Saturday, August 13, 2022

Benahi Sawah Jadi Organik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tak ada cacing yang mau hidup di sana. Maklum setiap musim tanam Yana menambah npk supaya produksi meningkat. Apa lacur gabah yang dituai tak beranjak dari 1,8 ton. Padahal waktu pertama kali ditanami pada 1995 produksi 2,1 ton. Sejak Yana menanam padi organik kisah sedih itu hanya kenangan.

Perubahan itu terjadi pada 2003 saat Yana bertemu Uu Saeful Bahri, penganjur pertanian organik di Tasikmalaya. Ketua Gabungan Kelompok Tani Simpatik itu menyarankan Yana mengubah cara bertani. “Bila tanah terus diberi pupuk Urea, SP36, dan KCl tanpa pupuk organik, konsistensinya (daya tahan tanah terhadap gaya dari luar, red) menjadi keras. Di tanah keras mau menambah pupuk kimia sintetis berapa pun hasil panen tak bakal meningkat,” kata Yana menirukan ucapan Uu. Saat itu setiap musim tanam Yana membenamkan 100 kg Urea, 50 kg SP36, dan 50 kg KCl buat sawah yang tak sampai setengah hektar. Rekomendasi pemupukan untuk lahan 1 ha yang subur saja hanya 200 kg Urea, 50 kg SP36, dan 50 kg KCl.

Jika Yana mau mengubah cara tanam, ia harus rela hasil panen menurun pada 3 musim tanam pertama. Itu karena tanah dalam kondisi pemulihan. Yana menyanggupi. Uu lantas meresepkan teknik bertani padi organik yang dipadukan metode System of Rice Intensification alias SRI. Metode yang disebut terakhir ditemukan Fr Henri de Laulanie, pastur berkebangsaan Perancis yang bermukim di Madagaskar (baca: Prof Norman Uphoff PhD, Siapa Saja Dapat Terapkan SRI, Trubus November 2009).

Yana lalu menyehatkan tanah dengan pupuk organik berupa pupuk kandang yang difermentasi dengan mikroba starter. Setiap bata (1 bata = 14 m2) ditaburkan 5—10 kg pupuk kandang fermentasi tergantung kondisi lahan. Itu setara dengan 3,5—7 ton per ha. “Pupuk kandang fermentasi ditabur atau dicampur dengan lapisan tanah bajak sedalam 20 cm,” tutur kelahiran Tasikmalaya 42 tahun silam itu. Di dalam pupuk organik itu terkandung pula bakteri penambat nitrogen, pelarut fosfat, dan pelarut kalium. Yana juga menanam azolla. Tanaman paku itu dapat bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen Anabaena azollae. Tanaman azolla yang mati juga berperan sebagai sumber bahan organik.

Tiga koma lima

Menurut Prof Iswandi Anas, guru besar Bioteknologi Tanah di Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, kombinasi penanaman padi organik dengan SRI—yang dapat menghemat pemakaian air dan bibit—mampu mendongkrak produksi padi organik hingga melebihi hasil padi dengan penanaman konvensional. Pantas kini dari lahan 4.200 m2 Yana menuai 3,5 ton gabah kering giling atau setara 8 ton per ha. Bahkan, padi organik dari sawah Yana sudah melanglangbuana ke Amerika Serikat karena lolos uji sertifikasi yang dikeluarkan IMO Swiss—lembaga sertifikasi produk organik.

“Pada kasus ini pupuk kandang fermentasi berperan sebagai amelioran (pembenah, red) tanah,” kata Prof Dr Dedik Budianta, dari Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan. Maksudnya, pupuk kandang membenahi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah yang rusak karena pemberian pupuk kimia sintetis terus menerus tanpa diimbangi bahan organik.

Dengan pupuk kandang sifat fisik seperti konsistensi tanah menjadi lunak kembali karena kemampuan tanah memegang air meningkat. Pasokan hara lengkap—makro dan mikro—dari pupuk kandang meningkatkan sifat kimia tanah. Sifat biologi tanah pun membaik seiring hadirnya mikro dan mesoorganisme tanah. Lazimnya lahan kembali ‘sehat’ setelah 1,5—3 tahun. Pupuk organik juga membuat residu logam berat seperti kadmium (terdapat pada campuran pupuk sintetis kimia, red) dan pestisida mengendap atau terurai sehingga tak diserap tanaman.

Menurut Prof Dr Ir Rudi Priyadi MS, pengajar agronomi di Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, pupuk kandang yang telah terfermentasi lebih cepat memulihkan lahan sawah—yang belasan tahun diolah secara konvensional—karena telah mengalami perombakan yang sempurna. Unsur hara siap diserap tanaman. “Bila pupuk kandang belum matang, proses penguraian terjadi di lahan dan berbahaya buat tanaman,” katanya. Pasalnya, perombakan bahan organik membebaskan gas karbondioksida dan metan yang panas.

Saringan

Selain ‘menyehatkan’ lahan, Yana—bersama 2.333 pekebun padi organik lain—juga mencegah cemaran pupuk kimia sintetis dan pestisida dari lahan sekitar yang masih menggunakan sistem konvensional masuk ke areal penanaman organik. “Memang idealnya sawah organik harus di daerah hulu atau terisolir dengan sumber air yang bersih. Namun, sulit mencari lahan seperti itu saat ini. Yang paling mungkin ialah dengan mencegah cemaran masuk ke sawah organik,” kata Emily Sutanto, eksportir beras organik.

Yana menyaring air sebelum masuk ke sawahnya dengan membuat petakan penampung berukuran 1 m x 1 m. Di petakan itulah ditanam eceng gondok Eichornia crassipes yang berperan sebagai filter biologis. “Akar eceng gondok mampu menyerap logam berat dan pestisida,” tutur Rudi. Riset Dr Hasim DEA, dosen Biokimia dan Toksikologi FMIPA IPB menyebut 3 rumpun eceng gondok dapat menurunkan logam besi hingga 74,47% dan timbal 98,7%. Eceng gondok sering kali digunakan untuk menghilangkan logam berat yang terkandung di dalam air limbah buangan pabrik.

Saringan alami juga dibuat di pematang sawah. “Pematang ditanami tanaman kacang-kacangan,” kata Emily. Dengan begitu cemaran yang terlarut dari air sawah konvensional terserap akar tanaman yang tumbuh di galengan. Dedik juga menyarankan galengan sawah diperlebar agar residu logam berat atau pupuk sintetis kima tertahan di tanah pematang. Maklum, tanah—terutama liat—memiliki kemampuan menyerap dan menjerap senyawa kimia. Dengan teknik itu, tanah rusak dan berada di tengah penanaman padi konvensional dapat dibenahi untuk menghasilkan padi organik yang diakui dunia internasional. (Destika Cahyana/Peliput: Imam Wiguna, Faiz Yajri, dan Nesia Artdiyasa)

Prof Dr Ir Rudi Priyadi MS, eceng gondok berperan sebagai filter biologis

Di sawah organik azolla yang dapat bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen

Anabaena azollae tumbuh subur

Foto-foto: Faiz Yajri & Imam Wiguna

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img