Sunday, November 27, 2022

Betta Indonesia Langlang Buana

Rekomendasi

Dengan cekatan Andree menyerok satu per satu ikan kualitas kontes itu dari akuarium. Setelah dimasukkan ke dalam plastik, ia lalu menatanya di dalam boks styrofoam. “Ini mau diekspor ke Amerika Serikat. Setiap bulan mereka minta rata-rata 5—10 ekor. Itu belum termasuk permintaan negaranegara lain,” ujar mahasiswa tingkat akhir Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor itu.

Setelah siap ia pun melaju ke Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Selama perjalanan anak sulung dari bersaudara itu membayangkan cupang-cupang rawatannya bersalin rupa menjadi rupiah. Bayangkan, plakat saja dipatok Rp500-ribu—Rp600-ribu/ekor; halfmoon Rp700-ribu—Rp750-ribu/ekor; peraih grand champion, Rp750-ribu Rp1-juta/ekor. “Main ekspor tuh enak. Daya beli mereka tinggi dan kebanyakan hobiis,” ujar pemain saham di Jakarta itu. Setelah dipotong biaya transportasi dan perizinan, untung bersih mencapai jutaan rupiah.

Begitulah kesibukan sehari-hari Andree—demikian ia disapa. Sejak mengenal Betta splendens 4—5 bulan silam ia sudah kepincut. “Kontesnya ramai banget. Itu kan ajang bisnis yang bagus,” katanya. Dari kontes-kontes itulah ia keranjingan memboyong berbagai jenis cupang dari peternak di Th ailand dan lokal.

Kontes ke ekspor

Maraknya kontes di berbagai kota seperti Jakarta dan Bandung, benar-benar membawa berkah bagi Andree. Lantaran jagoannya selalu unggul, pemilik Fantasy Aquatic, Bogor itu kebanjiran permintaan dari berbagai negara. Halfmoon dasar gelap peraih grand champion di kontes Lebak Bulus, Agustus silam terbang ke Jepang dengan harga US$100—US$150 setara Rp1-juta—Rp1,5-juta. Dua hari setelah memenangi kontes di Giant, Lebakbulus, giliran kampiun halfmoon kombinasi diboyong ke Amerika Serikat. Dolar senilai US$75—S$100 pun masuk kocek Andree.

Belum puas mengeruk laba dari halfmoon, serit dilirik. Pria berkacamata itu menjajakan serit lokal kualitas kontes ke Italia, Brasil, Australia, Taiwan, dan Jepang. Rata-rata 10—20ekor/bulan terbang ke negara tujuan. Dengan membandrol harga US$30—US$100/ekor sepadan Rp300-ribu—Rp1-juta per ekor, Andree bisa mendapat untung 100%. “Kenaikan omzet 2—3 kali lipat. Sebanyak 75% keuntungan datang dari serit, sisanya dari jenis lain,” kata kelahiran Bogor 1982 itu. Ia cukup mengeluarkan modal Rp150-ribu—Rp300-ribu untuk membeli seekor serit kualitas kontes. Otomatis, untung mencapai US$300—US$500 setara Rp3-juta—Rp5-juta/bulan.

Adhie Guna Dharma, hobiis cupang asal Bandung juga merasakan nikmatnya terjun ke pasar ekspor. Sejak 6 bulan silam mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan, Bandung, itu telah mengirim 9 serit kualitas kontes ke Singapura. “Saya masih baru. Jadi belum bisa jual ke mana-mana. Tapi pasar di sana bagus. Permintaan bisa 10—15 ekor per bulan,” kata Adhie. Buktinya, hanya menjual 9 serit kualitas terbaik dengan harga Rp300-ribu—Rp600-ribu saja, ia bisa meraup keuntungan bersih Rp400-ribu—Rp500-ribu/ekor setiap bulan. Menurutnya hobiis mancanegara sangat menyukai serit king crown tail (ujung serit silang dengan ujung lain, red) yang harganya Rp600-ribu—Rp700-ribu/ekor. Sayang, cupang jenis itu sangat langka lantaran sulit diternakkan.

Bukan tanpa alasan Adhie mengincar pasar ekspor. Setiap bulan 20—30 serit  show quality diboyong dengan harga Rp300-ribu—Rp400-ribu, ukuran M plus. Dengan m e n g a b a i k a n biaya perawatan yang relatif kecil, otomatis ia dapat menangguk laba bersih 2—3 kali lipat di pasar ekspor dibanding pasar lokal. “Main di pasar ekspor bisa untung bersih Rp400- r ibu—Rp500-ri bu/ekor,” ujar pehobi olahraga badminton itu. Menurut perhitungannya, pasar lokal hanya menghasilkan laba bersih sekitar Rp100-ribu—Rp200-ribu/ekor.

Meretas pasar ekspor

Nikmatnya mengekspor cupang bukanlah isapan jempol belaka. Walaupun lou han sempat berjaya di tanahair, cupang hias Indonesia tetap diminta pasar internasional. “Waktu lou han berjaya ekspor cupang saya tetap jalan. Sampai sekarang masih ekspor,” ujar Ronald Kusuma, eksportir sekaligus peternak di Kelapagading, Jakarta Utara. Menurut Ronald harga memang tak setinggi 2—3  tahun silam, tetapi jumlah permintaan bertambah.

Buktinya, sebulan lalu pria yang selalu mengusung nama TM Wallet ketika bertanding itu berhasil mengirim 90 pasang cupang kelas A jenis serit, halfmoon dan plakat ke Amerika, Hongkong, dan Taiwan. “Kebanyakan kirim serit sekitar 60%, sisanya halfmoon dan plakat,” kata Ronald. Ia mematok harga US$10—US$20/pasang atau setara Rp100.000—Rp200.000/pasang. Artinya sebulan lalu ia mampu mendulang omzet minimal Rp9-juta.

Kantong rupiah kelahiran Semarang 28 tahun silam itu kian menggelembung lantaran tidak hanya pesanan rutin yang dilayani. Pemesanan secara terpisah melalui internet juga kencang. Buktinya 15—20 pasang/bulan cupang jenis serit dan halfmoon diminta. “Melalui Aqua Bit kita bisa memasarkan cupang ke luar negeri. Internet juga bisa meluaskan jaringan bisnis,” kata Ronald. Ia memasang harga berbeda dibanding permintaan rutin. Untuk serit grade A dijual Rp150.000—Rp350.000/ekor. Untuk halfmoon kelas A dijual Rp150-ribu—Rp250-ribu/ekor. Otomatis, omzet juga bertambah besar, Rp5-juta—Rp6-juta/bulan.

Itu belum termasuk pemasukan dari penjualan cupang kualitas kontes. Untuk cupang serit dan halfmoon minimal dihargai Rp350.000/ekor, bahkan bisa mencapai jutaan rupiah. Menurut ayah 2 putra itu harga selangit lantaran mendapatkan ikan bermutu tidaklah mudah. “Kalaupun biangnya bagus, paling 5% anakan yang masuk kualitas kontes,” kata pengusaha Restoran Wayang di Mall Taman Anggrek itu. Jadi, ia hanya mampu mengirim ke Singapura dan Amerika Serikat 5—10 ekor/bulan. Bila ditotal, omzet dari menjajakan cupang ke luar negeri bisa mencapai belasan hingga belasan juta rupiah setiap bulan.

Pasar ekspor memang memberi kan keuntungan banyak. Itu dibuktikan Joty Atmadjaja, peternak sekaligus eksportir kawakan di Sunter. Lantaran dikenal di International Betta Congress (IBC), banyak hobiis mancanegara berlarian mencari ikan ke farmnya. Sebulan lalu, Alfonso Ponce Enrile, hobiis asal Filipina, khusus bertandang ke Indonesia untuk membeli cupang tangkarannya. Tidak tanggung-tanggung Ponchit—demikian ia disapa—memboyong 200 halfmoon dan serit berkualitas.

“Belum ada yang menandingi serit Indonesia. Ia terkenal di Filipina,” ujar manajer Plastro Philippines Inc itu. Dengan menjual cupang kelas A seharga Rp100.000—Rp150.000/ekor atau kelas B minimal Rp50- ribu, setidaknya Joty menerima US$2.000 atau setara Rp20-juta dari Ponchit.

Melalui website Aqua Bit dan website lain yang menawarkan jasa penjualan ikan hias Hermanus J Haryanto, breeder halfmoon berkualitas sekaligus eksportir cupang hias, tak kesulitan memasarkan hasil produksi. Sering bertanding di kontes cupang internasional membuat pemilik Betta4ever itu mampu menjajakan halfmoon ke hobiis Singapura, Amerika Serikat, Australia, Jerman, dan beberapa negara di Eropa. “Selain dikenal juga bisa memperluas pasar,” katanya.

Di dunia maya, ayah 2 putra itu menawarkan halfmoon tangkarannya seharga US$25—US$35/ekor atau setara Rp250-ribu—Rp350-ribu seekor. Bila permintaan rata-rata 10 ekor/bulan berarti Hermanus mampu mendulang omzet minimal Rp3-juta—Rp4-juta saban bulan.

Lokal terbuka

Tak melulu pasar internasional yang menjanjikan keuntungan tinggi. Pasar cupang dalam negeri pun masih terbuka lebar. Maraknya kontes membuat bisnis cupang semakin bergairah. Hampir tiap minggu kontes diselenggarakan. “Dulu kontes tidak seramai sekarang. Paling sebulan 1—2 kali,” ujar Oktrado F Harahap SH LL M, pengacara sekaligus peternak cupang di Bogor. Menurut Ado—demikian ia disapa—harga cupang sekarang lebih kompetitif. Selain itu, banyak pemain baru bermunculan lantaran tertarik pada biaya produksi rendah dan perawatan mudah.

Tak pelak, para pemain keranjingan berburu cupang anakan hingga indukan berkualitas ke sentra-sentra. Permintaan yang masuk ke breeder pun kian hari bertambah besar. “Kita kehabisan cupang ukuran M plus. Permintaan luarbiasa tinggi,” kata Leo Pratomo, breeder di Slipi. Menurutnya kawasan Slipi kini “kekeringan” lantaran permintaan sangat tinggi.

Menurut Leo permintaan halfmoon dari daerah seperti Surabaya, Malang, Cirebon, Yogyakarta, dan Bandung meningkat hingga 30% dibanding 3—4 bulan sebelumnya. Hobiis Surabaya dan Malang meminta 300—500 ekor/bulan sedangkan Cirebon 200 ekor/bulan. “Permintaan halfmoon ukuran M saja bisa 500—1.000 ekor/bulan. Itu pun belum semua terpenuhi. Pokoknya kalau ada barang pasti terjual. Masalahnya stok tidak ada,” katanya. Dengan mematok harga halfmoon kualitas B Rp5.000/ekor, halfmoon standar pun laris manis bak kacang goreng.

Untuk halfmoon kontes dijual Rp75-ribu—Rp100-ribu/ekor. Berarti total jenderal omzet Leo bisa mencapai Rp5-juta—Rp10-juta/bulan. Marfa Aldest Arindra, peternak cupang di Yogyakarta juga lebih memilih pasar lokal untuk meraup untung. “Pasar serit Indonesia mencapai 75—80%. Pasar lokal saja masih luas, bahkan cenderung kekurangan,” ujar Aldest.

Dalam sebulan ia mampu menjual 200—300 serit kualitas standar dan 100—150 ekor untuk kontes ke Yogyakarta, Purworejo, dan Temanggung. Tak heran saat Trubus berkunjung ke farm di Yogyakarta ratusan akuarium berukuran 40 cm x 20 cm x 20 cm tampak kosong lantaran tandas diborong. Dengan harga rata-rata serit kualitas kontes warna dasar dan kombinasi Rp100-ribu—Rp200-ribu, ia mampu mendulang omzet minimal Rp10-juta—Rp14-juta/bulan.

Kendala

Tak ada yang menyangkal bila berbisnis cupang hias mendatangkan keuntungan luar biasa. Maklum, hanya bermodalkan akuarium kaca atau stoples plastik, tanpa aerator dan fi lter, cupang bisa hidup. Biaya pakan pun relatif murah dan mudah diperoleh. Bloodworm, cacing sutera atau cacaing beku tak seberapa harganya. Yang diperlukan cuma perawatan dan ketelatenan merawat agar ikan tumbuh sehat dan berkualitas.

Namun, di balik kenikmatan itu, terdapat kendala. Untuk bisa menembus pasar ekspor ternyata gampanggampang susah. “Hobiis mancanegara menginginkan ikan berkualitas. Sedangkan untuk mendapatkan ikan kualitas cukup sulit,” kata Andree. Bila pasar lokal tidak menyediakan barang berkualitas, ia pun tidak ragu mengimpor dari Th ailand.

Selain kontes, dibutuhkan relasi  dan jaringan pasar. Oleh karena itu Joty menyarankan agar bergabung dengan asosiasi atau perkumpulan ikan hias. “Biasanya pihak luar mengenal kita dari organisasi yang kita ikuti. Selain itu, harus sering ikut kontes internasional,” kata ketua InBS itu. Menurut ayah 2 putri itu untuk menembak pasar lokal, kontes lokal cukup menjanjikan terbukanya jaringan.

Itu dilakukan William THE, dari Jakarta. Buktinya, sejak 3 bulan lalu Art director stasiun televisi swasta MTV itu rajin mengikuti kontes dan berpromosi di internet. Ia pun mulai dikenal oleh komunitas di lokal dan mancanegara. “Sekarang sudah ada permintaan dari Filipina, Amerika Serikat, dan Eropa. Itu akan saya tindaklanjuti.

Pasar cupang tetap ramai kalau kontes juga ramai,” kata alumnus University of New South Wales, Sidney itu. Bila semua kendala itu teratasi, untung beternak dan berdagang cupang dapat dinikmati semua pihak. Tidak mustahil cupang-cupang hias Indonesia akan merajai dunia Betta splendens di seluruh dunia. (Rahmansyah Dermawan/Peliput: Hanni Sofi a dan Laksita Wijayanti)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img