Thursday, May 14, 2026

Bisnis Alpukat Gurih

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Rahono mengebunkan 74 pohon alpukat miki di lahan seluas sekitar 2.000 m² di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Pohon-pohon itu ia tanam dengan jarak 6 m × 4,5 m sehingga cukup lega untuk perkembangan kanopi dan sirkulasi udara. Dari populasi tersebut, Rahono mampu memanen rata-rata 1,2 ton buah sekali panen dalam rentang tujuh bulan musim produksi. Mayoritas buah berbobot lebih dari 500 gram, ukuran yang menjadi incaran pedagang dan penyedia buah premium. Hasil panen itu kemudian ia jual kepada sebuah perusahaan pemasok yang selama ini rutin menyerap alpukat dari kebun-kebun pekebun kecil.

Usaha alpukat terbukti tetap menjanjikan meski diusahakan dalam skala tidak terlalu luas. Rahono mendapatkan harga berbeda berdasarkan kelas buah, yaitu kelas A seharga Rp25.000 per kg untuk 60% panenan dan kelas B seharga Rp18.000 per kg untuk sisanya. Dari seluruh hasil panen, pendapatan yang ia peroleh mencapai Rp26,6 juta dan nominal itu tergolong besar bagi kebun seluas hanya seperlima hektare. Penghasilan tersebut bahkan mampu menutup separuh biaya umroh yang sejak lama ia rencanakan. Rahono juga tidak mengeluarkan banyak biaya produksi karena perawatan alpukat relatif ringan.

Keuntungan lain yang ia rasakan adalah efisiensi kerja karena pemasok mengambil peran penuh dalam pemanenan. Setiap kali panen, Rahono cukup memberi kabar kepada perusahaan mitra untuk menentukan jadwal pemetikan. Setelah menerima informasi, mereka datang langsung ke kebun, memanen seluruh buah, lalu mengangkutnya ke gudang pengemasan. Skema itu membuat Rahono tidak perlu memikirkan biaya tenaga kerja panen, transportasi, maupun pemasaran. Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa menanam alpukat tetap memungkinkan bagi pekebun kecil yang memiliki waktu terbatas.

Dodi Jarwoko, pekebun alpukat hass asal Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, mengutarakan pendapat serupa kepada calon petani mitra yang ingin bekerja sama dengannya. Ia menganjurkan mereka menanam minimal 50 pohon alpukat hass agar hasilnya layak secara ekonomi. Jika satu pohon mampu menghasilkan 100 kg per tahun, maka 50 pohon menghasilkan total 5 ton buah. Dengan harga jual minimal Rp20.000 per kilogram, potensi omzet mencapai Rp100 juta per tahun atau setara Rp8,3 juta per bulan. Bagi Dodi, pendapatan sebesar itu cukup untuk menopang kebutuhan keluarga tanpa harus bekerja tambahan.

Peluang itu membuat minat pekebun terhadap alpukat hass meningkat tajam sehingga sudah 10.000 bibit tersebar ke para petani mitra. Produksi yang stabil dan harga yang relatif kuat membuat alpukat termasuk komoditas hortikultura yang prospektif. Selain itu, tren konsumsi buah berlemak baik juga meningkat sejalan dengan gaya hidup sehat dan berkembangnya industri kuliner. Pasar restoran, hotel, hingga gerai minuman mengandalkan alpukat berkualitas tinggi untuk menu andalan mereka. Kebutuhan besar itu menciptakan peluang untuk memperluas kebun ataupun meningkatkan produktivitas tanaman.


Artikel Terbaru

PFI Perkuat Peran Filantropi sebagai Penggerak Solusi Nasional dalam Rapat Umum Anggota 2026

Trubus.id – Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menegaskan peran strategis filantropi sebagai penggerak solusi atas berbagai tantangan pembangunan nasional dalam Rapat...

More Articles Like This