Monday, January 26, 2026

Amat Banyak Aral Avokad

Rekomendasi
- Advertisement -

569_ 12-7Hartono gembira saat 100 pohon avokad di lahannya serempak berbunga pada 2015. Namun, kegembiraan pekebun di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, itu berubah menjadi duka. Sebulan berselang seluruh bunga rontok. Pada musim berikutnya ia kembali menanti bunga itu mekar. Namun, pohon berumur 3 tahun itu belum juga berbunga lagi.

Pada akhir 2016 Hartono memberikan larutan perangsang berbunga yang kerap ia gunakan untuk membuahkan lengkeng. “Kami tertarik mencobanya karena pada lengkeng berhasil melebatkan buah,” ujar Prasetyo, pengelola kebun milik Hartono. Namun, upaya itu tak membuahkan hasil. Seluruh avokad tetap mogok berbuah. Prasetyo menduga avokad wina tidak cocok di ketinggian 300—450 meter di atas permukaan laut (m dpl).

Sementara avokad wina berasal dari Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang berketinggian 560—800 m dpl. Menurut ahli buah dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Sobir PhD, banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan avokad. “Salah satunya daya adaptasi tanaman pada ketinggian dan jenis tanah berbeda,” ujarnya.

Aral tak hanya menghadang di hulu, tapi hingga ke hilir. Menurut pemasok buah di Muarakarang, Jakarta Utara, Tatang Halim, sulit memperoleh pasokan buah dengan kualitas bagus dan seragam.

Buah heterogen
Tatang hanya membeli avokad yang matang, berasa gurih, ukuran besar, dan berpenampilan buah menarik. Pernah ada pengepul yang menawarkan 147 kg avokad kepada Tatang, tapi yang lolos seleksi hanya 101 kg.

Selama ini di pasaran beredar avokad berkualitas rendah karena para pengepul menebas buah dari satu pohon tanpa memilih buah yang sudah matang atau belum. Apalagi di pasar tradisional avokad dijual masih mengkal sehingga harus diperam dahulu sebelum dikonsumsi. Jika buah masih muda buah tidak akan melunak meski diperam dalam waktu lama. Semakin lama buah hanya menjadi kisut karena kadar air berkurang selama penyimpanan. Sementara daging buah tetap mengkal dan berasa pahit.

Akibat kualitas buah yang rendah, eksportir asal Kota Bandung, Jawa Barat, Ir Hasan Johnny Widjaja, gagal menawarkan avokad ke importir asal Singapura. “Mereka mengeluhkan kualitas buah yang tidak konsisten,” ujar ketua Asosiasi Eksportir Sayuran dan Buah Indonesia (AESBI) saat menjadi pembicara dalam seminar Agricultural Network Indonesia (Agrinesia) 2016 di Bali.

Itulah sebabnya para kebun seperti Eflin Sirait dan Budi Sutrisno mengebunkan varietas miki dalam skala luas dengan harapan kelak hasil panennya seragam. Eflin ingin meniru kesuksesan Amerika Serikat dalam mengembangkan avokad varietas hass. Avokad yang dikembangkan Rudolph Hass pada 1926 dan dipatenkan pada 1935 itu menjadi merek avokad yang mendunia. Jika upaya Eflin dan Budi berhasil, maka di pasaran lebih mudah menemukan avokad berkualitas. (Imam Wiguna/Peliput: Desi Sayyidati Rahimah, Marietta Ramadhan, Syah Angkasa dan Tiffani Dias Anggraeni)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img