Saturday, June 22, 2024

Alasan Budidaya Padi dengan Metode SRI Perlu Dilakukan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Perubahan iklim menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai dan diantisipasi. Tidak terkecuali pada sektor pertanian. Di tengah perubahan iklim misalnya, petani bisa menerapkan metode System of Rice Intensification (SRI), pada budidaya tanaman padi.

Menurut Dr. Chusnul Arif, Dosen dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), metode SRI mulai diperkenalkan di Madagaskar untuk membudidayakan padi di lahan yang mengalami kekeringan.

Arif menjelaskan, terdapat enam prinsip di dalam metode SRI. Pertama, benihnya muda sehingga hanya membutuhkan 7–14 hari dan dapat memotong waktu semai. Kedua, padi ditanam dengan jarak agak lebar untuk memberikan ruang tanaman dan anakannya untuk tumbuh.

Ketiga, satu lubang ditanami satu tanaman. Keempat, sistem irigasi lebih efektif dengan metode intermiten atau berselang. Kelima, penyiangan secara intensif untuk mengurangi gulma sekaligus meningkatkan aerasi tanaman. Keenam, sangat direkomendasikan untuk menggunakan pupuk organik untuk menghasilkan produk lebih sehat.

Untuk kelebihan metode SRI, di antaranya akan terjadi penghematan sebab penggunaan benih lebih sedikit. Penghematan air juga bisa sampai 40 persen. Selain itu, karena kondisinya lebih kering, gas metan atau emisinya dapat dikurangi.

Arif menyebut walau metode ini terbilang prospektif, penerapannya masih rendah. Hal ini karena mindset petani masih memilih metode konvensional. Introduksi metode SRI kepada petani tentu tidak akan mudah.

“Di samping itu, masih terdapat kendala dalam prapascapanen. Penjualan produk organik biayanya dinilai lebih mahal dan sulit menemukan pasar yang pas,” terang Arif seperti dilansir dari laman IPB University.

Selain itu, petani masih menghadapi berbagai masalah teknis infrastruktur pertanian. Di Indonesia, masih sulit menemukan mesin yang dapat menanam benih satu per satu dengan lebih cepat. Mesin untuk mengatasi gulma dengan cepat juga masih belum ada dan infrastruktur pengairan belum canggih.

“Bila minimal 25 persen lahan sawah di Indonesia dapat diterapkan metode SRI, saya yakin ini dapat meningkatkan produksi beras nasional sehingga bisa swasembada beras,” papar Arif.

Menurut Arif, harus ada dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah dari sisi kebijakan dan infrastruktur. Perubahan mindset petani juga harus mulai didorong. Perguruan tinggi harus mulai bisa menjadi pendamping dan berkolaborasi bersama pihak yang lain.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Berbisnis Olahan Bayam, Anak Muda Asal Tasikmalaya Raup Omzet Puluhan Juta

Trubus.id—Bayam tidak hanya menjadi sumber zat besi, tetapi juga bisa menjadi sumber cuan bagi  Filsya Khoirina Fildzah, S.Kep., Ners...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img