bahkan, garasi tanpa atap pun berbahan kayu dari kebun sendiri. Kini kebun 5 hektare yang semula perkebunan jati itu sudah berubah. Gumilar dan sang istri, Dra. Nenden Yuni Wardhani, menetap di rumah dalam kebun sejak 2016.

“Saya menanam sekitar 17.500 bibit jati mas di lahan 5 hektare pada 2000,” kata pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, itu. Selang 5 tahun, pertumbuhan jati tidak maksimal sehingga ia menanam beragam pohon dari berbagai daerah di Indonesia. Eboni, cendana, gaharu, ulin, bayur, dan pulai beberapa jenis pohon yang kini menempati kebun Gumilar. Eboni dan ulin termasuk tanaman favorit Gumilar.

Pengawetan kayu hasil panen di dalam kolam ikan dewa berdurasi 1—3 tahun tergantung dari keperluan.

Ia memperoleh informasi bahwa membeli kayu eboni berukuran besar dan berkualitas di Sulawesi dan Papua sulit. Oleh karena itulah, ia tertarik mengebunkan tanaman anggota famili Ebenaceae itu. Pemilihan ulin sebagai kayu favorit lantaran keras dan betekstur bagus. “Apapun pohonnya, saya sangat menyukai pohon besar,” kata pria berumur 57 tahun itu. Ia sedih jika ada pohon yang ditebang karena terdampak penataan ruang di kebun.

Ia mendapatkan bibit tanaman itu ketika berkunjung ke daerah. Bukan oleh-oleh khas daerah setempat yang dicari Gumilar. Ia selalu menanyakan jenis kayu unik dan khas di daerah itu. Lazimnya ia membawa 1—5 bibit tanaman berkayu itu ke kebunnya di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Mayoritas tanaman yang berada di kebun ditanam oleh Gumilar.

“Tiada hari tanpa menanam tanaman kecil atau besar serta membibitkannya,” kata doktor Sosiologi alumnus Universitat Belfield, Jerman, itu. Setiap pagi Gumilar dan istri mengelilingi kebun sebanyak 4—5 putaran setara 4—5 kilometer sambil berolahraga. Sesekali ia mencabuti rumput atau memangkas ranting yang menghalangi jalan. Tidak heran jika ia kerap membawa gunting pangkas sambil berjalan cepat.

Pohon incaran

Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri dan Dra. Hj. Nenden Yuni Wardhani (istri) jalan cepat setiap pagi mengelilingi kebun 4—5 putaran setara 4—5 kilometer.

Gumilar mengusahakan pulang sore agar memantau perkembangan pengerjaan danau kecil dan infrastruktur kebun. Bahkan ketika tiba di lokasi pada malam pun Gumilar menyempatkan berkeliling kebun sebanyak 3 putaran setara 3 km dengan hanya bermodal senter. Gumilar menyukai pohon besar sejak kecil. Alasannya pohon besar memesona dan memiliki “wibawa”.

Tidak heran jika di Jerman ada istilah naturdenkmal yang berarti tugu alam. Naturdenkmal mengacu pada elemen lanskap yang terbentuk alami seperti pohon besar. Tanaman yang berpeluang menjadi naturdenkmal di kebun Gumilar yakni petai besar dekat gerbang masuk dan mahoni afrika Khaya anthotheca yang sudah ditebang untuk keperluan tertentu.

Meski memiliki banyak koleksi pohon, Gumilar tetap memburu tanaman ketika berkunjung ke daerah. Bahkan ia berhasrat memiliki tanaman bocote Cordia elaeagnoides yang memiliki tekstur kayu indah. “Jika ada umur dan rezeki saya ingin pergi ke Madagaskar untuk mencari kayu itu,” kata penulis beberapa buku bertema sosiologi itu. Selain itu ia juga mengincar baobab madagaskar yang bentuknya menyerupai botol.

Kecintaan Gumilar pada tanaman berasal dari sang ayah dan Majalah Trubus. Konsep konservasi yang menghasilkan diterapkan Gumilar di kebun kayunya yang mirip arboretum. Beragam jenis pohon hidup berdampingan, tanpa gaduh. Setelah pohon-pohon itu dewasa Gumilar memanennya. (Riefza Vebriansyah)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img