Friday, January 16, 2026

Alat Perontok Padi untuk Petani Desa Cimarga

Rekomendasi
- Advertisement -

Himpunan Mahasiswa Mesin Institut Teknologi Bandung (HMM ITB) menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat melalui program pengabdian di Desa Cimarga, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang. Dalam kegiatan yang didukung Yayasan Solidarity Forever itu, mahasiswa menyerahkan empat unit alat perontok padi hasil inovasi mereka kepada para petani.

Program ini bertujuan membantu petani meningkatkan efisiensi kerja dan produktivitas panen. Sebagian besar warga Desa Cimarga berprofesi sebagai petani, namun proses perontokan padi sebelumnya masih dilakukan secara manual, memerlukan banyak tenaga dan waktu.

“Mahasiswa berkontribusi dalam mendesain alat, membuat prototipe, dan mengimplementasikannya bersama warga,” ujar Bagus Ryan Prabowo, Kepala Divisi Community Development HMM ITB. Ia menambahkan, proses pembuatan alat dilakukan dengan melibatkan masyarakat agar mereka memahami dan mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara mandiri.

Inisiatif ini lahir dari kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pengabdian masyarakat berbasis pemberdayaan. Selain HMM ITB, kegiatan juga melibatkan Pemerintah Desa Cimarga, Kelompok Tani Desa Cimarga, dan Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati ITB, dengan bimbingan Dr.Eng. Gea Fardias Mu’min, S.T., M.T.

Meski sempat mengalami kendala dalam pengadaan bahan baku karena keterbatasan pasokan di daerah setempat, proyek tersebut tetap berhasil diselesaikan dengan baik. Pemerintah desa menyambut positif hasil inovasi mahasiswa itu.

“Kami bangga atas inovasi yang diciptakan adik-adik mahasiswa. Dulu perontokan dilakukan manual, sekarang jadi lebih cepat dan mudah,” ujar Runaedin, Sekretaris Desa Cimarga.

Ke depan, HMM ITB berencana memperluas penerapan alat tersebut ke wilayah lain di Jawa Barat yang masih menggunakan metode manual. “Kami ingin petani bisa membuat alat ini secara mandiri dan membagikan pengetahuannya ke desa-desa sekitar,” tutur Falah, mahasiswa Teknik Mesin ITB.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat mampu menghadirkan solusi praktis bagi kemajuan pertanian Indonesia.

Foto: Dok.ITB

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img