Kiat Katrol Produksi Kedelai

Rekomendasi

Upaya meningkatan produktivitas dan produksi kedelai untuk menekan ketergantungan pada kedelai impor.

Indonesia mengimpor 7,2 juta ton kedelai pada 2020. “Ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor mencapai 80—90%,” kata Ketua Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Insititut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Dwi Andreas Santosa, M.S. Permainan harga kedelai dunia dan ketidakseimbangan dengan biaya produksi salah satu penyebab ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor.

Kedelai telah menjadi sumber protein yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia.

Alumnus Faculty of Life Sciences, Technische Universitaet. Braunscweig, Jerman, itu mengatakan, upaya mengatasinya antara lain menaikkan tarif agar kedelai lokal mampu bersaing serta mendukung harga di tingkat usaha tani. Upaya lain meningkatkan produktivitas kedelai lokal yang relatif rendah. Pada 2014—2018 produktivitas kedelai rata-rata hanya 1,4—1,5 ton per hektare (lihat Berharap pada Kedelai Lokal halaman 54—55).

Pupuk terpadu

Menurut  guru besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ir. Tualar Simarmata, M.S., potensi produktivitas kedelai lokal sekitar 2 ton per hektare. Artinya ada potensi meningkatkan 400—500 kg per hektare dari produktivitas itu. Tualar menuturkan, upaya meningkatkan produktivitas kedelai dengan mempersiapkan rekayasa rancang bagung teknologi yang matang.

“Varietas unggul kini sudah banyak dikembangkan. Cukup disesuaikan dengan kebutuhan baik ukuran polong, toleran lahan asam, dan sebagainya,” kata doktor alumnus Universitas Justus Liebig, Jerman, itu. Sekadar contoh varietas anyar yang toleran lahan masam adalah demas 2 dan demas 3. Produktivitas keduanya unggul 19,35% dan 15,41% atau 2,79 ton dan 2,66 ton per hektare dibandingkan dengan tetuanya demas generasi pertama.

Tualar mengatakan, petani perlu menerapkan pemupukan terpadu dalam budidaya kedelai. Pupuk terpadu terdiri atas pupuk baik pupuk organik, anorganik, hayati, dan bahan pembenah tanah (amelioran). Ia menuturkan, Glycine max  termasuk tanaman pionir. Artinya tanaman yang dapat digunakan sebagai pemulihan lahan. Bintil (nodul) pada akar kedelai dapat mengikat nitrogen bebas. Hal itu secara tidak langsung menjadikan tanah lebih subur.

Penggunaan pupuk hayati bertujuan agar mikroorganisme bersimbiosis dengan tanaman dan menyediakan unsur hara tersedia bagi tanaman. Riset Neni Marlina dan  Gusmiatun dari Program Studi Agroteknologi, Universitas Muhammadiyah Palembang, membuktikan pupuk hayati mengandung mikroorganisme, yakni bakteri pelarut fosfat (BPF), Azospirillum,  mikoriza,  dan pupuk  organik  hayati  (POH).

Riset menyatakan, terdapat peningkatan nitrogen dan fosfat yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas. Bila dibandingkan dengan kedelai tanpa perlakuan, produksi paling tinggi yakni pada pemberian BPF yakni 228%. BPF di dalam tanah bekerja mengubah fosfat organik menjadi fosfat yang tersedia bagi tanaman. Produksi kedelai terbesar selanjutnya yakni pemberian mikoriza.

Pemanfaatan varietas tahan sesuai kondisi lahan dapat memberikan keuntungan bagi petani kedelai.

Mikoriza bersimbiosis dengan tanaman dan berfungsi sebagai penyerap air serta memperbaiki struktur tanah. Hifa cendawan itu dapat melintasi zona bebas fosfat dan meningkatkan serapan meningkatkan serapan fosfat (P), nitrogen (N), besi (Fe), dan kalsium Ca.

Optimalkan lahan

Periset Departemen Budidaya Pertanian Universitas Padjadjaran, Aep Wawan Irwan dan Agus Wahyudin menyatakan pemberian 5 gram dan 10 gram Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA) per polibag berpengaruh baik pada nodul akar kedelai. Serupa halnya dengan aplikasi Pupuk Pelengkap Cair (PPC) dengan dosis 10 cc/liter dan 15 cc/liter. PPC mengandung unsur hara makro, yakni nitrogen, fosfat, kalium, dan kalsium. Adapun hara mikro yang terkandung adalah tembaga (Cu) dan molibdenum (Mo).

Upaya lain meningkatkan produksi kedelai nasional dengan memperluas penanaman di area tertentu seperti bawah naungan kelapa sawit. Direktorat Perkebunan mencatat pada 2016 luas lahan kelapa sawit 12,31 juta hektare. Sekitar 46% setara 5,6 juta hektare merupakan kebun kelapa sawit rakyat yang dikelola 2,3 juta kepala keluarga. Para pekebun dapat menanam kedelai di bawah naungan sawit.

Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Dr. Gatut Wahyu Anggoro Susanto, M.P. membuktikan, produktivitas kedelai dena 1 di bawah naungan sawit mencapai 2,9 ton per hektare. Varietas itu memang toleran terhadap naungan hingga 50%. Pilihan lain argomulyo dan anjasmoro.

Masyarakat juga perlu melirik lahan pasang surut. Kendala budidaya kedelai di lahan itu seperti tanah terlalu asam, kandungan bahan organik rendah, plus benih yang kurang terjamin. Tim dari Balitkabi mengatasi kendala itu dengan penerapan teknologi budidaya kedelai di lahan pasang surut (Kepas).

Petani di Desa Simpang, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, Triyanto, menerapkan teknologi itu dan menuai 6,3 ton di lahan 3 hektare. Artinya produktivitas rata-rata 2,1 ton per hektare. Petani kedelai sejak 1996 itu biasanya hanya menuai 4,5 ton per 3 ha. Potensi lahan rawa pasang surut sangat luas, 20,13 juta ha yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi. Beragam upaya itu demi swasembada kedelai seperti pada 1992. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol/ Peliput: Sinta Herian Pawestri)

Artikel Terbaru

Matoke dan Kelapa, Andalan Ekspor Uganda ke Pasar Dunia

Uganda memiliki komoditas khas berupa matoke, pisang lokal yang menjadi makanan pokok masyarakat setempat. Berbeda dengan pisang meja, matoke...

More Articles Like This