Friday, December 2, 2022

Calon Pedaging Unggul

Rekomendasi

Kambing pedaging baru: 12 bulan, 55 kg.

Lima belas ekor kambing jantan di kandang milik Bangun Dioro di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bersosok khas. Pendek, gemuk, dan kekar dengan bulu putih bersih. Janggut putih terurai sepanjang 15 cm, tanduk melingkar ke dalam. Bangun menyebut kambing itu hasil persilangan antara pejantan saanen dan betina ferral. Dari perkawinan itu lahirlah kambing dengan sosok tubuh menyerupai ferral: pendek dan kekar tapi bertanduk dan janggut seperti saanen.

Kambing silangan baru itu setinggi 60—65 cm. Bandingkan dengan saanen yang bisa mencapai 90 cm; ferral 50—55 cm. Bangun Dioro menyilangkan saanen dan ferral sejak awal 2010 untuk mendapat pedaging unggul. Harap mafhum kebutuhan kambing pedaging tinggi. Data proyeksi produksi dan konsumsi dari Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian pada 2005 memperlihatkan konsumsi daging kambing di tanahair selama 2006—2010 meningkat 1.000 ton/tahun. Pada 2010  konsumsi daging kambing mencapai 64.000 ton.  Peningkatan volume tersebut diperkirakan sama sampai 2014. Untuk memenuhi kebutuhan itu perlu kambing pedaging dengan pertumbuhan cepat sehingga cepat panen.

Lagipula biaya produksi kambing pedaging lokal mahal. Menurut Bangun kambing pedaging lokal seperti jawa randu membutuhkan pakan pabrik berkadar protein minimal 23% agar tumbuh cepat. Sebagai pembanding kambing silangan saanen dan ferral cukup mendapat pakan dengan kadar protein 12%. Makin tinggi kadar protein, kian mahal harga pakan.

Jantan bongsor

Menurut periset di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) di Bogor, Prof Dr I Ketut Sutama, persilangan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas ternak. “Jika melalui proses seleksi dalam satu rumpun, butuh waktu lama untuk mencapai generasi yang diinginkan,” kata Ketut Sutama. Mafhum peningkatan mutu genetik dalam rumpun relatif kecil, 2—4% per setahun. Dengan penyilangan peternak dapat memilih induk yang menurunkan sifat yang diinginkan pada keturunannya.

Bangun Dioro memilih pejantan saanen dan betina ferral untuk mendapatkan keturunan yang mempunyai pertumbuhan bongsor, mudah beradaptasi di berbagai lingkungan, tahan penyakit, serta berkarkas tinggi. Menurut anggota staf pengajar Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Dr Ir Muhammad Bata MS, saanen—asal lembah Saanen, Swiss—tergolong kambing dwiguna yakni andal sebagai pedaging dan penghasil susu. Kambing jantan dewasa bisa mencapai bobot 90 kg dan tinggi 90 cm; betina 60 kg, tinggi 80 cm. Bandingkan dengan kambing pedaging lokal pada umur sama hanya berbobot 30—35 kg.

Sementara menurut Bangun ferral tergolong kambing lokal dari Australia. Bobot ferral dewasa pejantan mencapai 60 kg, tinggi 55—60 cm cm; betina bobot 30 kg, tinggi 45—50 cm. Ferral memiliki tekstur daging halus dan lembut. Postur tubuhnya gemuk tanda banyak daging. Kelebihan lain ferral tahan penyakit.

Bangun Dioro memilih pejantan saanen berpostur tubuh kekar. Kaki dan leher kokoh serta bentuk tubuh panjang. Umur minimal 2 tahun dan bentuk kepala menyerupai rusa. Sementara betina ferral dipilih yang sehat, berumur minimal 2 tahun, dan pernah melahirkan. Tujuannya untuk menghasilkan kelahiran kembar. “Jika pernah melahirkan persentase kelahiran kembar bisa di atas 60%,” kata pria kelahiran Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu. Seekor pejantan saanen dapat dikawinkan dengan 10 betina ferral.

Bobot anakan lahir tunggal dapat mencapai 3,5—4 kg. Sementara bobot anakan kembar berkisar 2—2,5 kg. Menurut Wildan Suryadharama, peternak di Sumedang, Jawa Barat anakan jantan lebih disukai karena pertumbuhannya lebih cepat. Pada umur sama bobot pejantan 2 kali bobot  betina. Menurut Dr Ir Dedi Rahmat MS, staf pengajar Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, pejantan cepat bongsor karena memiliki hormon androgen—hormon pertumbuhan—lebih banyak daripada betina.

Karkas tinggi

Peternak itu lalu memberi pakan berupa pakan pabrik berkadar protein 12%. Menurut pria 42 tahun itu agar kambing tumbuh optimal, kecukupan nutrisi pakan perlu diperhatikan. Dosisnya 2% dari bobot tubuh per hari. Sementara untuk hijauan berupa rumput segar dan daun  indigofera sebanyak 5—10% bobot tubuh. Frekuensi pemberian pakan pabrik dan hijauan masing-masing 2—3 kali sehari.

Pada umur 5—6 bulan pejantan kambing silangan saanen dan ferral mencapai bobot 25 kg. Sementara saat menginjak umur 12 bulan, 55 kg. Bobot betina umur setahun mencapai 25—30 kg. Bobot itu jelas lebih tinggi dibanding kambing pedaging lokal. Pejantan priangan misalnya berbobot 30—35 kg pada umur 12 bulan.

Kambing pedaging silangan baru itu memiliki bobot karkas tinggi. Menurut Bangun, karkas silangan saanen dan ferral bisa mencapai 55%. Artinya, dari 100 kg bobot hidup mampu dihasilkan lebih kurang 55 kg daging. Bandingkan dengan kambing lokal hanya 45—48%. “Bahkan jika bobot silangan di atas 60 kg, persentase karkas bisa melonjak menjadi 60%,” tutur pria kelahiran 4 Desember 1971. Semakin banyak daging, peternak dan konsumen makin senang.

Peternak biasa menjual kambing pedaging pada umur 11—12 bulan atau ketika mencapai bobot minimal 50—55 kg per ekor. Merujuk data Dinas Peternakan Jawa Barat dengan tingkat harga pada April 2013 Rp37.200 per kg bobot hidup, seekor kambing umur 1 tahun berbobot 55 kg bisa dijual dengan harga Rp2,046-juta.

Kehadiran silangan itu pun hemat biaya produksi. Kebutuhan jumlah pakan sama dengan pedaging lokal, tapi kadar protein pakan lebih rendah. Peternak cukup memberi pakan berkadar protein 12%. Bandingkan dengan pabrik berkadar protein minimal 23% yang lebih mahal. Kualitas daging kambing silangan baru itu pun tergolong mumpuni. Menurut Bangun, tekstur daging berwarna merah itu lembut sehingga cocok untuk dijadikan satai ataupun kambing bakar. Itu pun diimbangi oleh kadar lemak yang rendah.

Keberadaan tanduk memberi nilai lebih lain, terutama untuk penjualan kambing menyambut Hari Raya Kurban. Menurut Dedi Rahmat, di masyarakat masih ada anggapan bahwa domba untuk kurban harus bertanduk panjang. Mafhum saja Hari Raya Kurban merupakan momen emas bagi peternak untuk menangguk harga terbaik. Dalam beberapa tahun mendatang, boleh jadi saanen x ferral menjadi andalan peternak sebagai kambing pedaging unggul. (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)

 

FOTO-FOTO:

  1. Bangun Dioro silangkan saanen dan ferral untuk mendapat pedaging unggul
  2. Silangan saanen dan ferral umur 12 bulan mencapai bobot 55 kg, kambing lokal hanya 30—35 kg
  3. Saanen sebagai pejantan mempunyai bobot dewasa hingga 90 kg
  4. Ferral sebagai betina,  tahan penyakit dan tekstur daging bagus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img