Sunday, August 14, 2022

Burung Paruh Bengkok: Antara Gengsi dan Hoki

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Iwan (nama samaran) di Jawa Tengah, misalnya, tidak keberatan saat harus merogoh kocek dalam-dalam demi memiliki sepasang blue and gold macaw pada 2008. Meski tidak bersedia menyebutkan nilainya, di situs penyedia burung di Inggris harga anakan Ara macao berumur 8 – 9 minggu itu mencapai US$1.500 setara Rp15-juta per ekor (kurs 1 dolar = Rp10.000). Padahal saat Iwan membeli umur blue dan gold macaw itu hampir setahun.

Pengusaha elektronik itu mendadak ‘berani’ setelah dipanas-panasi kawannya, sesama pencinta burung paruh bengkok. ‘Tambah dong koleksinya dengan macaw, itu baru hebat,’ ujar Iwan meniru guyonan sang kawan. Di halaman belakang rumah seluas 120 m2 Iwan sebenarnya sudah memelihara beragam burung paruh bengkok lain seperti senegal Poicephalus senegalus, kakatua Cacatua goffini, lovebird Agapornis sp, dan cockatiels. ‘Setelah dapat gengsi sebagai kolektor sepertinya naik, karena tidak sembarang orang mau membayar mahal untuk burung,’ kata Iwan.

Gengsi? Menurut Sinaga Wiogo di Kelapagading, Jakarta Utara, memiliki burung paruh bengkok langka yang harganya selangit secara tak langsung mendongkrak citra pemiliknya. ‘Mereka senang ketika tamu atau teman yang datang terkejut saat mengetahui harga burung itu mahal,’ ujar Ahay – panggilan akrab – yang pernah mengoleksi beberapa jenis burung paruh bengkok langka itu.

Hoki

Soal gengsi memang ada dasarnya. Vichai Pinyawat, kolektor di Bangkok, Thailand menggambarkannya seperti memiliki mobil Ferrari. ‘Hanya sedikit orang memilikinya sehingga menjadi kebanggaan,’ kata penangkar perkutut ring VP itu. Seperti Ahay sebutkan di atas, Vichai senang saat koleganya terenyak kala mengetahui nilai koleksinya. Trubus yang berkunjung 4 tahun lalu terkejut begitu Vichai menyebutkan angka Rp30-miliar. Harap mafhum beberapa di antara koleksi itu mencapai harga ratusan juta rupiah.

Tak melulu gengsi, hoki alias keberuntungan adalah hal lain seperti dialami Purbawa di Manggarai, Jakarta Timur. Hobiis yang terjun memelihara paruh bengkok sejak 2009 itu paling menyukai saat bisa membesarkan burung paruh bengkok dari piyik hingga dewasa. ‘Tingkat kesulitannya tinggi karena burung mudah stres dan mati. Di sini hoki berbicara,’ kata manajer  administrasi di Balai Pelatihan Teknik Perkeretaapian (BPTP) di Bekasi, Jawa Barat.

Purbawa memilih burung paruh bengkok berukuran tubuh kecil-sedang seperti cockatiels, lovebird, senegal, blue greger parrot, dan african grey. ‘Burung-burung itu lebih tenang, tidak berisik seperti macaw, pakannya gampang, bisa dilatih, dan kotorannya tidak menjijikkan,’ ungkap ayah 3 putra-putri itu. Sifat yang disebutkan terakhir penting karena Purbawa sering bercengkerama dengan membiarkan burung-burung itu melompat-lompat di pundak dan tangan. ‘Kotoran mereka seperti biji, agak keras dan tidak cair. Untuk membersihkan bila menempel di baju gampang, cukup disentil,’ tambahnya.

Menurut Hery Alamsyah, kolektor burung paruh bengkok di Joglo, Jakarta Barat, unsur hoki terbesar adalah bisa memiliki burung paruh bengkok itu sendiri. ‘Kalau tidak punya hoki penghasilan, mana mungkin bisa membeli burung paruh bengkok seperti macaw yang harganya mahal,’ ujarnya.

Mengenai hoki penangkaran seperti dialami Purbawa memang dapat terjadi. ‘Beberapa burung paruh bengkok sangat sulit dijodohkan. Kalau berhasil tentu sangat bagus,’ ujar pengusaha di bidang perkayuan itu yang pernah merasakan panjangnya masa perjodohkan blue and gold macaw hingga 7 – 8 bulan itu.

Sedikit

Perkembangan burung paruh bengkok di tanahair memang tidak sepesat burung kicauan, perkutut, bahkan ayam hias. Menurut Dr Siti Nuramaliati Prijono, hobiis di tanahair mulai melirik memelihara burung paruh bengkok sejak 1980-an. ‘Jumlahnya tidak banyak karena selain mahal beberapa memerlukan izin dari yang berwenang karena termasuk burung yang dilindungi,’ kata kepala Puslit Biologi LIPI di Cibinong, Bogor, yang juga ahli burung paruh bengkok itu. Izin itu penting karena banyak eksploitasi burung paruh bengkok yang membuat populasi jenis-jenis tertentu melorot tajam menuju kepunahan.

Menurut Prof Dr Made Sri Prana MSc APU, dari Pelestari Burung Indonesia (PBI) di Jakarta, upaya penangkaran burung paruh bengkok memang perlu terus diupayakan agar burung-burung cantik itu tidak lekas punah. ‘Jika berhasil, selain sebagai usaha konservasi, juga bisa menjadi bisnis menguntungkan,’ katanya. Saat ini kakatua penangkaran bisa mencapai harga Rp25-juta/ekor. Macaw lebih mahal lagi, di atas Rp50-juta/ekor untuk ukuran dewasa.

Meski demikian usaha penangkaran terutama jenis lokal sebenarnya sudah berjalan. Anak Burung Tropikana (ABT) di Kabupaten Gianyar, Bali, sudah melakukan penangkaran lebih dari 20 tahun. Beberapa jenis yang berhasil ditangkarkan antara lain kakatua raja Probosciger atterimus, Cacatua alba, hingga bayan aru Eclecthus rotatus aruensis. ‘Kami saat ini menangkarkan sekitar 89 spesies burung paruh bengkok lokal,’ ujar Don Wells, salah satu direktur ABT berkebangsaan Amerika Serikat.

Saat ini di pasaran jenis burung paruh bengkok yang dijual kebanyakan didominasi parkit, ringneck, african grey, dan lovebird. Menurut Hendra Sutandi, importir burung di Pasar Burung di Jalan Pramuka, Jakarta Timur, konsumen menuntut burung paruh bengkok jenis-jenis itu karena tidak menyalahi aturan atau jenis yang tidak termasuk dilindungi. ‘Mereka juga ingin merasa aman dalam merawatnya,’ kata pria berusia 57 tahun itu.

Harga yang ditawarkan tidaklah murah. Parkit impor, misalnya, dijual Rp1,1-juta – Rp1,5-juta per pasang. Bahkan ringneck berbulu kuning bisa menembus Rp10-juta per pasang. Yang harganya lebih tinggi masih dikuasai lovebird. ‘Rubino yang berwarna campuran jingga dan putih bisa mencapai Rp15-juta per pasang,’ ujar Hendra yang rutin mengimpor dari Belanda, Singapura, dan Taiwan itu. Jika begini, gengsi dan hoki pun ikut berbicara saat sudah memilikinya. (Dian Adijaya S/Peliput: Lastioro Anmi T & Tri Istianingsih)

 

Aneka corak lovebird yang diminati pasar lokal

Kakatua raja Probosciger atterimus sudah dapat ditangkarkan

Purbawa, sukses tangkarkan burung paruh bengkok berarti hoki

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img