Tuesday, November 29, 2022

Amien Rais : Jelang Senja Bersama Koi Kesayangan

Rekomendasi

Padahal malam sebelumnya ayah 5 putra itu menempuh perjalanan panjang Tegal—Yogyakarta untuk kepentingan serupa. Sore usai dari Klaten, ia sudah ditunggu civitas akademika di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Rutinitas segudang itu tak menyiratkan kejenuhan apapun di mata Amien. Sebab ia punya cara tersendiri melepas lelah; menatap liukan koi kesayangan di sudut halaman.

Meski tugas kenegaraan tak lagi mendominasi rutinitas Amien Rais, kesibukannya justru tak berkurang. Jadwal hariannya bertambah padat disesaki tugas-tugas pendidikan dan ceramah di berbagai tempat. Mantan ketua umum PAN (Partai Amanat Nasional) itu sibuk membimbing dan menguji tesis dan disertasi mahasiswa di UGM Yogyakarta. Beberapa tugas menjadi pembicara stadium general juga kerap mampir di agenda. Pria kelahiran Solo itu juga kerap ditunggu-tunggu kehadirannya dalam ceramah keagamaan di berbagai tempat.

Namun, sesibuk apapun Amien Rais, kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama ikan samurai klangenan hampir tak pernah dilewatkan. Setiap kali tiba di kediamannya di wilayah Pandeansari, Yogyakarta, suami Kusnasriyati Sri Rahayu itu melongok kolam berukuran 10 m x 2 m di sudut halaman rumah untuk menyapa para koi kesayangan.

Relaksasi

Bila senja tiba Amien Rais kerap duduk di tepi kolam sembari menggenggam butiran pelet untuk kohaku, showa, sanke, chagoi, utsuri, dan lain-lain yang meliuk-liuk santai. Saat pakan ditaburkan serombongan koi yang berjumlah lebih dari 30 ekor itu berebut dalam kecipakan air. Itulah kenikmatan yang paling dicari Amien.

Kelahiran 26 April 1944 itu merasa senang saat koi-koi berebutan minta dibelai. “Bahkan ada yang suka sekali bermain-main di telapak tangan,” ujarnya. Menghabiskan waktu dengan kerabat ikan mas itu ibarat relaksasi untuk melepas ketegangan dan penghibur hati di kala persoalan melanda.

Tepi kolam yang luas juga menjadi tempat yang asyik bagi putra Syuhud Rais itu untuk bercengkerama bersama keluarga. Beberapa kali anak kedua dari 6 bersaudara itu melakukan diskusi bersama rekan-rekan di tepi kolam koi.

Menyeruput secangkir teh jadi kian nikmat bila dilakukan sembari menatap gerakan anggun sang klangenan. Koi menjadi alat untuk memompa semangat saat mata lelah membaca huruf demi huruf di buku bacaan. Pantas bila kolam berikut penghuninya itu menjadi salah satu hal yang paling dirindukan Amien ketika pulang ke Yogyakarta.

Selain itu, koi bagi peraih beasiswa fullbright & rockefeller itu layaknya memberi pelajaran. Ikan asal negeri Sakura itu simbol keramahan. “Inilah ikan paling cinta damai yang tidak pernah berkelahi,” tutur alumnus pascadoktoral University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat.

Memelihara ikan bukan hal baru bagi pria yang menikah pada 9 Februari 1969 itu. Maskoki, oscar, dan arwana pernah dimiliki. Namun, menurutnya ikan-ikan lain yang pernah dipelihara sangat sensitif penyakit, sebaliknya koi bandel. Perawatan ikan-ikan lain pun jauh lebih rumit ketimbang mengurus koi. “Kolam koi tidak  dikuras selama 3 bulan pun tak masalah,” kata Amien.

Kesan menggoda

Perkenalan Amien dengan ikan cantik itu berawal di pertengahan 2002. Kala itu pria yang hobi menulis dengan ballpoint besar itu menyambangi pasar burung Ngasem di Yogyakarta. Maklum kegemarannya pada ayam katai dan gelatik mendorongnya untuk terus menambah koleksi.

Di tengah perjalanan matanya tertambat pada sesosok ikan cantik dengan warna-warna semarak di sebuah bak milik penjual ikan. Gerakannya yang gemulai bagai menghipnotis peraih Zainal Zakse Award itu. “Warna beragam dan berbeda satu sama lain menjadi daya tariknya,”ungkap Amien. Kesan pertama yang menggoda itu menarik minat Amien untuk memboyong beberapa koi ke rumah.

Dua kolam pun dibangun di 2 tempat tinggalnya; Pandeansari dan Ngeksigondo, Yogyakarta. “Itu semata-mata agar saya selalu bisa menatap koi di rumah,” papar Amien.olam ukuran 10 m x 5 m di Pandeansari diisi kurang lebih 35 koi. Sedangkan kolam yang berukuran separuhnya di Ngeksigondo ditempati kurang lebih 25 koi yang ukurannya telah mencapai 45 cm. Jadi kini koleksi mencapai 60 ekor.

Sejak saat itulah ia membangun hubungan emosi dengan sang klangenan. Saking sayangnya, Amien memberi nama pada masing-masing koi. “Dua yang terbesar namanya Titil dan Ninil,” kata Amien. Bila pagi atau senja menjelang, Amien menyapa ikan-ikan kebanggaan. “Selamat pagi Titil, Ninil,” panggilnya layaknya pada sang karib.

Sebatas hobi

Apapun apresiasi Amien terhadap koi, “Ia hanya sekadar hobi,” ujarnya. Jadi, tokoh Muhammadiyah itu belum berniat mengikuti even-even per-koi-an atau memperbanyak koleksi dengan koi-koi impor berharga mahal. “Saya sudah cukup terhibur dengan koleksi yang sekarang,” tuturnya.

Amien dan istri merancang sendiri arsitek kolam dan aksesorinya. Dibantu seorang rekan, fi ltrasi air pun disusun sedemikian rupa agar koi tumbuh sempurna. Meski begitu, pengalaman pahit pernah juga dirasakan. Sebanyak 6 kohaku yang baru dibeli, 4 di antaranya mati. Amien pun berkonsultasi dengan pakar ikan dan ahli manajemen air di Yogyakarta. “Rupanya air menjadi kunci utama,” tutur Amien mengevaluasi pengalaman.

Bila singgah di kediamannya di Pandeansari, Yogyakarta, kolam sedalam 1 m yang dilengkapi lubang pengeluaran air dan fi lter di dasarnya bakal menjadi pemandangan yang menyegarkan mata. Dinding kolam dilengkapi air terjun artifi sial berundak setinggi 1,5 m. Dilengkapi taman nan asri, kolam yang berisi puluhan koi makin memukau.

Nun di halaman seberang nyanyian perkutut, kicauan gelatik, suara ayam katai dan ayam mutiara bersahut-sahutan. Dua buah kolam berisi maskoki pun turut menyemarakkan. Lambaian tanaman pergola irian fl ame menjadi pelengkap. Di sanalah Amien Rais menjalin kedekatan dengan koikoinya yang ramah. (Hanni Sofi a)

 

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img