
Para pekebun membentuk komunitas untuk memenuhi permintaan sayuran hidroponik.
Adi Subiyantoro galau lantaran produksi sayuran hidroponik miliknya lebih kecil dibandingkan dengan permintaan. Pada 2012 Adi menanam tiga jenis sayuran yaitu pakcoi, sawi, dan seledri. Saat itu pekebun hidroponik di Cukir, Jombang, Jawa Timur, itu hanya mampu menghasilkan 2 kg untuk satu jenis sayuran per pekan.
Padahal pasar modern meminta kiriman 10 kg untuk satu jenis sayuran saban pekan. Permintaan rumah makan dan hotel pun belum terpenuhi. Berjarak 8 kilometer dari tempat Adi, Kimya Ayu pun mengalami hal serupa. Pekebun hidroponik di Sengon, Jombang, Jawa Timur, itu masygul mendapat permintaan 30 jenis sayur hidroponik masing-masing 16 kg per pekan dari pasar modern di Surabaya, Jawa Timur.
Mengelompok
Pasalnya Kimya hanya sanggup memasok 2 jenis sayuran berbobot 7—8 kg/pekan. Pasar modern itu memerlukan banyak sayuran hidroponik dan pengiriman rutin. Sekali saja tidak terpenuhi, kontrak pun diputus. Sejak 2016 Kimya dan Adi mampu memenuhi semua permintaan itu. Caranya? “Saya bekerja sama dengan pekebun lain dan membentuk komunitas,” kata Kimya.

Keduanya dan 14 petani lain tergabung ke dalam Komunitas Petani Hidroponik Jombang. Dengan cara itu kapasitas produksi meningkat sehingga permintaan terpenuhi. Kini komunitas itu mampu memasok 240 kg aneka sayuran per 2 pekan ke 4 pasar modern di Surabaya, Jawa Timur. “Keempat pasar modern itu menginginkan 30 jenis sayuran seperti caisim, bayam, kangkung, selada, sawi, kangkung, aragula, seledri, dan kale,” kata Adi yang juga koordinator para pekebun hidroponik.
Adi menugaskan setiap pekebun menanam 2 jenis sayuran berbeda agar semua anggota komunitas meraih laba. Misal Kimya membudidayakan bayam hijau dan selada. Anggota lain seperti Tea Ayu Pusparini mengembangkan samhong dan kangkung. Setiap anggota mesti menyetorkan 8 kg sayuran dua kali sepekan. “Setiap sayuran berbobot 4 kg,” kata Adi.
Dengan cara itu tidak ada pekebun yang menanam komoditas sama. Pekebun juga harus mengetahui kriteria sayuran yang diminati konsumen seperti tidak boleh rusak, tidak berlubang, dan ukurannya pas. Petani mengemas 2—3 tanaman per kemasan berbobot 200 g dengan harga Rp7.000. Pasar modern melego produk itu ke konsumen Rp9.000 per 200 g. Menurut Adi biaya produksi per tiga tanaman hanya Rp800.

Harga itu belum termasuk ongkos kirim ke pasar modern di Surabaya Rp2.500 per kg. Ongkos produksi relatif murah karena para pekebun bekerja sama dalam pengadaan sarana produksi hidroponik seperti rockwool, benih, dan guli. Nutrisi pun meracik sendiri dan hanya menghabiskan Rp50.000 per 10 liter. “Jika pekebun tidak bekerjasama ongkos produksi mencapai Rp1.700/tanaman,” kata pria kelahiran 14 mei 1978 itu.
Berkualitas
Kimya,Tea Ayu, dan anggota lain rutin memanen 8 kg sayuran per dua item per 2 pekan sehingga mendulang untung Rp228.000 per pengiriman atau Rp1,36-juta per bulan. Laba itu tergolong tinggi untuk skala hobi. Keuntungan bisa lebih tinggi lagi jika pekebun meningkatkan kapasitas produksi lantaran masih ada permintaan yang belum terpasok. Restoran di Jombang memesan 30 kg tiga jenis sayuran per hari.
Permintaan lainnya 20 kg per satu jenis sayuran dua kali per pekan. Sayuran hidroponik produksi komunitas itu diminati konsumen karena berkualitas tinggi lantaran menerapkan prosedur budidaya yang Adi dan rekan-rekan buat. Misal tanaman harus siap panen rata-rata 3 pekan sekali. Kondisi sayuran mesti bagus dan awet sepekan pascapanen. Mayoritas pekebun menggunakan teknik nutrient film technique (NFT) dibanding teknik lainnya seperti deep flow technique (DFT) atau aeroponik.
Alasannya budidaya hidroponik lebih murah karena peralatan dan perlengkapan sesuai kreativitas setiap anggota. Jika harga rockwool mahal, pekebun memanfaatkan busa. Kunci budidaya mereka antara lain pengaturan nutrisi dan pH. Para pekebun menggunakan nutrisi berkonsentrasi 200 part per million (ppm).
Selang sepekan bibit pindah ke wadah produksi dengan nutrisi 600 ppm. “Kami menggunakan pH 5,8—6,” kata lelaki kelahiran Driyorejo, Gresik, Jawa Timur itu. Dengan teknik budidaya yang benar plus pemasaran berkelompok, bisnis hidroponik makin menggiurkan. (Bondan Setyawan)
