Monday, August 15, 2022

Bianglala di Anthos Oura

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Anthurium bianglala hasil silangan black dragon dengan hookery variegataAnthurium bak pelangi kini lahir di negeri sendiri.

Anthurium berumur 8 bulan di kediaman Sugianto di Semarang, Jawa Tengah, itu terlihat istimewa. Musababnya, daun-daun anthurium sepanjang 25 cm itu berwarna kombinasi merah muda, kuning, dan hijau. Tanaman anggota famili Araceae itu lazimnya hanya berwarna hijau. Penampilan kerabat aglaonema itu semakin indah karena bersosok vigor.

Sugianto memperoleh anthurium variegata bak bianglala itu dari Aneka Nurseri milik Eddy Pranoto di Semarang, Jawa Tengah, pada awal 2013. “Pertama kali melihat langsung jatuh cinta,” katanya. Maklum, ia belum pernah menjumpai anthurium semarak warna seperti itu. Padahal, saat itu warna merah muda pada daun belum muncul sempurna. Sugianto pun memboyong sepot anthurium bianglala itu setelah merogoh kocek Rp5-juta.

 

Sedikit

Bagi pria berusia 47 tahun itu, mendapat anthurium cantik dengan harga Rp5-juta bak mendapat durian runtuh. Apalagi ia mendapatkannya tanpa tawar-menawar. “Harganya relatif murah sebab nonjenmanii,” katanya. Harga bibit Anthurium jenmanii variegata bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah. Semakin tegas corak variegata, maka harga akan semakin mahal. Apalagi ditunjang dengan susunan daun roset dan batas warna variegata jelas.

Menurut Soetopo, pehobi di Klaten, Jawa Tengah, sejatinya populasi anthurium nonjenmanii di tanahair cukup banyak, tetapi minim peminat. “Sebagian besar pencinta anthurium tetap setia pada anthurium berdarah jenmanii,” ujarnya. Itu karena ciri khas jenmanii berkarakter gagah saat dewasa: bersosok besar, berdaun lebar, dan berurat daun nyata. “Jenmanii mendominasi hampir di setiap nurseri di tanahair,” kata pemilik nurseri Topo Tani itu. Saat ini, jenmanii variegata terutama jenis  mangkuk, kobra, dan tanduk paling dicari.

Anthurium variegata nonjenmanii justru mudah dijumpai di Thailand. Ir Horas Pardomuan Batubara, kolektor anthurium di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, menuturkan Thailand kaya dengan anthurium berdaun merah. Kalau pun jenis itu ada di tanahair, pasti impor dari negeri Gajah Putih. “Saya belum pernah melihat anthurium merah silangan lokal,” kata pehobi anthurium sejak 2004 itu.

Para penangkar anthurium di Thailand memang berlomba menghasilkan anthurium berdaun merah. Di sana, anthurium merah pertama kali diperkenalkan oleh Pramote Rojruangsang, kolektor sekaligus penyilang di Pathumthani, Thailand, pada awal 2009. Ketika itu anthurium merah itu berusia 2 tahun. Anthos oura itu merupakan  generasi ketiga hasil silangan black dragon variegata dan hibrida gelombang cinta. Sejak itu Jiew—sapaan Pramote—gencar mengajak rekan-rekannya untuk menyilangkan kerabat philodendron itu.

Namun, tanaman kerabat talas itu sulit menembus pasar tanahair. Menurut Pardomuan kini pencinta anthurium sangat hati-hati pada produk impor. Musababnya, kerap terjadi produk baru itu dilempar ke pasar dalam jumlah sedikit dengan harga sangat mahal. “Seolah-olah tanaman itu langka. Padahal, mereka sudah mempunyai banyak persediaan,” kata Pardomuan. Mereka mampu memproduksi raja daun dalam jumlah besar dengan teknik kultur jaringan.

Ketika para peminat mulai banyak, maka perlahan produk akan membanjiri pasar sehingga harga turun. “Yang paling dirugikan adalah pembeli awal yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi produk baru itu,” tutur Pardomuan. Pengalaman pada 2009 ketika harga raja daun anjlok membuat jera para pehobi tanaman hias. Oleh karena itu, kini pehobi mulai berpaling dari anthurium impor dan memilih hasil silangan lokal.

 

Lokal

Anthurium bianglala milik Sugianto bukan datang dari Thailand, melainkan hasil silangan Eddy Pranoto pada 1,5 tahun silam. Ia mengawinkan anthurium burgundi berumur 4 tahun sebagai induk jantan dan hookeri variegata hijau putih berumur 2 tahun sebagai induk betina. Eddy selalu menggunakan anthurium hookeri variegata sebagai betina sebab peluang untuk memperoleh warna merah lebih besar. Sementara itu, untuk pejantan ia menggunakan anthurium berdaun gelap seperti black dragon, burgundi, dan black beauty.

Eddy lantas menyemai biji dari buah hasil perkawinan silang itu di atas media tanam berupa pakis halus. Saat tanaman memiliki 3 daun, Eddy memindahkan ke media tanam berupa campuran pakis kasar, sekam padi, dan pasir malang dengan perbandingan 2:2:1. Tanaman itu ia letakkan pada ruangan yang memiliki sirkulasi udara lancar dan memiliki kelembapan 80%. Untuk kebutuhan nutrisi ia hanya memberikan pupuk lambat urai setiap 3 bulan.

Silangan anthurium black dragon dengan hookeri variegata menghasilkan anakan yang sangat cantik. Bercak merah muda terdapat nyaris di setiap helai daun. “Warna merah semakin nyata seiring dengan umur tanaman,” kata Eddy.

Menurut Eddy peluang memperoleh anthurium bianglala sangat kecil, hanya 5% dari seluruh biji yang disemai. Oleh karena itu, untuk memperbanyak hibrida baru itu Eddy menempuh perbanyakan vegetatif dengan cara pemisahan bonggol. Dengan cara itu tunas baru yang muncul mempunyai karakter sama dengan induk. Ia memotong bonggol tanaman yang sudah berumur setahun. “Tanaman yang berumur kurang dari setahun memiliki bonggol sangat muda. Bila tetap dipotong maka bonggol rentan mati,” katanya. Sejatinya, Eddy belum bersedia melepas anakan-anakan variegata nonjenmani berwarna merah itu. “Persediaan masih terbatas,” katanya.

Menurut Ir Edhi Sandra MSi, ahli Fisiologi Tumbuhan dari Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, duduk perkara munculnya warna merah dari persilangan antara anthurium berdaun gelap dengan hookeri variegata harus dilakukan analisis lebih dalam. Tujuannya untuk mengetahui kebenaran apakah kedua induk yang digunakan mengandung gen warna merah yang resesif. Kecenderungan penyilang selalu menggunakan anthurium berdaun gelap sebagai pejantan dan hookery variegata sebagai betina menunjukkan, “Kemungkinan gen pembawa karakter warna merah dominan dari pejantan,” katanya.

Bila ada pencinta anthurium (dari kata anthos oura berarti bunga ekor) yang tertarik pada anthurium berwarna merah, Edhi menyarankan untuk mengecek asal-usul tanaman itu. “Warna merah bisa saja muncul karena perlakuan tertentu,” kata Edhi. Namun, ia menuturkan hasil karya Eddy Pranoto merupakan sebuah inovasi. Itu bisa membangkitkan semangat para pelaku anthurium untuk tetap bergairah menghasilkan jenis-jenis baru yang berkualitas. (Andari Titisari)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img