Thursday, December 8, 2022

Bisnis Arwana di Tahun Naga

Rekomendasi

Warna merah perlambang kebahagiaanPenanggalan Tiongkok menabalkan 2012 sebagai tahun naga air. Apakah permintaan arwana superred yang sohor sebagai ikan naga bakal meningkat?

Hobiis arwana di Cilandak, Jakarta Selatan, Stephen Suryaatmadja SE MBA, mengatakan saat Imlek – jatuh pada 23 Januari – waktu yang pas bagi masyarakat Tionghoa untuk memasukkan ikan baru ke dalam rumah. “Mereka percaya di rumah harus ada makhluk hidup yang tidak tidur untuk menjaga mereka, yaitu ikan,” ujar Stephen yang juga keturunan Tionghoa. Pilihan jatuh pada ikan berwarna merah dan hitam. Merah melambangkan kemakmuran dan berkah; sedangkan hitam, penjaga.

Itulah sebabnya, alumnus Hawaii Pasific University, Honolulu, Amerika Serikat, itu memprediksi permintaan arwana pada tahun naga air alias 2012, bakal meningkat. “Masyarakat Tionghoa menyebut arwana superred itu hung lung, artinya naga merah yang bersifat menarik rezeki,” ujar Ketua Umum Arowana Club Indonesia itu. Superred berwarna merah terang. “Bagi masyarakat Tionghoa, warna merah perlambang kebahagiaan,” kata ahli kebudayaan dan tradisi Tiongkok dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Asminur Soffian Udin.

Udin menjelaskan bahwa dahulu masyarakat Tionghoa menjadikan ikan sebagai pelengkap ritual dan simbol panjang umur. “Lihat saja banyak aksesori bergambar ikan seperti di angpao. Maksudnya agar yang diberi angpao juga panjang umur,” ujar pria berusia 78 tahun itu. Apalagi tahun naga merupakan tahun besar bagi masyarakat Tionghoa. “Dibandingkan shio-shio lain, naga merupakan hewan paling hebat,” kata Udin yang 28 tahun menjadi konsultan fengshui dan tradisi China itu.

Dominasi mini

Belakangan, orang memelihara beragam ikan seperti arwana di akuarium. Bentuk arwana yang molek dan gaya berenang anggun membuat ikan naga itu banyak hobiis meminatinya. Tak heran bila permintaan superred di pasar domestik maupun mancanegara semakin meningkat. “Setiap tahun permintaan superred meningkat 5 – 10%,” kata Sriyadi, penangkar arwana di bawah bendera PT Arwana Citra Ikan Hias Indonesia di Joglo, Jakarta Barat.

Pada 2010 Sriyadi menjual total 550 superred, rata-rata berukuran 12 – 35 cm; sementara pada 2011 meningkat menjadi 600 ekor. Dari jumlah itu, 50% untuk pasar Jakarta. “Sisanya untuk pasar di Malang, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Palembang, Manado, dan Papua,” kata akuntan publik itu. Di daerah itu, Sriyadi menjual superred kepada pedagang dengan harga bervariasi. Harga untuk ukuran terkecil, 10 cm, Rp3,5-juta 15 cm (Rp4-juta), dan 20 cm (Rp5-juta).

“Untuk ikan berukuran kurang dari 20 cm, penentuan harga berdasarkan panjang. Namun, jika panjang lebih dari 25 cm, harga bergantung dari kualitas warna dan bentuk badan ikan,” kata penggemar bulutangkis itu. Para pedagang biasanya meminta arwana berukuran kecil, 12 – 15 cm. “Agar saat dijual kembali dan kondisi ikan sudah besar, untungnya juga besar. Jika rugi, masih bisa tertutupi karena belinya tidak terlalu mahal,” ujar Sriyadi yang memiliki 150 induk superred di 5 kolam masing-masing berukuran 20 m x 30 m berkedalaman 1,5 m.

Tren aquascaping arwana – diperkenalkan pertama kali pada 2003 – belakangan ini juga memicu permintaan ikan kahyangan di pasar lokal. Bila semula para hobiis aquascaping hanya menikmati warna-warni tanaman air, kini ikan naga emas itu juga memanjakan indra penglihatan mereka. Pebulutangkis nasional, Candra Wijaya, misalnya, memiliki aquascaping arwana superred di akuarium 200 cm x 90 cm x 90 cm.  Tren “taman air” itu keruan saja berimbas pada meningkatnya permintaan arwana, terutama  di pasar domestik.

Tumbuh 30%

Permintaan arwana di mancanegara lebih mencorong. “Permintaan superred selalu meningkat sejak 2009 dengan rata-rata peningkatan 30% per tahun,” ujar eksportir ikan hias di Cibinong, Jawa Barat, Tjap Khiat Bun. Pemilik CV Maju Akuarium itu mengekspor superred ke Tiongkok, Hongkong, Taiwan, Filipina, Kanada, Korea Selatan, dan negara-negara di Eropa. Tjap mengatakan bahwa volume ekspor terbanyak ke dua negara yang disebut pertama, yakni 60%. Ia kini menjajaki pasar Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab dan Iran.

China memang masih menjadi kiblat pasar ekspor superred Indonesia. Tengok saja PT Elkindo dan PT Arwana Indonesia. Pada Desember 2011 Elkindo mengekspor 205 superred ukuran 15 cm ke negeri Panda itu. “China merupakan negara tujuan ekspor superred terbesar,” kata Edo Kristanto dari PT Elkindo. Selain itu, PT Elkindo juga mengekspor siluk ke Filipina, Hongkong, dan Vietnam. Sejak Juli – Desember 2011 Edo mengirimkan 400 arwana berukuran 15 cm ke negara-negara tujuan ekspor.

Menurut Edo permintaan Schleropages formosus pada 2011 meningkat 20% dibandingkan 2010. “Itu karena adanya pembeli baru dari China,” ujarnya. Saat ini Edo memang memfokuskan penjualan untuk pasar mancanegara. “Permintaan lokal sebenarnya banyak, tapi tidak bisa terpenuhi lantaran pasokan terbatas,” tuturnya. Elkindo hanya memiliki 504 induk di 14 kolam berukuran masing-masing 12 m x 38 m berkedalaman 1,8 – 2m.Dalam setahun induk 3 – 4 kali bertelur dengan jumlah anakan 20 – 30 ekor per periode peneluran. “Pasar luar negeri juga menjadi pilihan karena permintaannya kontinu daripada pasar lokal,” tambah Edo.

Begitu juga PT Arwana Indonesia (PTAI) di Cimanggis, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, yang juga memfokuskan superred untuk pasar ekspor.  “Volume ekspor superred di PT AI pada 2011 meningkat 25% dibandingkan 2010,” kata manajer operasional PT Arwana Indonesia, Suwandi. Perusahaan itu mengirimkan 70% produksi superred ke China; sisanya ke Jepang, Singapura, Hongkong, dan negara-negara Eropa.

Ekonomi meningkat

Suwandi menduga peningkatan permintaan itu akibat pedagang di China langsung membeli arwana dari Indonesia sehingga harganya lebih murah. “Sebelumnya, mereka membeli dari Singapura dan Hongkong,” katanya. Selain itu, meningkatnya kondisi perekonomian China yang dikenal sebagai Macan Asia juga menjadi pemicu naiknya permintaan. Pada triwulan IV 2011 (September – Desember) Produk Domestik Bruto (PDB) Cina tumbuh 8,9% dibandingkan periode sama setahun sebelumnya.

Penjualan ritel di Desember 2011 juga naik 18,1 persen dari tahun sebelumnya. Artinya, daya beli masyarakat negeri Tirai Bambu itu meningkat sehingga dapat lebih menyalurkan hobi seperti memelihara superred. Secara umum ekspor arwana nasional cenderung meningkat. Data Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan, menunjukkan ekspor superred pada 2007 mencapai 7.386 ekor. Jumlah itu meningkat pada 2008 dan 2009, masing-masing 9.367 ekor dan 53.604 ekor.

Menurut Stephen peluang ekspor, terutama ke Tiongkok, makin terbuka karena negeri di Asia Timur itu sulit menangkarkan arwana akibat kualitas air untuk penangkaran rendah. Para hobiis di sana tergantung pada ikan naga merah asal Indonesia. Beberapa eksportir mengatakan permintaan itu bukan karena Imlek atau almanak Tiongkok yang menabalkan 2012 sebagai tahun naga air. Sebab, masyarakat Tiongkok yang mengerti budaya, justru menghindari arwana. “Sifat arwana yang kanibal dan buas dapat berdampak tidak baik bagi pemeliharanya,” kata Udin.

Udin mengatakan banyak orang China memelihara ikan naga merah itu karena bentuknya yang cantik dan anggun. “Harganya pun mahal sehingga mungkin memelihara arwana bagi orang China lebih kepada menunjukkan status sosial mereka,” katanya. Apa pun alasannya, perniagaan ikan arwana baik di pasar domestik maupun mancanegara memang  cerah. Para penangkar, tentu saja, berharap bisnis ikan naga merah makin tumbuh di tahun naga air. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Tri Istianingsih)

“Peningkatan ekspor ke China, 2030% bukan karena Imlek, tetapi karena kondisi perekonomian tumbuh 8,9% sehingga daya beli masyarakat meningkat.”

Sembilan Ikan

Simbol ikan kerap kita temui sebagai aksesori pada tradisi China seperti ang pao dan lukisan-lukisan di dinding rumah. Asminur Soffian Udin, ahli tradisi dan budaya China dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, menyatakan bahwa ikan perlambang panjang umur. Artinya, doa panjang umur tercurah bagi si penerima ang pao begitu juga pada si pemilik rumah.

Dalam kosakata Bahasa Mandarin, “yu” bermakna dua, ikan atau berlimpah. Itu pula sebabnya ikan kerap disebut sebagai lambang kejayaan, tepatnya kejayaan yang berlimpah. Seiring perkembangan zaman, manusia mulai memelihara ikan dengan harapan peruntungan menghampiri mereka. Menurut perhitungan feng shui, jika ingin beruntung sepanjang masa, pelihara saja 9 ikan mas. Pilih 8 ikan berwarna merah, 1 ikan berwarna hitam.

Lalu tempatkan ikan-ikan di kolam atau akuarium. “Itu bisa membawa keberuntungan dunia dan akhirat,” tutur Udin itu. Bila ingin mendapatkan manfaat ganda, penempatan akuarium dan kolam harus di belakang rumah. “Apabila ditempatkan di halaman depan, kanan, atau kiri rumah, akan membawa sial,” ujar Udin. (Tri Istianingsih)

 

Warna merah perlambang kebahagiaan

Permintaan superred di mancanegara meningkat 20 – 30%

Arwana berukuran 12 – 15 cm paling diminati pasar

Asminur Soffian Udin, masyarakat Tionghoa menjadikan ikan sebagai pelengkap ritual dan simbol panjang umur

Di China simbol ikan banyak ditemui sebagai aksesori di hiasan

Previous articleDemi Superred Impian
Next articleJARAK KEPYAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img