Friday, January 27, 2023

Bertani Sayuran di Dalam Ruangan, Hasil Panen Naik 10 Kali Lipat

Rekomendasi

Trubus.idIndoor vertical farming merupakan cara baru bercocok tanam di dalam ruangan secara vertikal. Menggunakan sistem budidaya baru ini, seseorang tidak bergantung lagi pada cuaca karena semua bisa terencana. Ketika syarat tumbuh terpenuhi, seperti nutrisi dan cahaya, hasil panen pun akan maksimal.

Widya Surya Prayoga, S.I.Kom., salah seorang yang sudah menerapkan indoor vertical farming. Ia menanam beragam sayuran dengan dukungan teknologi modern, yang semuanya berbasis Internet of Things (IoT).

Petani di kawasan Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, itu, juga menggunakan lampu khusus sebagai “pengganti” sinar matahari. Di ruangan 24 m2, ia meletakkan lampu di setiap tingkatan rak dan pada bagian atas berjarak 15 cm. Lampu aktif menyala selama 14 jam dan otomatis mati dalam waktu 10 jam.

Di ruangan itu, Surya membangun rak bertingkat. Satu perangkat terdiri atas 6 tingkat dengan rata-rata jumlah lubang tanam 900–1.000 per lantai. Instalasi juga dilengkapi kipas angin kecil untuk menyebarkan panas agar merata. Jumlahnya sekitar 8 tiap tingkatan dalam rak.

Pendingin rungan berperan sebagai penjaga suhu. Sensor sistem mengendalikan semua elemen selama bekerja. Itulah sebabnya ia selalu memasukkan data sensor sistem dari riwayat tanaman yang dibudidayakannya.

“Mulai dari fase pemindahan, penyemaian, hingga panen sudah tidak perlu menggunakan kontrol manusia,” tutur Surya.

Menurutnya, kontrol manusia hanya untuk kondisi tertentu. Misalnya, mengisi nutrisi pada tandon jika habis dan saat semai benih. Model aplikasi berbasis daring sehingga bisa terhubung dengan ponsel pintar. Sensor sistem bisa berperan sebagai alarm dan teknis seperti pengisian kebutuhan nutrisi pompa akan menyala otomatis.

Adapun semai biji masih dilakukan oleh tenaga manusia. Namun, sudah disertai panduan khusus dari mentor pada saat awal pemasangan sehingga hasil optimal.

Saat fase pindah tanam, petani melakukan input data meliputi jenis sayuran, lokasi rak, fase tanaman, dan tanggal pemindahan. Saat data berhasil diterima oleh sistem kontrol akan dilanjutkan oleh sensor otomatis.

Melalui sistem bertani di dalam ruangan itu, Surya mampu memanen hingga 10 kali lipat. Chief  Executive Officer (CEO) sekaligus pendiri Tunas Farm itu menuai rata-rata 18–20 kilogram per 1 m2. Interval panen 3 hari.

Hasil panen itu jauh lebih tinggi dibanding budidaya di lahan konvensional yang paling banyak hanya 2–3 kg di luasan lahan yang sama. Beragam sayuran yang rutin ia panen meliputi selada, kailan, bayam merah, dan kale.

Selain itu, Surya juga menjual instalasi indoor vertical farming. Instalasi itu bisa didapatkan dengan model beli putus ataupun bermitra. Harga instalasi sekitar Rp8 juta–Rp9 juta per meter persegi. Paket itu meliputi instalasi, benih, lampu, kipas angin, sistem IoT, guli (net pot), dan kerangka.

“Semua sudah masuk dalam biaya paket, kecuali pendingin dan biaya pengiriman,” tutur Surya.

Instalasi dirancang awet hingga 10 tahun. Kerangka menggunakan bahan besi yang di-coating sehingga tidak mudah berkarat. Adapun tenaga untuk pemasangan sudah disediakan karena tidak boleh sembarangan orang meskipun sudah ada standar operasional prosedur (SOP).

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tanaman Pokeweed Berpotensi sebagai Obat Flu hingga HIV

Trubus.id — Phytolacca americana atau bayam beri, populer disebut pokeweed merupakan tumbuhan liar yang menjadi harapan bagi penderita HIV....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img