Monday, August 15, 2022

Ampuhnya Minuman Surga

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Kalimat itu tercantum dalam Al Quran Surat Al Insan ayat 17. Sebutan zanjabil – jahe dalam bahasa Arab – sebagai bahan minuman surga itu pantas disematkan pada anggota famili Zingiberaceae itu. Ia memiliki segudang manfaat bagi kesehatan tubuh.

Itu terbukti dari hasil penelitian di berbagai negara. Di tanahair, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menetapkan jahe khususnya jahe merah sebagai salah satu obat tradisional dari uji praklinis sebagai antineoplasma. Zingiber officinale itu mampu menghambat perkembangan sel kanker.

Penelitian Shafina Hanim Mohd Habib dan tim dari Fakultas Kedokteran Universiti Kebangsaan Malaysia Medical Centre juga membuktikan jahe memiliki efek antikanker dan antiinflamasi alias antiperadangan. Namun, penelitian itu baru dilakukan pada tikus yang menderita kanker hati.

Hangat

Zainal Gani, dokter sekaligus herbalis di Malang, Jawa Timur, menuturkan secara tradisional jahe sudah lama dimanfaatkan untuk menghangatkan tubuh. Yang paling sederhana, jahe diolah dalam bentuk wedang. ”Selain itu jahe juga dimanfaatkan untuk menghilangkan mual dan mengeluarkan angin, serta menghilangkan amis pada masakan,” ujar Zainal. Untuk mengeluarkan angin, secara tradisional jahe merah lebih banyak digunakan. Sementara untuk menghilangkan mual jahe emprit yang dipakai.

Jahe juga kerap digunakan dalam ramuan tradisional China. ”Ada 5 macam ramuan jahe yang digunakan yaitu jahe segar, jahe kering, jahe yang digongso dengan madu, jahe panggang, dan jahe bakar,” kata Zainal. Seperti di tanahair, pengobat tradisional China meresepkan ramuan itu untuk menghangatkan tubuh dan menambah energi. Ramuan jahe segar dipercaya mampu membawa ramuan obat agar bisa diedarkan ke seluruh tubuh. Caranya, jahe segar dimasukkan ke dalam panci rebusan ramuan herbal setelah api dimatikan.

Uji klinis jahe pertama di negara barat tercatat dilakukan oleh Dr Daniel Mowrey dan Dr Dennis Clayson dari Brigham Young University, Utah, Amerika Serikat pada 1982. Penelitian itu untuk mengetahui jahe sebagai obat antimual alias antimabuk kendaraan. Mereka meminta 36 orang yang sangat sering mabuk kendaraan untuk mengonsumsi 940 mg serbuk jahe. Sebagai perbandingan, sebagian di antaranya mengonsumsi 100 mg dimenhidrinat – obat antimual dan antimabuk kendaraan – serta placebo.

Hasilnya, jahe yang dikonsumsi 20 – 25 menit sebelum ujicoba pada kursi putar yang digerakkan dengan mesin terbukti dapat mencegah mabuk. Sementara orang yang hanya mengonsumsi placebo serta dimenhidrat masih mengalami mabuk kendaraan. Selang 6 tahun kemudian, Aksel Grontved dan tim dari Odense University Hospital, Denmark, mengujikan serbuk jahe pada 80 perwira angkatan laut yang belum terbiasa dengan ombak besar.

Percobaan itu dilakukan di laut lepas dalam pelayaran dengan ombak tinggi. Perwira yang diberi 1 gram obat atau placebo menunjukkan tanda-tanda mabuk laut seperti mual dan muntah tiap jam selama 4 jam berturut-turut. Konsumsi serbuk jahe mampu mengurangi kecenderungan mual dan munculnya keringat dingin.

Di Iran para peneliti dari Ecological Institute of Caspian Sea, Sari, Department of Rheumatology, Imam Khomeini Hospital serta Faculty of Pharmacy, and Faculty of Rehabilitation, University of Medical Sciences, Teheran, menemukan bahwa ekstrak jahe efektif mengurangi nyeri sendi pada penderita osteoarthritis. Keefektifan jahe setara dengan ibuprofen – obat pereda rasa sakit dan nyeri sendi.

Antihepatotoksik

Di Afrika jahe juga dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional. Penelitian tim Godfrey Okoye University dan Department of Biochemistry University of Nigeria, membuktikan jahe memiliki kemampuan antihepatotoksik alias melindungi hati.

Hasil penelitian menunjukkan tikus yang diberi 1.000 ekstrak jahe per kg bobot tikus, lalu diikuti pemberian CCl4 24 jam kemudian, kadar serum glutamat piruvat transaminase (SGPT) dan serum glutamat oksaloasetat transaminase (SGOT) menurun secara signikan. SGPT dan SGOT merupakan enzim yang biasa dijumpai pada sel hati dan jantung.

Enzim itu akan dilepaskan ke dalam darah jika hati atau jantung mengalami kerusakan. Artinya, jika ada kerusakan hati, kadar SGPT dan SGOT dalam darah naik. Pada penelitian itu kadar SGPT dan SGOT turun pada tikus yang diberi asupan ekstrak etanol jahe. Para peneliti menyimpulkan pemberian ekstrak etanol jahe mencegah kerusakan hati akibat CCl4.

Menurut Zainal Gani, jahe mengandung senyawa gingerol yang menimbulkan sensasi pedas. Senyawa serupa capsaicin pada cabai itulah yang berperan mengurangi rasa mual, meringankan nyeri kepala akibat migrain, mengurangi nyeri sendi akibat rematik arthritis serta menghambat pertumbuhan sel kanker antara lain payudara, ovarium, dan pankreas. Berbagai penelitian itu membuktikan jahe memang pantas menjadi bahan minuman surga. (Tri Susanti/Peliput: Tri Istianingsih)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img