Monday, July 15, 2024

Bergandeng Tangan Pasok Sayuran

Rekomendasi
- Advertisement -
Adi Alqodery (kanan) bersama Meidy Ardiansyah kemitraan penting untuk menjaga kesinambungan usaha dan pasokan.
Adi Alqodery (kanan) bersama Meidy Ardiansyah kemitraan penting untuk menjaga kesinambungan usaha dan pasokan.

Pola kemitraan untuk melayani permintaan sayuran hidroponik di Kota Palembang yang terus tumbuh.

Rutinitas Meidy Ardiansyah relatif ajek. Pada pukul 06.30 ia berangkat ke kantor. Yang membedakan, Meidy Ardiansyah juga membawa sekeranjang selada segar di bagian bagasi mobilnya. Selada itu hasil panen di kebun sendiri yang terletak di halaman belakang rumahnya. Warga Kota Palembang, Sumatera Selatan, menuai sayuran hidroponik sejam sebelum keberangkatan sehingga selada tetap segar.

Setengah jam kemudian, Meidy sampai di kediaman Adie Alqodery di Skip Ujung, Palembang. Keranjang selada pun segera berpindah tangan. Adie akan menyeleksi dan menimbang tumpukan selada itu. Bobot sekeranjang selada rata-rata 2,1 kg. Setelah mengetahui bobot, Mediy pun segera bergegas memacu kendaraan menuju kantornya di perbatasan Kota Palembang.

Langgeng

Pasokan mengalir ke sejumlah pasar swalayan dan restoran di Palembang, Sumatera Selatan.
Pasokan mengalir ke sejumlah pasar swalayan dan restoran di Palembang, Sumatera Selatan.

Subhan menjalani rutinitas serupa. Saban hari setiap pukul 08.00 warga Palembang itu sudah berada di rumah Adie guna menyetor sayuran yang berasal dari kebun hidroponik di halaman rumahnya. Dari kebun berkapasitas 2.000 lubang tanam, Subhan setiap hari memasok sayuran segar ke Adie. Selepas penimbangan di hari kerja Senin-Jumat, serupa dengan Meidy, Subhan pun bergegas pergi ke kantor tempatnya bekerja.

Meidy dan Subhan merupakan beberapa plasma dari sistem kerja sama yang dirintis Adie Alqodry. Untuk memenuhi permintaan, Adie bekerja sama dengan para pelaku hidroponik. Pola semacam itu itu tengah naik daun di beberapa kota besar di Indonesia Bukan tanpa musabab Meidy dan Subhan memilih skema kerja sama pemasaran dengan model plasma-inti.

“Setiap hari disibukkan dengan urusan kantor sehingga minim waktu untuk merintis pasar,” kata Meidy. Dengan sistem klaster atau gugus itu, ia tetap dapat bekerja sekaligus melampiaskan hobi berkebun yang memberi tambahan pendapatan. Harap mafhum kegiatan menanam hidroponik merupakan hobi di sela kesibukan kerja. Menurut Meidy merintis pasar tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Pasar sayuran hidroponik masih terbuka cerah.
Pasar sayuran hidroponik masih terbuka cerah.

Selain itu perlu ketekunan tersendiri lantaran pembeli tidak serta-merta datang menghampiri. Jika pasar tak kunjung datang, hasil panen pun tak terserap dan berujung gulung tikar. Lain cerita, jika produksi hanya sebatas keperluan konsumsi domestik rumah tangga. Sulitnya membuka pasar itu pula yang mengilhami Adie untuk merintis pola plasma-inti. Saat mencoba memasarkan produk hidroponik, Adie keluar masuk restoran serta pasar modern.

Sering kali tawaran pasokan sayuran dari Adie tak bersambut. Harap mafhum, selain kualitas, pasar juga butuh pasokan sayuran yang berkelanjutan. “Jika tidak mampu memenuhi pasokan secara rutin, pelanggan akan berpikir ulang mengambil barang yang kita tawarkan,” kata Adie. Belum lagi ragam jenis sayuran yang ditawarkan pun menjadi salah satu faktor penentu.

Harga lebih tinggi
Berkaca dari pengalaman itu, Adie pun melakukan kerja sama pemasaran bagi peserta yang memperoleh dan membeli instalasi hidroponik darinya. Tujuannya agar produksi mitra terserap pun jenis yang ditawarkan bisa beragam. Saat ini Adie memasok untuk 3 pasar swalayan dan 10 restoran. “Setiap restoran membutuhkan minimal 5 kg untuk satu item sayuran,” kata Adie.

Sayuran yang tidak memenuhi kritera dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik.
Sayuran yang tidak memenuhi kritera dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik.

Satu restoran biasanya memesan minimal 4 item sayuran seperti sawi, pakcoi, selada serta caisim. Jika sedang ramai, satu restoran bisa memesan hingga 20 kg untuk satu jenis item sayuran. Guna menjamin kualitas, Adie menerapkan beberapa persyaratan. Kondisi sayuran berwarna hijau dan bersih serta bolong tidak terlalu banyak. “Jika kuning sedikit, konsumen tidak mau menerima,” kata Adie.

Pembersihan sayuran semisal dari akar bisa dilakukan mitra atau oleh Adie. Adie membeli sayuran dari para mitra bergantung jenis. Sebut saja harga caisim Rp14.000—Rp16.000 per kg. Harga itu lebih tinggi daripada harga pasar biasa yang hanya Rp8.000—Rp10.000 per kg. Aapun harga selada hijau Rp20.000, lolorosa Rp35.000, dan basil Rp35.000—semua harga per kg.

Para pekebun hidroponik mitra akan mengantarkan sayuran ke tempat Adie. Pembayaran bergantung keinginan mitra. Ada yang tunai, selesai barang ditimbang lalu dibayar. “Ada juga mitra yang dibayar setiap bulan berdasarkan hasil penimbangan,” ungkap Adie. Lewat pola kemitraan, Adie pun leluasa mengatur luasan lahan yang ditanami sayuran. “Setiap mitra ditentukan tanaman apa yang harus ditanam dalam musim tanam tertentu,” ujarnya.

Itu diterapkan melihat besaran permintaan dari konsumen. Adie tetap membuka kemungkinan dari pihak luar untuk bermitra. Syaratnya baku mutu produksi sesuai dengan persyaratan kualitas serta ketersediaan slot jenis barang. Jika berlimpah, hasil produksi dari mitra yang diutamakan. Menurut Adie prospek sayuran hidroponik di Palembang tergolong cerah. “Pasar masih terbuka lebar,” kata Adie.

Ragam jenis sayuran bisa diatur lewat pengaturan tanaman di kebun mitra.
Ragam jenis sayuran bisa diatur lewat pengaturan tanaman di kebun mitra.

Adie merintis usaha sayuran hidroponik sejak 2013 bersama sang istri Perda Sari. Semula Adie menggunakan stirofoam bekas. “Saat itu menggunakan 30 boks stirofoam untuk memproduksi sayuran,” kata Adie. Seiring berjalannya waktu ia mengembangkan usahanya memanfaatkan halaman rumah seluas 370 m² dengan 3 instalasi sayuran hidroponik bertingkat sistem nutrient film technique (NFT) 2014.

Sistem hidroponik bertingkat miliknya berbentuk segitiga dengan jarak antarkaki 1,5 m serta panjang pipa 12 m. Susunan pipa dibuat 5 tingkat pada bagian kiri dan kanan serta 1 pipa di bagian atas. Total jenderal ada 11 pipa untuk setiap instalasi. Kapasitas produksi yang meningkat belum bisa memenuhi permintaan. Itulah sebabnya ia mengembangkan sistem kemitraan.

Jumlah plasma yang bernaung pun berlipat. “Kini ada 20 plasma yang bergabung,” ujar Adie. Jumlah itu meningkat dibandingkan dengan 2015 yang berada pada angka 15 orang. Berkat kemitraan, para mitra seperti Meidy dan Subhan pun tak perlu lagi pusing memikirkan cara menembus pasar. (Faiz Yajri, Kontributor Trubus di Jakarta)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Bahan Alami untuk Ternak Ayam

Trubus.id—Lazimnya kunyit sebagai bumbu masakan. Namun, Curcuma domestica itu juga dapat menjadi bahan untuk menambah nafsu makan ayam....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img