Tuesday, August 9, 2022

Bangkitnya sang Ratu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Nilai sebesar itu didapat dari penjualan 25 pot anakan aglaonema berdaun 3-5 helai. Hanya 25 pot? Ya, aglaonema yang dijual alumnus Biologi Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga, itu tergolong sri rejeki papan atas. Sepot nilainya Rp3-juta-Rp5-juta. Sebut saja tiara, silangan Gregori Garnadi Hambali, yang dilepas Rp1,5-juta-Rp2-juta per daun. Jenis lain, hot lady, Rp1-juta-Rp1,25-juta. Sri rejeki itu dijual kepada kenalan dan sahabat sesama penggemar aglaonema.

Wajah baru yang juga memperoleh pendapatan sampingan dari aglaonema ialah Edwind Djunaedhy di Surabaya. Pria yang baru mengenal sri rejeki pada Maret 2007 itu menjual 2 pot hot lady dan 2 pot tiara 4 bulan kemudian. Dengan harga jual anakan hot lady dan tiara masing-masing Rp3-juta per pot Edwind mendapat Rp12-juta. Itu belum termasuk penjualan anakan jenis lain yang mencapai Rp43-juta. Indukan-yang berfungsi sebagai pabrik-dirawat di dak rumah seluas 20 m2 di kawasan elit Kota Buaya.

Di Metro, Lampung, Mohammad Adam mendapat rezeki dari pameran selama seminggu pada November 2007. Kontraktor gedung, jembatan, dan jalan raya itu mendapat Rp66,25-juta dari penjualan 1 pot dolores dan masing-masing 2 pot widuri, hot lady, serta tiara. Semua hasil budidaya sendiri dari indukan yang dirawat di luasan 25 m2.

Spesialisasi

Sukses 3 pendatang baru itu memasarkan aglaonema disebut-sebut sebagai indikasi bangkitnya sang ratu di dunia tanaman hias. ‘Tiga bulan terakhir pasar aglaonema mulai bergerak,’ kata Ukay Saputra, pemilik nurseri Annisa Flora, kepada wartawan Trubus, Imam Wiguna, pada pertengahan Februari 2008. Ia merujuk volume anakan sri rejeki yang keluar dari kebun sebanyak 4.500-6.000 pot per bulan. Sebelumnya, 1.500-2.000 pot. Jenisnya pride of sumatera, dynamic ruby, heng heng, udonporn, butterfly, dan golden lipstik dengan harga Rp75.000-Rp250.000 per pot berdaun 6-7 helai.

Songgo Tjahaja, kolektor di Jakarta Barat, sepakat. ‘Aglaonema mulai bergairah,’ ujar pria yang sejak akhir 2007 sibuk menjawab telepon yang menanyakan sang ratu daun. Namun, kondisinya berbeda dengan tren 2-3 tahun silam. Kali ini terjadi spesialiasi. Kolektor atau pekebun memilih jenis tertentu untuk dirawat sebagai investasi. Jenis lain dirawat sekadar pelengkap koleksi. Menurut Greg Hambali, tren memilih jenis tertentu merupakan strategi tepat. Tak mungkin seorang pemain mengelola banyak jenis atau kultivar karena karakter masing-masing berbeda.

Penelusuran Trubus kepada pemain aglaonema di Sumatera, Jawa, dan Bali, spesialiasi yang berkembang di lapangan beragam. ‘Ada yang menggolongkan menjadi 2 kutub besar. Memilih jenis lokal (silangan Greg Hambali, red) atau impor dari Thailand,’ kata Tirto Gunawan alias Wiwi, pemain di Jakarta Barat. Penggolongan itu didasarkan perbedaan karakter paling umum aglaonema lokal dan thailand. Di tanahair, jenis lokal cenderung lebih bandel ketimbang impor karena adaptif dengan lingkungan.

Penggolongan lain berdasarkan harga. Ada 3 penggolongan besar, yaitu mereka yang memainkan aglaonema berharga mahal (jutaan rupiah per daun), aglaonema harga menengah (Rp250.000-Rp1-juta per pot), dan harga murah (kurang dari Rp250.000 per pot). Di kelas pertama sebut saja tiara, widuri, dan hot lady. Di kelas ke-2, legacy dan venus. Sementara kelas ke-3 contohnya pride of sumatera, lady valentine, dan heng heng.

Pembagian dalam spesialisasi tertentu tetap mempertimbangkan keunggulan tanaman. Sang ratu disebut unggul bila berdaun besar, corak dan pola warna tegas, gampang dirawat, serta bandel terhadap serbuan hama dan penyakit. Wiwi mencontohkan, pada seri merah silangan Greg Hambali, hot lady, tiara, dan widuri paling menonjol. Sementara seri merah muda, sexy pink di posisi paling atas, diikuti sinta dan srikandi. Pada seri pink kombinasi metalik, harlequin satu-satunya primadona (baca: Di antara Banyak Pilihan, hal 20).

Kental

Spesialisasi di bisnis aglaonema itu terasa kental saat 10 wartawan Trubus melacak bisnis sang ratu pada Januari-Februari 2008. Hari Setiawan, pemilik Irene Flora di Jakarta Timur berkonsentrasi memperbanyak harlequin dari 20 indukan. Indukan berasal dari sepot harlequin seharga Rp660-juta yang dimenangkan dalam sebuah lelang pada 2006. Hampir semua silangan Greg Hambali seperti tiara, hot lady, dan widuri pun dikembangkan.

Songgo Tjahaja memperbanyak sexy pink. Jumlahnya kini 20 tanaman. Sri ratu yang harganya masih dipatok Rp5-juta-Rp6-juta per daun itu disebut-sebut sebagai aglaonema termahal kedua setelah harlequin yang dibanderol Rp10-juta per daun. Maklum sexy pink yang bersosok mewah tergolong langka dibanding silangan Greg lain. Peredarannya di tanahair diduga hanya 50 tanaman. Songgo juga mengembangkan jenis lokal lain seperti tiara, adelia, dan hot lady.

Di Sentul, Bogor, Gunawan Widjaja, yang mengimpor ratusan jenis aglaonema dari negeri Siam, memilih hanya mengembangkan 2 kultivar. Pemilik nurseri Wijaya itu menyetok 5.000 indukan legacy dan 500 indukan siam aurora. Yang disebut pertama disiapkan untuk memasok pasar menengah. Sedangkan siam aurora untuk pasar menengah bawah.

Wiwi memilih aglaonema kelas menengah. Di dalam greenhouse seluas 2.000 m2 pengusaha bengkel itu merawat 500 calon indukan venus. Induk dud unyamanee dan legacy menyusul disetok. ‘Saya pilih yang di kisaran harga jual Rp250.000-Rp500.000 per pot,’ katanya. Jenis dengan harga di bawah Rp100.000/pot tidak dilirik karena pengusahaannya membutuhkan lahan luas.

Pilihan sama diambil Aryka Mai Tridasa di Depok, Jawa Barat. Tanpa ragu mantan manajer riset di perusahaan rekayasa agribisnis itu mengalihkan usaha pembibitan tanaman penghijauan dan buah-buahan ke aglaonema.

Ia memperbanyak red peacock, red jamboo, happiness, dan miss thailand dengan harga Rp500.000-Rp1,5-juta per pot. ‘Biasanya di dunia hobiis para pemain membidik pasar atas dan bawah. Di segmen menengah pemain kosong,’ tuturnya. Pilihannya tepat. Setiap bulan sejak pertengahan 2007 omzet didapat Rp25-juta-Rp65-juta per bulan.

Pasar terjaga

Sejatinya, spesialisasi seperti itu dilakukan pekebun Thailand sejak 3-4 tahun silam. Di Nonthaburi, Satid Srimaarksook membuka ‘pabrik’ dengan 100.000 indukan pride of sumatera. Prapanpong Tangpit fokus memperbanyak snow white. Kabar terakhir widuri dan tiara mulai diperbanyak secara massal oleh Pairoj Tianchai (baca: Kabar dari Negeri Siam, hal 28).

Menurut Greg, spesialisasi menguntungkan masa depan pasar sang ratu. ‘Persaingan tidak akan terlalu ketat karena setiap kultivar mempunyai pasar sendiri. Pemain yang berkonsentrasi pada pasar menengah dan bawah tak akan bertabrakan dengan pemain yang fokus untuk kalangan atas. Karena pasar terjaga, banting harga pun tak akan terjadi,’ tutur pakar botani alumnus University of Birmingham itu.

Dengan spesialisasi, menurut Songgo, pemain baru mudah memilih segmen yang dibidik. Bila punya modal kuat dengan lahan terbatas, layak dipilih 7 aglaonema papan atas seperti harlequin, sexy pink, hot lady, tiara, widuri, sinta, dan srikandi. Sedangkan bila modal kuat dengan lahan luas, maka jenis massal seperti pride of sumatera, venus, lady valentine, heng heng, dan kelompok lipstik sangat menjanjikan. Pasar jenis masal masih luas karena kecepatan perbanyakan tidak sebanding dengan permintaan.

Terbukti, Syarifudin, pedagang di Meruya, Jakarta Barat, mendapat order 1.000 pot pride of sumatera dan butterfly dari Batu, Malang, Manado, dan Padang. Namun, mantan makelar tanah itu hanya sanggup memasok 500 pot.

Geliat ke-2

Banyak faktor bisnis sri rejeki itu kembali mencorong. ‘Anthurium pesaing terberat aglaonema harganya sudah tidak terjangkau,’ tutur Handry Chuhairy, pemilik nurseri Han’s Garden di Tangerang. Jagoan lain yang tengah naik daun, sansevieria, peredaran masih terbatas. Maklum, lidah jin itu baru ngetren sejak 4 bulan terakhir.

Bandingkan dengan bisnis aglaonema yang pernah melaju pada 2004-2006. Ketika itu hobiis dan kolektor bermunculan seperti jamur di musim hujan. Laju impor aglaonema dari negeri Siam bak air bah. Sayang, pada 2007 sang ratu seperti tergilas oleh kharisma anthurium. ‘Jadi, ini geliat ke-2 sang ratu,’ ujar Handry.

Sang ratu mudah ‘bangkit’ karena sejatinya geliat bisnis tidak sepenuhnya terpengaruh anthurium. Jenis dengan harga ratusan ribu rupiah tetap diminta. Makanya Uni Pohan dan Rita Alfian di Jakarta Timur konsisten mengikuti pameran setiap 2-3 bulan. ‘Pasar tetap bergerak meski kami sempat melayani permintaan anthurium,’ ujar Rita. Hanya kelas atas yang mandek.

Indikasi geliat ke-2 terlihat dari maraknya kembali kegiatan impor. Sejak 2 bulan terakhir Edy Sutiyoso, importir di Surabaya, kebanjiran pesanan 20.000 pot aglaonema. Yang diminta heng heng, pride of sumatera, paramroy, dan butterfly. ‘Padahal, saat anthurium booming penjualan hanya 2.000 pot per bulan,’ ujarnya.

Volume impor Hari Setiawan meningkat 50% ketimbang 2-3 tahun silam. Siam pearl, venus, dan snow white impor langsung dilempar ke pasar. Karim, pemain di Dumai, Riau pun mengatakan laju impor kembali bergerak.

Penelusuran wartawan Trubus, Nesia Artdiyasa, di Jawa Tengah, pameran tanaman hias kembali diramaikan penjualan aglaonema impor. Pujianto, pemilik nurseri Fira Agrobis di Semarang, menyebutkan pasar aglaonema pada Desember 2007 setara dengan sebelum tren anthurium. Ia menyebut angka penjualan 5.000 pot aglaonema dengan laba Rp5.000 per pot.

Kemestian memberi nama pada aglaonema menjadi ciri geliat ke-2. ‘Tanpa dilahirkan dan diberi nama, sebagus apa pun tanaman tidak akan diterima pasar,’ kata Parman, pemilik nurseri Gayatri di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Itu terkait dengan karakter pembeli di tanahair yang mengoleksi tanaman sebagai prestise. Aglaonema tanpa nama tak bisa dibanggakan. Pemberian nama lazimnya berdampak pada penjualan.

Banyak risiko

Namun, peluang yang terbentang itu mendatangkan banyak risiko. Dr Haryman, kolektor di Tangerang, mesti merelakan 20 jenis asal Thailand senilai Rp30-juta mati sia-sia. ‘Ongkos belajar (merawat, red) sangat mahal,’ tutur alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti itu. Wiwi hanya bisa mengelus dada waktu treasure of siam yang dibeli Rp17,5-juta-Rp20-juta per pot berjumlah 5 daun harganya melorot. Dalam 3-4 bulan harganya tinggal Rp3-juta per pot dengan jumlah daun sama. Musababnya, tanaman yang semula disebut berjumlah terbatas itu ternyata stoknya ribuan.

Fitriyanti Sitepu di Medan juga menelan pil pahit. Selama 2 tahun tagihan senilai Rp68-juta tidak dilunasi pelanggan. Mantan karyawati bank itu mesti terbang ke Pulau Jawa hanya untuk menagih piutang. Namun, apa lacur, hingga saat ini uang yang tersangkut masih Rp24-juta. Investor baru yang kesulitan menjual tanaman pun tak sedikit. Musababnya, mereka tidak punya jejaring.

Pekebun pun mesti bijak memilih jenis yang dikembangkan. Salah memilih, harapan untung menjadi buntung. Wiwi pernah berharap pada juwita. Namun, setiap kali daun ke-11 muncul, daun tertua rontok. ‘Jadi memang harus dipilih tanaman yang prospektif,’ kata Wiwi. Tiara disebut sebagai salah satu tanaman yang bakal melegenda seperti pride of sumatera.

Bila memilih jadi pedagang atau importir barang mesti cepat habis. Bila tanaman tertahan 2-3 minggu dan empunya tidak bisa merawat, tanaman rusak. Satu daun rontok berarti kerugian. Kendala lain pencurian. Banyak pekebun menginvestasikan ratusan juta rupiah hanya untuk membangun ‘kerangkeng’ dan memasang layar pemantau. Karena mahal, ‘Banyak calon pekebun mundur berinvestasi,’ kata Gunawan Widjaja.

Orang baru

Toh, serentet batu sandungan itu tak menyurutkan sang ratu untuk bangkit. ‘Sampai sekarang masih banyak pemain baru muncul,’ ujar Ansori, pemain di Pondoklabu, Jakarta Selatan. Seorang kenalan Ansori yang kepala Sekolah Menengah Atas baru setengah tahun terakhir bermain aglaonema. Omzet pada Desember 2007 mencapai 24-juta. Wajah baru pun kerap ditemui Uni di ajang pameran. Di antara mereka, datang dari luar Jawa.

Para pedagang masih menanti pasokan dari hasil perbanyakan lokal. ‘Boleh saja importir mendatangkan, asal jenis baru. Sementara jenis yang sudah ada diperbanyak sendiri,’ tutur Ansori. Tujuannya supaya harga lebih terkontrol. Sementara kehadiran jenis baru memperpanjang umur pasar aglaonema.

Para pemain pun tak gentar dengan perbanyakan jenis lokal di Thailand. ‘Kita sudah bisa berhitung. Jika mereka bawa tanaman pada 2005, dalam 2 tahun paling diperbanyak hingga 500 pohon. Itu pun tidak bisa langsung membanjiri pasar dengan harga murah karena di tanahair para pemain juga mulai memperbanyak,’ papar Wiwi. Artinya peluang terbentang untuk ditangkap. (Destika Cahyana/Peliput: Andretha Helmina, Evy Syariefa, Imam Wiguna, Lani Marliani, Lastioro Anmi Tambunan, Nesia Artdiyasa, Vina Fitriani, Rosy Nur Apriyanti, dan Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img