Pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang menghasilkan.

Teddy Soelistyo selalu menyimpan kekaguman yang tak kunjung sudah setiap kali melihat tanaman yang tengah berbuah lebat. Ia takjub menyaksikan buah yang bergelayut di cabang-cabang pohon. “Melihat mangga berbuah di pohon menjadi kebahagian tersendiri bagi saya,” kata Teddy. Itulah sebabnya setiap kali bepergian ke mancanegara seperti Portugal, Taiwan, dan Thailand, Teddy selalu menenteng bibit tanaman sebagai buah tangan.

Pantas bila koleksi Teddy Soelistyo amat beragam, 200—300 jenis tanaman buah-buahan dan puluhan jenis tanaman hias. Dari sekian banyak koleksi Teddy, yang terbanyak jenis mangga Mangifera indica. “Sebanyak 80% tanaman di kebun saya adalah varietas baru dan unik. Sebagian besar introduksi dari luar negeri. Dari jumlah itu 50% di antaranya adalah aneka jenis mangga,” katanya.
Jadi bisnis
Kini Teddy mengoleksi setidaknya 100 jenis mangga. Suami Lie Devies itu mengatakan, “Hampir 80% koleksi mangga saya berasal dari luar negeri, sisanya dalam negeri.” Contohnya yuwen, kim muang, red dungon, dan red ivory. Ia berburu jenis mangga di luar negeri karena variannya lebih banyak. Mangga di dalam negeri sebagian besar jenis unggul lokal seperti harum manis dan gedong gincu.

Jenis tanaman lain yang ia koleksi adalah jaboticaba Plinia cauliflora, miracle fruit Synsepalum dulcificum, dan mamey sapote Pouteria sapota. Teddy menempatkan semua koleksi itu di kebun seluas 2.500 m² di Desa Pengasinan, Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Untuk merawat seluruh koleksi tanamannya itu ia merogoh biaya rata-rata Rp2-juta—Rp3-juta per bulan.
“Karena hobi, keluar biaya berapa pun tidak apa-apa asalkan hati senang,” kata Teddy. Banyak pehobi tanaman buah dan hias yang berminat membeli bibit dari beberapa koleksi tanaman milik Teddy. Sejak itulah ia mulai memperbanyak tanaman koleksi yang paling banyak diminati. “Saya juga tidak bisa kalau bekerja di tempat orang lain. Saya lebih tertarik menciptakan lapangan pekerjaan,” kata pria asal Kudus, Jawa Tengah, itu.
Pada 2011 Teddy mendirikan Nurseri Pohon Buah. Ia memibidik para pehobi tanaman seluruh Indonesia. “Kalau bersaing dengan sentra pembibitan tanaman buah seperti di daerah Indramayu dan Majalengka, tentu sulit. Oleh karena itu saya membidik segmen yang lebih khusus,” katanya. Teddy menuturkan pasar pehobi tak kalah tinggi dibandingkan pekebun. “Pehobi tanaman di Indonesia terkenal royal. Mereka rela menggelontorkan dana banyak hanya untuk menyalurkan hobinya,” kata Teddy.
Tren

Menurut Teddy kelengkapan produk menjadi keunggulan nurseri miliknya. “Konsepnya seperti pasar swalayan yang menyediakan berbagai jenis barang. Kini koleksi tanaman di kebun saya mencapai 400 jenis tanaman buah dan 100 jenis tanaman hias,” katanya. Meski luas kebun milik Teddy relatif sempit, tapi ia punya cara agar mampu menampung seluruh jenis tanaman buahnya.
Rahasianya adalah metode sambung pucuk. Artinya, dalam satu pohon induk Teddy menyambung pucuk hingga 4—10 jenis varietas yang berbeda. Ia menerapkan metode itu pada mangga. Menurut Teddy teknik ini sangat efektif bagi para pehobi yang lahannya terbatas. “Jika memiliki 10 bibit jenis mangga berbeda lalu ditanam dengan jarak tanam 2 m x 3 m, perlu lahan minimal 60 m².
“Dengan metode sambung pucuk lebih irit tempat 4—10 kali lipat,” kata pria yang juga berprofesi sebagai pialang itu. Metode itu bisa diterapkan pada tanaman lain, seperti lengkeng dan jambu air. Teddy juga menjamin keaslian bibit tanaman buah produksinya sesuai dengan namanya. Beberapa pehobi sering kali kecewa karena bibit tanaman buah yang dibeli tidak sesuai dengan namanya ketika sudah berbuah.

Teddy juga pernah mengalaminya. “Sebagai pehobi pun saya masih tertipu hingga 5 kali. Saya membeli bibit mangga yuwen ternyata setelah ditanam dan berbuah hasilnya berbeda,” kata pria yang juga hobi memelihara anjing itu. Meski kebun Teddy relatif sempit, mampu melayani konsumen yang membeli dalam skala besar. Menurut Teddy dengan jaringan antarpehobi dan sesama penjual bibit permintaan skala besar pun pasti terpenuhi.
“Dengan kondisi sekarang semua serba mudah, jaringan pun semakin luas dengan adanya internet dan media sosial. Semua bisa saling bantu,” papar Teddy. Kemajuan teknologi memang menjadi senjata andalan Teddy untuk memasarkan produknya. Hingga saat ini pemasukan tertinggi berasal dari permintaan melalui daring atau online. Hanya beberapa pembeli yang terkadang langsung datang ke kebun.
Tanaman tren
Selain fokus mengembangkan mangga, Teddy juga mengembangkan aneka jenis tanaman buah yang sedang tren. Contohnya jambu air madu deli hijau (MDH) yang tren pada 2013—2014. “Pertama lihat madu deli hijau saat hadir pada Pekan Flori dan Flora Nasional (P2FN) di Yogyakarta pada 2013,” katanya.
Menurut Teddy madu deli hijau memiliki berbagai kelebihan seperti warnanya yang unik dan rasanya yang manis. “Saat itu saya segera pesan beberapa bibit dari rekan saya di Yogyakarta untuk memasarkannya di ibukota,” katanya. Kini Teddy memproduksi bibit sendiri di nurseri miliknya. Teddy menuturkan, madu deli hijau adalah komoditas yang potensial jika dikaitkan dengan tren tabulampot saat ini.

Selain berwarna unik dan rasanya yang manis, madu deli hijau juga cepat berbuah. Teddy juga mengembangkan varian jambu air lain yang sedang tren, yakni bajang leang (lihat Trubus edisi Juni 2016). “Pertama kali saya lihat jambu itu di kebun milik Lek, seorang pembibit buah sekaligus ahli mangga asal Thailand,” kata Teddy. Teddy tertarik mengembangkan jambu yang memiliki nama lain pa cang lien wu itu karena berbuah jumbo dan rasanya manis.
Teddy mendapat bibit bajang leang pertama pada 2012. Ia lalu memperbanyaknya menjadi ratusan bibit. “Regenerasinya cepat dengan menggunakan metode sambung pucuk,” papar Teddy. Kini, bajang leang milik beberapa pehobi di tanahair mulai panen. “Sejauh ini para pehobi puas dengan kualitas bajang leang karena bobot buah bisa mencapai 250 gram dan rasanya manis,” katanya.
Meski mengikuti tren, tapi 50% dari omzet penjualannya berasal dari penjualan bibit mangga. “Sisanya berasal dari jenis lain seperti mamey sapote, jambu air, dan tanaman buah lainnya,” kata pria 49 tahun itu.
Terus berkembang

Usaha pembibitan tanaman buah itu terus berkembang. “Dulu omzetnya rata-rata hanya Rp5-juta per bulan, sekarang rata-rata Rp70-juta per bulan,” katanya. Dengan penghasilan itu Teddy merasa seperti mendapat berkah. “Seperti hobi yang dibayar, tak terhingga senangnya. Sebelum beragribisnis saya sudah senang tanaman, apalagi hobi saya itu sekarang menghasilkan” kata Teddy.
Kini Teddy juga memperluas kebun dari semula hanya 2.500 m² menjadi 5.000 m². “Berkah lainnya menurut saya adalah dapat membuat lapangan pekerjaan. Dulu karyawan saya hanya 3 orang, sekarang 10 orang,” kata Teddy. Meski demikian bukan berarti bisnis pembibitan tanaman buah yang dijalani Teddy berjalan tanpa kendala. “Kendalanya adalah kesulitan jika mendatangkan jenis tanaman baru dari luar negeri,” katanya.

Menurut Teddy, perkembangan dunia pertanian Indonesia akan tertinggal jauh jika kebijakan ekspor dan impor di bidang pertanian tidak diperbaiki. “Saat saya ke Thailand, saya mencicipi manggis yang bijinya lancip dan kecil. Lalu saya tanya ke penjual asal-muasal manggis itu dan ternyata berasal dari Indonesia,” papar Teddy.
Walau menghadapi banyak kendala, tak menyurutkan Teddy untuk menekuni usahanya itu. Satu hal yang Teddy percayai dalam hidup adalah terus maju dan harus memiliki keinginan terus maju. “Jika kita yakin pada diri kita sendiri, kita tidak akan gagal,” katanya. Menurut Teddy kegagalan akan datang jika tidak ada keinginan untuk maju. “Bagaimana mungkin kita akan sukses, jika kita tidak mau menjalani prosesnya,” kata Teddy. (Muhamad Fajar Ramadhan)
