Wednesday, April 22, 2026

Bertumpu pada Serdadu Mini

Rekomendasi
- Advertisement -

Selama hidup diadegma mampu menghasilkan 800 telur. Inang dipilih oleh D. insulare berupa larva Plutella xylostella instar ke 3 -4, berukuran kecil. Setelah 10 -15 hari kemudian larva parasitoid itu muncul dari kokon inang yang mati. Walau tubuhnya kecil, 90%inang bisa dipastikan terparasiti. Di bawah mikroskop, kakinya dan abdomen berwarna cokelat kemerahan.

Kelihaian serangga parasitoid melumpuhkan hama pengganggu kini digunakan para pekebun sayuran di Gunungkidul, Yogyakarta. Sekitar 10 hektar area penanaman tomat, brokoli, dan kubis terlindungi dari Plutella xylostella secara alami. Diadegma awalnya diambil dari kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, 3 tahun silam. Lantas dibiakkan di laboratorium dan disebarkan. Ternyata di tempat baru, serangga itu cukup adaptif. Efektivitas penggunannya 75%atau mirip dengan kinerja insektisida.

Ia mulai menyerang hama ketika berumur 2 -5 hari. Sedangkan umurnya berbeda-beda satu sama lain. Jika parasitoid itu juga mengisap nektar bunga semak, maka hidupnya bisa mencapai 27 hari. Sebaliknya jika tidak, ajal tercapai pada hari ke 21. Daur hidupnya dimulai dari betina dewasa bertelur, menetas menjadi larva selama 7 hari. Lantas, benang-benang melapisi tubuh hingga menjadi kokon. Bentuk seperti mumi 7 hari, kemudian dewasa.

Serangga liliput itu bukan satu-satunya pengendali hama. Banyak pekebun di Kopeng, Salatiga, Jawa Tengah, menyandarkan harapan pada berbagai parasitoid. Serangga parasitoid itu sama sekali tak memakan sayuran. Populasinya mengikuti keseimbangan lingkungan. Jika hama pengganggu di kebun jumlahnya sedikit, secara langsung itu berkorelasi positif dengan jumlah serangga parasitoid. Inilah beberapa serangga parasitoid pengendali hama yang ramah lingkungan.

Trichogramma spp.

 

Serangga parasitoid ini berinang di telur serangga penggerek jagung Ostrinia nubilalis. Anggota ordo Hymenoptera itu bertubuh kecil, hanya 0, 27 mm. Namun, ia mampu melumpuhkan inangnya dalam 7 hari. Caranya betina Trichogramma menaruh lebih dari 100 telur pada satu telur inang. Kemudian telur Trichogramma menetas menjadi larva, tetapi telur inang berubah menghitam. Semakin banyak telur hama yang gagal menetas, populasi hama dapat dikendalikan. Daur hidup parasitoid mulai telur hingga larva hanya berlangsung 8 -10 hari. Ia dewasa setelah tujuh hari menjadi kokon. Selama 30 hari ia bertahan pada itu bertahan fase dewasa. Lantaran betinanya memiliki tingkat reproduksi tinggi, populasinya berkembang cepat. Ia tidak membahayakan manusia, hewan, atau tumbuhan yang bukan makanannya.

Ada beberapa strain Trichogramma. Perbedaannya terdapat pada serangga yang dapat dibasmi serta adaptasi terhadap kondisi lingkungan dan tanaman yang berbeda. Contoh yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Trichogramma ostriniae. Ia adalah musuh utama penggerek buah jagung Ostrinia nubilalis dan Plutella xylostella. Ketika fase imago, ia melahap habis telur hama itu. Bukan hanya hama O. nubilalis dan P. xylostella, pun 13 jenis telur Lepidoptera dilumatnya tanpa sisa. T. ostriniae dewasa berwarna merah tua dengan flagela memiliki panjang 3 kali dari lebarnya. Sayap belakangnya berumbai setae -ujung flagela -panjang.

Cotesia glomerata

Anggota famili Braconidae itu menyerang ulat kubis secara besar-besaran. Ukurannya hanya 7 mm. Ciri utama C. glomerata :perut betina meruncing pada bagian belakang untuk meletakkan telur pada larva ulat kubis. Pada awal musim tanam, populasi C. glomerata tergolong rendah. Sebabnya, ulat-ulat pemakan daun masih berbentuk telur sehingga sulit bagi betina C. glomerata mendapatkan inang. Pada pertengahan musim, beberapa ulat kubis mulai terjangkiti parasitoid. Setelah akhir musim, kontaminasi mencapai 75%lahan kubis.

C. glomerata perlu 22 hari menjadi dewasa sejak dilahirkan. Betinanya menghasilkan 150 -200 telur selama hidupnya. Sebanyak 20 ?60 butir ditaruh di satu larva ulat. Setelah 12 hari telur-telur dalam inang itu akan menetas. Saat itulah larva ulat kubis telah mencapai ajalnya.

Di Indonesia, C. glomerata dikenal dengan nama lalat jatiroto. Ia diaplikasikan pada lahan penanaman tebu di Pasuruan, Jawa Timur. Penyebarannya dilakukan pada awal musim tanam. Untuk satu tanaman tebu diperlukan satu pias parasitoid C. glomerata. Satu pias berisi 1. 000 telur lalat jatiroto dapat dibeli dengan harga Rp100 -Rp150 per pias. Kemasannya mirip bungkus korek api.

Trichopoda pennipes

Ia musuh alami beberapa kepik lembing pemangsa labu dan ubijalar. Betina dewasa menaruh telur di tubuh nimfa mangsanya. Dua minggu kemudian, kepik lembing mati. Sedangkan T. pennipes betina terbang mencari mangsa baru dan menitipkan ratusan telur dalam satu inang. Walau yang berhasil menjadi serangga hanya satu.

Ciri utama parasitoid ini bagian perut berwarna jingga. Ujung perut betina dewasa berwarna hitam. Sayap jantan dewasa lebih gelap. Hingga sekarang penggunaan anggota famili Tachinidae di Indonesia tergolong jarang, karena parasitoid ini rentan insektisida. Sedangkan penggunaan kimia pada lahan sayuran masih sulit dihindari.

Itulah 4 serangga yang mengganyang hama-hama penting komoditas sayuran. Mereka mengendalikan populasi hama sehingga harapan pekebun menuai laba bukan impian semusim. Selain itu, pemanfaatan parasitoid sekaligus menekan penggunaan pestisida. Bila sekarang Anda bingung mengendalikan hama-hama di atas, keempat serdadu itu layak dipertimbangkan. (Dr Ir Didik Sulistyanto, dosen Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Jember)


Artikel Terbaru

Kemegahan Macfrut 2026: Pameran Buah dan Sayur Internasional Resmi Dibuka, Soroti Daya Saing dan Kemitraan Global

Pameran internasional rantai pasok buah dan sayuran, Macfrut 2026, akhirnya resmi membuka pintu untuk edisi ke-43. Berlokasi di Rimini...

More Articles Like This