Monday, November 28, 2022

Belimbing Wuluh: Selemeng Alih Rupa

Rekomendasi

Alih-alih minum teh hitam atau kopi, Prabu—bukan nama sebenarnya—malah memilih secangkir teh daun belimbing wuluh.

Setiap pagi atau sore ia mencelupkan satu saset teh daun belimbing wuluh Averrhoa bilimbi dalam segelas air dan meminumnya selagi masih hangat. Ritual itu sudah Ia lakukan selama tiga tahun berturut-turut. Kebiasaan minum teh Camellia sinensis yang jamak dijual di pasar ditinggalkan demi mengobati penyakit rematik yang dideritanya. Rutinitas tiga tahun itu menghilangkan rasa nyeri yang menyerang pinggul pria 40 tahun itu.

Bagi pemilik rumah makan di Jakarta Selatan itu, teh celup belimbing wuluh pilihan paling praktis. Barangnya mudah diperoleh karena sudah ada produsen yang menyediakan. Cara pakainya praktis dan rasanya enak. Teh yang diminumnya itu campuran daun belimbing wuluh kering dengan daun teh hijau Camellia sinensis. Dengan kombinasi itu rasa rebusan daun belimbing wuluh yang semula pahit berubah menjadi citarasa teh.

Olah serbuk

Prabu mau mengonsumsi teh daun belimbing wuluh karena yakin khasiatnya ampuh untuk mengatasi rematik. Keyakinan itu memang beralasan. Daun belimbing wuluh sejak zaman nenek moyang sudah dipakai untuk mengobati encok. Purin penyebab asam urat, salah satu jenis rematik yang saat ini kian banyak penderitanya, juga bisa luruh oleh daun belimbing wuluh.

Kita juga dapat membuat sendiri teh daun belimbing wuluh. Mula-mula sortir daun segar selemeng—nama belimbing wuluh di Gayo, Aceh. Bentuk daun utuh: tidak ada lubang, penyakit dan bekas kena hama. Daun-daun segar itu dicuci lalu keringkan dan cacah halus. Serbuk kering itu selanjutnya diaduk dengan teh hijau. PT Liza Herbal International, produsen herbal, menggunakan kompisisi 16 gram serbuk daun belimbing dicampur 44 gram teh hijau.

Komposisi teh lebih banyak dibandingkan daun belimbing wuluh karena sifatnya lebih ringan. “Kalau takarannya sama nanti tidak akan tercampur sempurna,” kata Ersi Herlina STP, dari bagian riset dan pengembangan PT Liza Herbal International. Lagipula komposisi itu menciptakan citarasa paling pas saat diseduh yang digemari konsumen. Selanjutnya serbuk kombinasi itu ditembak sinar gamma 10 kilogray selama 4 jam agar spora cendawan mati. Dengan demikian masa simpan bisa sampai 2 tahun. Tanpa perlakuan tersebut, daya simpan hanya setahun.

Herbalis di Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati, mengolah daun, bunga, dan buah belimbing wuluh menjadi bentuk serbuk. Ia memilih daun di bagian tengah—tidak terlalu tua dan bukan pucuk. Buah yang dipakai harus sudah matang, sementara bunganya wajib sedang mekar. Dari setiap 1 kg daun, bunga, dan buah segar Valentina memperoleh masing-masing 10 gram serbuk kering. Sudah 5 tahun Valentina meresepkan serbuk Averrhoa bilimbi itu. Daun untuk kanker usus dan hipertensi; buah dan bunga untuk obat batuk. Pasien tinggal menyeduh serbuk itu.

Demi alasan kepraktisan pula Lina Mardiana, herbalis di Yogyakarta, mengubah daun belimbing wuluh menjadi tablet. Pada prosesnya Lina menambahkan madu putih, fungsinya sebagai perekat sebelum dicetak jadi tablet. “Kalau menggunakan madu cokelat nanti penampilan tablet kurang bagus,” kata Lina. Ia selalu memilih daun yang berada di tengah pohon—tidak terlalu tua atau muda—karena memiliki kandungan senyawa paling maksimal. Menurut Prof Dr Sukrasno MS, Farmakolog dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, daun yang berada pada barisan 1—3 dari pucuk memiliki kandungan senyawa paling maksimal.

Tablet—butiran

Olahan lain berupa tablet effervescent yang prosesnya lebih rumit. Iffa Luthfiya Hidayati dari Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, berhasil membuat tablet daun belimbing wuluh yang larut dalam air itu. Tablet larut dalam waktu 4—5 menit dengan menghasilkan gas karbondioksida sebagai hasil reaksi kimia bahan penyusunnya.

Mula-mula Iffa mengeringkan daun dengan alat pengering bersuhu 40oC selama 4 jam. Kemudian giling dan ayak menggunakan ayakan berukuran

50 mesh. Lalu bubuk daun diekstraksi menggunakan pelarut etil alkohol 70% secara berulang. Hasil ekstraksi disaring dan diuapkan hingga diperoleh ekstraksi kental. Ekstrak kental itu diberi bahan pengisi dan dikeringkan untuk memperoleh ekstrak kering.

Ekstrak kering itu digranulasi—mengubah serbuk menjadi bulatan dalam bentuk beraturan, disebut granul-dengan mencampurkan laktosa, aspartam, dan kalium bikarbonat pada pencampuran pertama. Lalu diteruskan dengan pengayakan, pengeringan dan pengayakan kedua. Selanjutnya ditambahkan asam sitrat dan asam tartarat sebelum diubah menjadi granul kering, granul effervescent, pencetakan, dan akhirnya jadi tablet effervescent.

Menurut Prof Dr Elin Yulinah Sukandar, ahli Farmasi dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, tubuh lebih mudah menyerap herbal hasil ekstraksi karena ukurannya lebih kecil. Toh, dengan teknik olah sederhana pun—dalam bentuk air seduhan, serbuk, dan kapsul—manfaat daun selemeng tetap dapat diraih. Apapun bentuk olahannya, yang penting khasiatnya dapat dipetik. (Pressi Hapsari Fadlilah/Peliput : Bondan Setyawan)

525-Hal-21-1

525-Hal-21-2

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img