Friday, August 19, 2022

Candradimuka Petani Muda

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Perintis Kelas Sektimuda di Bogor, Taufiqurrahman Muhammad (baju biru, keempat dari kiri).

TRUBUS — Sekolah Tani Muda membidani lahirnya petani muda andalan bangsa.

Keong mas Pomacea canaliculata sohor sebagai hama utama padi. Agung Nurrohman justru melihat keong mas sebagai hewan yang menguntungkan. Warga Desa Cikulak, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, itu membuat pupuk organik cair dari moluska air tawar itu. Alasannya keong mas mengandung nutrisi dan bakteri yang bagus bagi tanaman.

Taufiqurrahman Muhammad juga memiliki racikan pestisida nabati ampuh. Pria yang kini berdomisili di Desa Cibedug, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat itu membuat pestisida nabati berbahan dasar jahe Zingiber officinale, serai Cymbopogon citratus, dan kipahit Tithonia diversifolia. Pria yang akrab disapa Taufik itu ingat betul cara membuatnya. Ia melarutkan semua bahan yang telah dihaluskan, menambahkan gula, lalu memfermentasikannya selama 2 pekan.

Regenerasi

Keesokan hari, ia mengecerkan 250 ml pestisida nabati dengan 14—16 liter air. Itu cukup untuk aplikasi di lahan 3.000 m2. Agung dan Taufik memperoleh pengetahuan membuat pupuk organik cair dan pestisida nabati selepas menempuh pendidikan di Sekolah Tani Muda (Sektimuda) selama 3 bulan. Sektimuda yang berlokasi di Desa Minomartani, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah stimewa. Yogyakarta (DIY) itu mengajarkan ilmu pertanian meliputi materi teknis, organisasi, serta pengembangan jaringan pasar dan sesama petani.

Hasil panen ubi jalar oleh Sektimuda Bogor mencapai 40 kg.

Taufik bergabung dengan Sektimuda pada Desember 2016, sedangkan Agung pada Maret 2019. Bukan buku atau pulpen peralatan sekolah Taufik dan Agung, melainkan cangkul, garu, arit, dan gembor. Itu perlengkapan andalan semua murid Sektimuda.

Cerita Taufik dan Agung menunjukkan tingginya minat pemuda menekuni pertanian. Itulah salah satu tujuan Sektimuda yakni menyiapkan regenerasi petani yang kini menua.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyatakan tidak ada lagi petani di Indonesia pada 2063 jika penurunan jumlah petani terus terjadi. Perintis Sekolah Tani Muda, Muhammad Qomarun Najmi, menuturkan, semula Sektimuda ditujukan untuk meningkatkan kapasitas petani secara umum tanpa memandang umur. “Melihat tren yang tengah bergulir, penting juga memunculkan kembali petani muda,” ujar pria yang kerap disapa Qomar itu.

Kelas perdana Sektimuda dibuka pada 20 Desember 2013. Banyak pihak terlibat pendirian Sektimuda. Qomar mengatakan, “Ini adalah kolaborasi dari berbagai instansi seperti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Serikat Petani Indonesia, Yayasan Jenderal Soedirman Center, dan Pondok Pesantren Mursyidul Hadi.” Sekolah pertanian khusus pemuda yang sudah beranggotakan 600 orang itu menekankan konsep pertanian alami dengan memanfaatkan bahan di sekitar lokasi.

Menyebar

Alumnus Departemen Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, UGM, itu berpendapat hal tersebut mendorong petani menjadi mandiri dalam hal kebutuhan benih, pupuk, dan pestisida. Harap mafhum, sekolah pertanian yang lahir di Kota Yogyakarta itu memiliki tiga prinsip utama yaitu kesetaraan, kebersamaan, dan kemandirian. Menurut Taufik, Sektimuda mengajarkan cara mengelola organisasi yang baik.

Ia menuturkan, “Kami diajarkan mengatur pekerjaan secara efektif terutama proses budidaya dan pemasaran sehingga lebih efisien.” Selain itu tidak ada senioritas di Sektimuda. Setiap orang memiliki derajat setara dalam berbagi ilmu. Tidak ada ketua. Semua orang bertanggung jawab dan harus saling mengisi sebagai anggota organisasi. Sektimuda yang semula hanya di Kota Yogyakarta menyebar ke berbagai provinsi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Pelopor Sektimuda Cirebon, Agus Nurrohman, memanen padi.

Alumni mempunyai andil dalam pembukaan kelas Sektimuda di berbagai daerah itu. “Setelah menyelesaikan satu periode pendidikan selama 3 bulan, mereka pulang ke daerahnya masing-masing dan menginisiasi Sektimuda,” kata Qomar. Lihat saja Agung yang membuka Sektimuda di Cirebon pada Januari 2021. Petani sejak 2019 itu membuka kelas untuk orang terdekatnya yang berjumlah 10 orang. Sebelumnya Taufik membuka kelas pertama Sektimuda di Kabupaten Bogor pada November 2020 dengan partisipan 10 orang.

Taufik dan rekan menyewa lahan 500 m2 yang ditanami sawi dan ubi jalar. Selang 3 bulan, mereka pun memanen 40 kg ubi jalar. “Meskipun tidak banyak, ada perasaan bangga bisa memanen hasil jerih payah kami,” ujar Taufik. Qomar mengatakan, Sektimuda juga melebarkan kegiatan yakni dengan membangun koperasi. Nantinya koperasi menyediakan berbagai keperluan bertani seperti pupuk organik dan benih. Selain itu, koperasi membantu petani mendistribusikan produk dan membangun jejaring dengan petani di daerah lain.

Rencananya Sektimuda menggiatkan program berlandaskan pertanian berbasis masyarakat atau community-supported agriculture (CSA). Model CSA dapat menghubungkan produsen dan konsumen secara langsung. Artinya, ada transparansi antara produsen dan konsumen. (Andriyansyah Perdana Murtyantoro)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img