Trubus.id—Daun kratom Mitragyna speciosa tengah menjadi perbincangan hangat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih melakukan penelitian mengenai keamanan dan potensi kecanduan dari tanaman famili Rubiaceae itu.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menginisiasi berbagai riset kratom terutama penggunaan secara tradisional dan aktivitas kratom secara farmakologis. Hasil penelitan menunjukkan terdapat dua inflamasi yaitu di alkaloid dan ekstrak yang berefek analgesik
“Saat ini sedang dilakukan proses pengujian kratom untuk obat diabetes dengan uji in vivo dan in vitro,” ujar Kepala Pusat Riset Vaksin dan Obat, Organisasi Riset Kesehatan BRIN, pada BRIN Insight Every Friday (BRIEF) edisi 133 bertajuk Kratom: Traditional Uses vs Modern Applications (20/09/2024).
Lebih lanjut Masteria menuturkan, “Secara empiris pun didapat data dari beberapa teman di Kalimantan yang mempunyai riwayat diabetes dan mengkonsumsi kratom, ternyata level glukosanya menjadi rendah dan kondisinya menjadi lebih bagus dibandingkan sebelum mengkonsumsi kratom”.
Ia menuturkan Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN hingga saat ini telah melakukan penelitian kratom yang meliputi standarisasi ekstrak alkaloid, studi in vitro yang terdiri dari aktivitas antioksidan dalam sel.
“Kemudian aktivitas ant inflamasi ganda serta adjuvant untuk terapi kanker, dan studi in vivo yang meliputi aktivitas analgesik, putus obat atau withdrawal effect serta tes toksisitas akut oral,” ujar Masteria.
Menurut Masteria ekstrak kratom memiliki sifat antioksidan yang mampu melindungi sel dari radikal bebas seperti spesies oksigen reaktif (ROS) dan oksida nitrat.
“Ekstrak kratom berupa ekstrak kasar dan alkaloid memiliki aktivitas antiinflamatori melalui potensi penghambat-NSAID COX-2 dan 5-LOX. Dengan Efek samping yang lebih sedikit dan dapat digunakan sebagai adjuvant terapi kanker,” ujarnya.
Selain itu, ekstrak kratom memiliki efek analgesik in vitro dan in vivo. “Studi in vivo kami menunjukkan dalam dosis tertentu alkaloid kratom memiliki efek analgesik dua kali lipat lebih tinggi, daripada ekstrak kasar,” ujarnya dikutip dari laman BRIN.
Menurut Masteria alkaloid yang diberikan secara kronis dengan dosis yang ditingkatkan menginduksi lebih sedikit gejala putus obat (withdrawal effect) dibandingkan dengan kelompok morfin.
“Selain itu, alkaloid kratom saat digunakan untuk mengobati kelompok yang diobati morfin cenderung mengurangi gejala putus obat,” ujar Masteria.
Mengenal kratom
Melansir pada laman BRIN, kratom merupakan tanaman dari Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Melalui Kementerian Perdagangan, Pemerintah Indonesia secara resmi mengatur kebijakan penanganan, pemanfaatan, dan perdagangan kratom pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 tahun 2024.
“Kratom atau Mitragyna speciosa merupakan tanaman endemik di Asia Tenggara terutama di wilayah Malaysia dan Indonesi. Habitatnya mayoritas di Kalimantan, serta terdapat juga di beberapa daerah di Thailand. Umumnya kratom diekspor ke Amerika dan Eropa,” ujar Masteria.
Ia menuturkan penggunaan kratom secara tradisional dikonsumsi langsung daun keringnya, atau menyeduh dengan air panas dan diminum sebagai teh.
“Kratom dipercaya dapat mengobati infeksi usus, nyeri otot, batuk, diare, serta dapat meningkatkan energi dan suasana hati atau mood booster,” ujarnya.
Menurut Masteria pada abad ke-19, di Malaysia dan Thailand para pecandu opium menggunakan kratom untuk mengatasi kecanduan. Pada 1921, senyawa kratom pertama kali diisolasi oleh Hooper.
Riset itu berlangsung sejak 103 tahun yang lalu, hingga saat ini masih menjadi kontroversi.
Adapun pada Journal of The Chemical Society Transactions 1921 menyebutkan, Ellen Field mengisolasi senyawa mitragynine dan mitraversine dari Mitragyna speciosa. Ia menyebut penggunaan kratom untuk pengobatan pada kecanduan opium dan anestesi lokal.
Masteria menuturkan setidaknya terdapat 40 jenis senyawa alkaloid dalam daun kratom.
Lima senyawa utama yakni mitragynine, paynantheine, speciogynine,7-hydroxymitragynine, dan speciocilatine dengan kandungan senyawa yang bervariasi di setiap daerah yakni 50-70%.
“Senyawa yang paling banyak diteliti sifat-sifat analgesik serta adiksinya adalah mytraginine dan 7-hydroxymitragynine. Kedua senyawa ini juga menjadi senyawa tunggal untuk diteliti potensinya sebagai analgesik, inflamasi, serta untuk kanker,” ujarnya.
Pada 2021, WHO Expert Committee on Drug Dependence (ECDD) melakukan prereview dampak kesehatan kratom. Mereka menyimpulkan bahwa tidak ada cukup bukti untuk dilanjutkan ke tahap critical review, tetapi WHO tetap melakukan surveilans.
