Friday, April 10, 2026

Berburu Gelar di Dua Kota

Rekomendasi
- Advertisement -

Aikland’s Nikita of Mitacat’s itu memang layak menyandang gelar jawara. Proporsi tubuh seimbang dengan struktur tulang bagus, bulu putih bersih terawat, dan temperamen jinak menjadi modal kemenangan. Pantas jika Yukie—panggilan akrab Zissura—juri Indonesia Cat Association (ICA) hanya berkomentar singkat, ”Nikita memang luar biasa.”Prestasi di Yogyakarta itu merupakan pengulangan di Jakarta. Di sana, pada Desember lalu, gelar best in show pun direbutnya.

Ermita Hadi, sang pemilik di Bandung, Jawa Barat, menyambut gembira kemenangan itu. Tidak sia-sia persiapan khusus yang dilakukan. “Tiga hari sebelum kontes, bulu-bulunya rajin dibersihkan dan dirawat,” ujar pemilik Mitacat’s Cattery itu.

Keistimewaan Nikita terletak pada bulunya. Menurut Herry, juri asal Bandung, merawat persia putih lebih merepotkan. Sedikit saja kotoran melekat, bulu lengket dan keindahannya langsung berkurang. Namun tidak bagi Nikita. Bulu lebat seputih salju terurai rapi menutupi tubuh cobbynya. Jangan heran jika banyak pengunjung tak kuasa menahan hasrat untuk membelai.

Standar internasional

Kontes ICA kali ini menerapkan sistem penilaian yang agak berbeda. Dulu juara di tiap kelas impor dan LO—livre de originae, garis silsilah jelas sampai 4 generasi—bisa bersaing untuk meraih gelar best in show. Kini hanya kucing dengan nilai minimal 97 yang akan memperebutkan mahkota juara. Kriteria baru itu mengacu pada standar FIFe (Federation Internationale Feline)—salah satu asosiasi pecinta kucing di dunia. ICA memang sedang getol membenahi diri agar bisa menjadi anggota FIFe pertengahan tahun ini.

Langkah Nikita diawali dengan memenangkan best male in import class, mengalahkan 8 peserta lain. Dengan nilai 95 di tangan ia langsung masuk menjadi kandidat best in variety. Penilaian akhir oleh 2 juri akan menentukan apakah ia berhak menyandang gelar best in show atau hanya menjadi best in variety saja. Jika nilai akhir kurang dari 97 hanya gelar best in variety yang dibawa pulang. Namun, kemolekan kucing asal Rusia itu berhasil memikat juri yang mengganjarnya dengan hadiah gelar terbaik.

Sebenarnya persia lain pun tak kalah cantik. Sayang perjalanan jauh menyebabkan banyak kucing tidak dalam kondisi fi t. Apalagi ini pertama kali sistem penjurian ala FIFe diterapkan. Alhasil hanya Nikita yang melenggang ke kursi best in variety. Pesaing terdekatnya hanya meraih poin 94, tidak cukup untuk masuk penilaian best in variety.

Walaupun begitu persaingan di tiap kelas tetap berlangsung seru. Antusiasme peserta dan pengunjung luar biasa. Peserta datang dari berbagai daerah. Tercatat ada 138 ekor kucing yang ikut berlaga. Paling banyak turun di kelas non-pedigree (domestik). ”Ini rekor, belum pernah sebanyak ini,” ujar drh M. Munawaroh, ketua ICA Pusat. Bertempat di Gedung UC UGM, Yogyakarta kontes memperebutkan 20 gelar. Gelar best in exotic diraih Blue Jins milik Shanti. Marcello dengan seragam wisudanya berhasil meraih predikat best in fashion show; sedangkan best junior 6—10 in import class, direbut Black Edition milik Ninik Susanti.

Kucing domestik pun tak kalah cantik. Gelar juara kelas lokal diraih Kentire milik Fandi Reza. Sejak awal Kentire—artinya gila dalam bahasa Jawa—sudah merebut perhatian penonton. Tubuh montok dan gerakan lincah membuat gemas setiap orang. Predikat lainnya best in neuter class diraih oleh Ruby, kucing berbulu putih milik Gita.

Cat show ICA skala nasional ke- 1 itu merupakan bagian dari acara Cat Festival 2005, kerjasama BEM Fakultas Kedokteran Hewan UGM dan Indonesian Cat Asosiciation (ICA). Acara selama 3 hari diisi dengan diklat cattery, pameran dan bursa produk, serta kontes kucing. Animo masyarakat begitu besar. Terbukti gedung di daerah bunderan UGM itu penuh sesak.

Di Jakarta

Kontes kucing memang sedang marak di berbagai tempat. Selain di Yogyakarta, akhir Februari di Jakarta juga diadakan kontes kucing CFI-Cat Fancy Indonesia. Bertempat di lantai dasar ITC Permata Hijau, 60 kucing ikut berlaga. Gelar best in show kali ini direbut Linke, persia betina milik Sisca dari Bandung.

Bukan perkara mudah meraih tahta itu. Persaingan ketat memang terjadi di kelas pedigree. Persia-persia cantik berebut memikat mata dewan juri. “Hampir semuanya memenuhi kriteria penilaian,” ujar Permana, salah satu juri. Kemenangan Messege on the Line—nama lengkap Linke—diawali dengan menyabet best in persian female. Babak berikutnya ia b e r h a s i l  mengalahkan para kandidat best in persian male, best persian kitten in 6 dan 10, serta best persian colourpoint untuk menjadi yang terbaik.

Kucing berumur 10 bulan itu memang cantik. Bulu brown tabby berpadu serasi dengan postur tubuhnya. Kemenangan Linke tentu membanggakan sang pemilik, Sisca dari Bandung. Tak rugi ia datang jauh-jauh ke Jakarta. Pesaing terberatnya, Star a Dancing dari Jakarta tak kalah cantik. Buktinya 2 gelar lain best persian male dan best opposite sex berhasil disabetnya.

Tak berbeda dengan cat show di Yogyakarta, kontes di Jakarta ini pun diminati pengunjung. Lantai dasar ITC Permata Hijau disesaki ratusan pasang mata yang hendak menyaksikan meong beraksi. Acara yang semula dijadwalkan pukul 10.00 itu sempat molor selama 2 jam. Toh hal itu tak menyurutkan semangat pengunjung.

Juara masih didominasi peserta dari Jakarta, Bogor, Bandung, dan Depok. Dari kelompok RIEX, gelar best XLH female disabet Kesehatan Cassy, andalan Sandy dari Jakarta; best XLH Kitten 10 digondol Ganswed Ginger asal Depok. Persaingan ketat juga terjadi di kelas pet class. Dari kategori pet cats male, gelar juara diraih oleh Mercy milik Ellya dari Jakarta. Sedangkan best pet cats female jatuh ke tangan Kitty milik Muhammad Suwed, Bogor. Di kelas lokal, dewi fortuna sedang berpihak pada Mona dari Jakarta. Kedua kucingnya, Punky dan Blessy, berturut-turut meraih gelar best local cats male dan female.

Perhelatan persia itu memperebutkan piala bergilir Royal Canin Cup. Terbagi menjadi 3 kelas: pedigree, pet class, dan lokal. Penilaian ditekankan pada kesehatan, postur tubuh dan temperamen. Hingga selesai pukul 18.00 banyak pengunjung tetap tak beranjak dari tempatnya. Kelucuan kucingkucing itu seolah menyihir mata mereka. (Dewi Permas & Laksita Wijayanti)

 


Artikel Terbaru

IPB University dan UM Kuningan Jajaki Pengembangan Obat Herbal di Gunung Ciremai

IPB University menjalin kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah (UM) Kuningan untuk menggali potensi obat herbal di kawasan Taman Nasional...

More Articles Like This