Thursday, August 11, 2022

Belajar dari Cakram

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Gazza milik Dede dari Brebes, salah satu burung jawara yang memiliki irama dan lagu bervariasi Pehobi mulai melirik cakram suara burung berkicau.

Asep Hermawan girang saat anis merah miliknya yang mogok berkicau selama 10 bulan kembali gacor pada 2013. Selama Maret 2013 sang anis meraih 6 juara di setiap latihan prestasi di Malang, Jawa Timur. Burung seharga Rp800.000 itu ditawar pehobi lain Rp5-juta. “Kemungkinan anis merah itu stres sehingga mogok berkicau,” kata pehobi kelahiran Bandung, Jawa Barat, itu.

Pengalaman serupa juga pernah menimpa penangkar cucakrawa di Jakarta Barat, H Safrudin pada 2008. Saat itu 5 anak cucakrawa berumur 5 hari sulit bersuara. Namun, belakangan kelima anakan cucakrawa itu bersuara super ropel. Itu tingkatan suara paling bagus di cucakrawa. Keruan saja banyak maniak burung berkicau yang menawar burung itu. Salah satu anakan cucakrawa itu laku terjual Rp25-juta.

 

Modern

Apa resep Asep Hermawan dan H Safrudin membuat burung berkicau mereka rajin berbunyi? Jawabannya mereka memanfaatkan cakram padat atau compact disc (CD) berisi suara burung berkicau. Asep memperdengarkan cakram padat berisi suara anis merah jawara kepada burung andalannya. Pun H Safrudin yang memanfaatkan kicauan cucakrawa kampiun di cakram padat. “Suara super ropel cucakrawa saya berasal dari cakram padat,” ucap Safrudin.

Salah satu pembuat cakram padat burung berkicau adalah Irvan Sadewa di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Ia mulai membuat cakram padat suara burung berkicau sejak 2005. Asep dan Safrudin adalah pehobi yang memakai cakram padat suara burung yang dibikin Irvan. Menurut Irvan sebelum merekam suara burung, ia mesti memilih burung sesuai standar kontes. Burung standar kontes bersuara bersih dan lantang. Untuk keperluan itu ia mendata 160 burung jenis selama 3 tahun untuk direkam suaranya. “Burung kicauan itu mayoritas milik teman di komunitas dan beberapa milik sendiri,” kata Irvan.

Setelah menemukan burung “biduan” Irvan menyediakan alat perekam standar studio yang terdiri atas mikrofon, sound card, speaker monitor, preamp microphone, wave recording, dan mixer. Perekaman suara burung dapat berlangsung seharian penuh. Harap mafhum burung mengeluarkan suara terbaik pada waktu berbeda yang sulit ditebak.

Begitu proses merekam suara burung selesai, Irvan menyunting suara itu di komputer. Tujuan penyuntingan itu untuk menghilangkan suara lain yang bukan suara burung yang direkam. Proses itu bisa berlangsung selama setengah hari sampai 15 hari sebelum suara itu disimpan dalam cakram padat.

Untuk mengetahui kualitas suara, Irvan menguji coba produknya itu ke komunitas burung. Ia memanfaatkan tanggapan mereka untuk memperbaiki kualitas suara. Meski awalnya respons pehobi tidak terlalu bagus, tapi belakangan mulai banyak yang tertarik mencoba.  Ketertarikan pehobi untuk mencoba lantaran kebiasaannya memaster burung dengan burung asli menelan biaya besar.

Wahyu Triyono, misalnya, pehobi di Kalisari, Pasarrebo, Jakarta Timur, bisa menggunakan 8 burung master seperti celilin, lovebird, dan kapastembak. “Untuk seluruh burung master saya mengeluarkan biaya Rp5-juta,” kata Wahyu. Hasilnya tidak jauh berbeda bila menggunakan cakram padat.

 

Anakan burung dari indukan berkualitas lebih mudah dimasterDoktrin

Menurut Herjohan memaster burung sama seperti mendoktrin. “Burung merekam dan meniru suara master jika ia rutin mendengarkan suara master yang sesuai tipenya,” ujar pehobi asal Jambi itu. Herjohan mengatakan terdapat 2 cara memaster burung yaitu dengan suara burung alami atau mendengar rekaman. Lalu mana yang lebih bagus? Menurut Irvan keduanya sama-sama punya keunggulan dan kelemahan.

Jika menggunakan burung asli sebagai master, pehobi juga menikmati keindahan sosoknya. “Bila dengan cakram tidak ada kendala cuaca atau hal lain yang membuat burung sulit gacor serta bisa mengulang suara yang diinginkan dengan mudah,” ujar Irvan. Kelemahan cakram adalah menuntut speaker dan player yang berkualitas tinggi agar tidak ada gangguan suara yang mempengaruhi kicauan burung yang dimaster.

Menurut dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, drh Slamet Rahardjo MPH burung mempunyai kemampuan meniru suara burung lain dari lingkungan, suara burung liar atau rekaman. “Pemasteran burung sebaiknya dilakukan saat burung mulai belajar berkicau. Sebab saat itu burung belum mempunyai bunyi yang teratur,” ujarnya.

Proses pemasteran biasanya berjalan lebih cepat jika si burung yang dimaster berasal dari induk bersuara bagus. Sebagai contoh pengalaman Wahyu Triyono saat memaster kacer. “Sampai si burung ingat prosesnya 1 bulan,” kata Wahyu. Sementara burung yang tidak berasal dari induk yang bersuara bagus butuh 4 bulan.

Irvan menuturkan saat ini ia sudah menghasilkan 11 cakram suara burung berkicau seperti muraibatu, anis merah, dan cucakrawa. “Saya bisa menjual rata-rata 400—500 keping seharga Rp70.000—Rp150.000 per buah ke seluruh wilayah Indonesia,” kata Irvan. Itu volume penjualan per bulan sekaligus bukti cakram padat burung berkicau tidak kalah dengan suara burung master asli. Ia menyarankan agar menggunakan CD pada burung berumur 28—90 hari agar maksimal. (Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img