Friday, December 2, 2022

Burung kicauan: Aral Tiada Akhir

Rekomendasi

Memelihara burung berkicau penuh hambatan.

Suwarno menolak Rp40-juta ketika seorang pehobi berhasrat membeli Misteri, anis merah koleksinya. Burung berkicau itu acap menang di berbagai kontes adu merdu. Apalagi umurnya masih tergolong muda, 4 tahun. Anis merah siap kontes hingga berumur 10 tahun, bahkan belasan. Artinya Misteri masih punya waktu panjang untuk mengikuti kontes. Itulah sebabnya pehobi di Kotamadya Depok, Provinsi Jawa Barat, itu menolak tawaran Rp40-juta.
Misteri memang penuh teka-teki. Beberapa hari usai penawaran itu, pada pada November 2012 Misteri mati mendadak. Penyebabnya? “Tak ada tanda-tanda sebelumnya,” ujar Suwarno. Misteri mati membawa misteri. Meski demikian Suwarno tak menyesali kepergian Misteri. Murai batu koleksi  Herjohan, pehobi burung di Kotamadya Jambi, Provinsi Jambi, bernasib serupa. Tikus menerobos sangkar muraibatu yang tergantung di ruang tamu. Keesokan hari, Herjohan mendapati murai Copychus malabaricus itu terkoyak di dalam sangkar.

Stres

Memelihara burung berkicau memang bukan hanya kisah manis berupa menang kontes, lantas harga burung melejit ratusan juta rupiah. Para pehobi juga menghadapi beragam hambatan. Lihat saja Iwan Petrus di Cawang, Jakarta Timur. Sangkar burung yang ia gantung di ketinggian 3 meter jatuh. Sangkuriang, nama kacer di dalam sangkar yang jatuh itu, pun stres berkepanjangan. “Sangkuriang jadi pasif dan malas makan. Ngocehnya juga jarang,” ujar Iwan.

drh Dharmojono, 60% burungyang sakit diakibatkanmanajemen pemeliharaanyang buruk
drh Dharmojono, 60% burung
yang sakit diakibatkan
manajemen pemeliharaan
yang buruk

Padahal, sebelumnya Sangkuriang tergolong burung yang rajin berkicau. Kacer berumur 2 tahun itu kerap mengikuti kontes di Jakarta, Yogyakarta, dan Lampung. Menurut drh Dharmojono DVM, di Pasarminggu, Jakarta Selatan, burung memang rentan stres. Itu karena burung memiliki detak jantung cepat, yakni 200—250 per menit, suhu tubuh  tinggi, 400C, serta organ dalam seperti paru-paru, lambung, dan limpa yang sederhana.

Itulah sebabnya burung menjadi sensitif dan mudah stres. Alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor itu menjelaskan, dalam kondisi stres, suhu tubuh burung mudah turun, detak jantung dan pernapasan mendadak tidak beraturan, serta gerakan peristaltik usus meningkat. Akibatnya burung mengalami diare, berkemih berlebihan, dan kehilangan cairan tubuh  alias dehidrasi.

“Jika tidak kuat, burung bisa mati,” papar dokter hewan yang berpraktik sejak 1975 itu. Untuk mengatasi stres, Iwan memberikan 3 tetes vitamin B12 per hari. Ia juga memberikan obat antistres 3 kali dalam sepekan. Setelah kondisi burung itu membaik, Iwan Petrus menjual  kacer dengan harga amat murah, yakni Rp500.000.  Padahal, jika kondisi sehat, harga kacer kontes bisa lebih dari  Rp1-juta. Bahkan, kacer-kacer juara mencapai Rp40-juta.

Lumpuh tiba-tiba pada kenari dapat disebabkan karena kekurangan kalium
Lumpuh tiba-tiba pada kenari dapat disebabkan karena kekurangan kalium

Lumpuh

Jatuh dari tiang gantangan memang berdampak fatal.  Di sebuah kontes di lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada 2012 kenari milik Tonang jatuh dari ketinggian  5 meter di atas permukaan tanah. Setelah kejadian itu, kenari itu tak mampu bertengger. “Tiba-tiba jadi lumpuh, padahal sebelumnya baik-baik saja,” kata  pehobi di Cawang, Jakarta Timur, itu.

Semula kenari yang diperoleh dari Yogyakarta itu merupakan burung kontes. Hampir dua pekan sekali ia  mengikuti kontes. Beberapa prestasinya peringkat ke-3.  Pehobi lain di Surabaya, Jawa Timur, Ufuk Saputra, menghadapi problem serupa. Lovebird klangenannya lumpuh. Ia menempuh berbagai cara seperti memberi terapi lampu hangat, balsem, dan obat antilumpuh selama sebulan untuk mengatasinya. Namun, cara itu tak juga membuahkan hasil.

Dharmojono menduga, kelumpuhan secara tiba-tiba itu akibat burung kekurangan kalium. Untuk mengatasinya, dokter hewan itu   menganjurkan  agar pehobi memberikan pakan lengkap nutrisi. Menurut Dharmojono, kekurangan nutrisi, seperti vitamin A, menyebabkan sakit mata. Kejadian itu menimpa salah satu lovebird koleksi Ufuk. “Penularannya sangat cepat, hanya dalam satu hari,” ujar Ufuk.

Oleh karena itu, alumnus Master of Business Adsministration di Amerika Serikat itu memisahkan lovebird sakit dari yang sehat.  Menurut Dharmojono, penyebab lain sakit mata bisa juga karena angin. Ufuk memang meletakkan sangkar lovebird di halaman rumah tanpa memberikan dinding penghalang angin. Agar terhindar dari pengaruh buruk angin, Dharmojono menyarankan menempatkan sangkar dalam tempat yang terlindung dan menutup sangkar dengan kain.

Kacer, salah satu burung yang mudah stres
Kacer, salah satu burung yang mudah stres

Penanganan buruk

Untuk mengatasi sakit mata itu, Ufuk memberikan obat mata berbahan aktif deksametason, neomisina, dan polimiksina. Dosis sesuai anjuran di kemasan. “Penanganan yang terlambat menyebabkan mata bernanah, hingga berujung pada kematian,” ujar Ufuk. Kesalahan memberikan pakan juga berpengaruh pada kesehatan burung. Pehobi di Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat,  Abdul Mukid, pernah memberikan apel tak segar kepada Manik—lovebird klangenannya.

Dampaknya burung muntah dan diare. “Bulunya jadi mekar dan tidak bisa nangkring, hanya di bawah dan jarang berbunyi,” ujarnya. Menurut Dharmojono, diare menunjukkan reaksi tubuh untuk mengeluarkan racun. Untuk mengatasinya, Dharmojono menyarankan agar pehobi memberikan vitamin C dan B kompleks.  Larutkan satu kapsul vitamin dalam 1 liter air dan berikan 100 ml. Frekuensi pemberian  2 kali sehari, pada pagi dan sore. Beruntung Mukid segera memberikan obat antiinfeksi atas saran seorang rekan, sehingga Manik terselamatkan.

Mukid memberikan obat gangguan pencernaan dengan mengencerkan 1 kapsul  dalam 200 ml air dan menggantinya setiap hari. Setelah 3 hari konsumsi, lovebird berumur 11 bulan itu berangsur membaik. Pada hari ke-6 pascakonsumsi, Manik menyabet juara pertama pada latihan bersama yang diselenggarakan di Graha Prima, Bekasi, Jawa Barat. Dharmojono menuturkan, manajemen pemeliharaan yang buruk sangat mempengaruhi kesehatan burung. “Burung yang sakit 60% disebabkan manajemen yang buruk,” ujarnya. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Lutfi Kurniawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img