Friday, August 12, 2022

Pasar Cari Ayam Umur Sehari

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ayam kampung umur sehariIndustri day old chick (DOC) ayam kampung menggeliat. Jawaban atas pesatnya pertumbuhan peternak ayam kampung.

Beternak ayam kampung bagi Kunto Anggoro di Batam, Kepulauan Riau, memang menjanjikan. Dengan populasi 5.000 ekor yang dibesarkan di 3 kandang masing-masing seluas 500 m2 itu Kunto kewalahan memenuhi permintaan rumah makan dan hotel. Pria 40 tahun itu hanya bisa memasok 500—1.000 ekor per pekan. “Saya baru bisa memenuhi 40% kebutuhan pasar,” ujar ayah 2 putra itu.

Menurut Kunto di Kota Batam paling tidak terdapat 30 peternak ayam kampung pedaging. Mereka menjadi mitra Kunto. Total jenderal bila menghitung pasokan seluruh mitra, Kunto memasarkan 5.000 ayam kampung per pekan. Namun, volume pasokan itu tetap kurang, apalagi Kunto kini melebarkan sayap pemasaran hingga ke Pulau Karimun, Pulau Tanjungpinang, dan Pulau Tanjungbatu.

Kunto menuturkan mitranya selalu membeli DOC ayam kampung yang ia sediakan. Paling tidak setiap bulan alumnus sekolah menengah kejuruan itu menjual 20.000—30.000 DOC. Sumbernya? Kunto membeli dari beberapa penyedia DOC ayam kampung di Pulau Jawa. Salah satu penyedia DOC itu berada di Bogor, Jawa Barat. “DOC yang dihasilkan pertumbuhannya cepat, sudah divaksin, dan memiliki warna bulu menarik,” ujar Kunto yang menjual seharga Rp8.000—Rp8.500 per ekor kepada mitranya.

 

Tinggi

Pamor ayam kampung pedaging memang terus mencorong sejak 2010. Citarasa daging lezat dan gurih yang jauh mengungguli ayam ras membuatnya diminati masyarakat. Banyak rumah makan dan restoran yang 95% pengunjungnya adalah masyarakat menengah ke atas menyajikan menu berbahan baku ayam kampung. “Di Batam banyak warga Tionghoa memilih mengonsumsi ayam kampung daripada ayam broiler,” kata Kunto.

Secara nasional konsumsi daging unggas masyarakat Indonesia mencapai 7 kg/kapita/tahun dengan produksi pada 2009 mencapai 282.692 ton. Konsumsi itu jauh lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia      (36,7 kg) dan Thailand (13,5 kg). Data Statistik Konsumsi Pangan 2012 yang dikeluarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian memperlihatkan pada kurun 2007—2011 konsumsi daging ayam kampung nasional berkisar 0,521—0,678 kg/kapita/tahun.

Ade Meirizal Zulkarnain dari Kelompok Peternakan Rakyat Ayam Kampung Sukabumi (Kepraks) menuturkan banyak orang tertarik terjun beternak ayam kampung, tetapi kesulitan mendapatkan DOC. “Semestinya orang dengan mudah mendapat DOC berkualitas,” ujar ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) itu yang berharap ke depan ayam kampung menyumbang 25% dari produksi total unggas nasional itu.

Untuk tujuan itu Ade bekerja sama dengan PT Warso Unggul di Desa Tangkil, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk memproduksi DOC ayam kampung secara besar-besaran. Menurut Ade saat ini kapasitas produksi Warso Unggul mencapai 120.000 DOC per bulan. Volume itu diperoleh dari 10 kandang produksi  seluas 240 m2 yang masing-masing berisi 1.750 betina dan 96 jantan. “Produksi telur per hari mencapai 612 butir per kandang dengan 85% di antaranya lolos masuk mesin pengeraman,” kata Ade. Mesin pengeram di Warso Unggul berkapasitas 140.000 telur.

Dengan kapasitas produksi hingga ratusan ribu itu menurut Ade, Warso Unggul baru bisa memenuhi 1% dari permintaan. Permintaan itu datang dari peternak di Bogor, Tangerang, Jambi, hingga Batam di Kepulauan Riau. “Kami menjual seharga Rp6.300 per ekor,” kata Ade yang menargetkan produksi DOC sebesar 3,2-juta per tahun pada 2014.

Yang juga melirik bisnis DOC ayam kampung adalah Her Bram Setyawan di Klaten, Jawa Tengah. Bram yang memulai sejak 2006 itu kini memproduksi 3.000—4.000 DOC ayam kampung per hari. Kapasitas produksi itu seluruhnya diserap oleh 8 agen penjual yang bermitra dengan pria 47 tahun itu. “Harga DOC saat ini terus meningkat,” ujar Bram. Sebagai gambaran Bram menuturkan pada 2006 ia hanya menjual DOC ayam kampung Rp600—Rp1.500/ekor, tapi kini harga itu melonjak hingga Rp3.700—Rp4.200/ekor.

 

Kendala

Bisnis DOC ayam kampung tidak lepas dari kendala. Dr Ir Tike Sartika MSi dari Balai Penelitian Ternak di Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menjelaskan pembibit DOC selama ini banyak mengeluhkan sulitnya mengurus surat perizinan. “Hal ini bisa dipecahkan dengan membentuk kelompok peternak kecil,” ujarnya. Itulah yang dilakukan Ade dengan peternak di Sukabumi, Jawa Barat yang membentuk Kepraks.

Risiko lain menurut ahli pemuliaan dan genetika ternak itu adalah modal. Harap mafhum biaya membeli alat tetas berkualitas cukup tinggi. Bram membeli sebuah alat penetas berkapasitas 30.000 telur Rp250-juta. Padahal pemilik Meko Penetasan itu memiliki sekurangnya 4  alat penetas dengan kapasitas serupa.

Menurut Ade Meirizal, calon peternak pembibit juga mesti paham bila induk mempunyai batas produksi. “Maksimal induk bisa dipakai sampai umur 75 minggu, setelah itu apkir dan bisa dijual,” katanya. Puncak produksi induk berada di umur sekitar 30 minggu. Pada saat puncak itu ayam kampung unggul Balitnak (KUB), misalnya, dapat menghasilkan 154 butir/ekor/6 bulan. Bandingkan dengan ayam kampung biasa yang rata-rata 80 butir/ekor/tahun. “KUB potensial sebagai penghasil DOC,” ujar Tike Sartika yang membidani kelahiran KUB.

Andai kendala itu bisa diatasi sehingga jumlah pembibit bertambah, impian menjadikan ayam kampung sebagai salah satu unggas unggulan nasional bisa tercapai. (Dian Adijaya S/Peliput: Pressi Hapsari dan Rizky Fadhilah)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img