Thursday, February 9, 2023

Cara Baru Mengatasi Lalat Buah

Rekomendasi

Trubus.id — Lalat buah menjadi hama utama budidaya mangga. Pasalnya, serangan lalat buah mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas buah serta menjadi kendala saat mengekspor buah segar. Oleh karena itu, petani perlu tahu kiat mengatasi lalat buah.

Gejala serangan lalat buah pada mangga biasanya berupa noda-noda kecil bekas tusukan pada buah. Noda-noda itu menimbulkan bercak cokelat dan lubang di sekitar buah. Dampaknya, gejala itu menurunkan harga jual. Bahkan, hasil panen tidak laku dijual.

Untuk mengurangi serangan lalat buah, petani bisa meniru apa yang diterapkan di kebun Waryana dan Kelompok Tani Angling Darma. Di kebun itu, petani menerapkan teknologi pengelolaan lalat buah skala luas atau area-wide management (AWM).

Teknologi tersebut merupakan hasil kerja sama antara Balitbu dan Direktorat Perlindungan Hortikultura, Kementerian Pertanian, Department of Agriculture and Fisheries Queensland Government, dan Australian Center for International Agricultural Research (ACIAR).

Menurut Andi Abdurahim, S.Si., anggota staf fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Ahli Pertama Direktorat Perlindungan Hortikultura, di Indramayu penerapan AWM dilakukan di tiga wilayah.

Dua wilayah ditetapkan sebagai area perlakuan dan satu wilayah sebagai area kontrol. Dua area perlakuan, yaitu Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang (40 hektare) dan Desa Sliyeg Lor, Kecamatan Sliyeg (60 hektare).

Adapun area kontrol terletak di Desa Jambak, Kecamatan Cikedung (40 hektare). Area perlakuan adalah area yang diberi perlakuan berupa teknik pengendalian lalat buah secara lengkap dan masif. Sementara itu, area kontrol merupakan area yang tidak diberi perlakuan sama sekali.

“Namun, pada area kontrol tetap dipasang perangkap lalat buah untuk menjelaskan seberapa besar populasi lalat buah pada area ini dibandingkan dengan area perlakuan,” kata Andi.

Penerapan AWM lalat buah terdiri atas dua tahap. Tahap pertama adalah pemasangan blok kayu (wooden block) yang dilakukan setiap dua bulan sekali. Jumlahnya 350 unit di masing-masing area perlakuan.

Blok kayu berupa papan partikel berukuran 5 cm × 5 cm × 1 cm. Pada bagian tengah kayu dibuat lubang untuk memasukkan kawat agar bisa dikaitkan pada dahan pohon.

Selanjutnya, blok kayu itu direndam dalam larutan yang telah tercampur metil eugenol (ME) dan insektisida dengan perbandingan 4:1 selama 24 jam.

Setelah itu, tiriskan dan siapkan wadah tertutup agar baunya tidak menguar ke segala penjuru. Waryana lalu menggantung blok kayu itu pada dahan tanaman mangga setinggi 1,5–2 meter dari permukaan tanah.

Pemasangannya berjarak 50 meter dari satu tanaman ke tanaman lainnya atau setiap 5 tanaman. Penentuan tanaman berdasarkan kondisi geografis setempat. Tahap selanjutnya, ia menyemprotkan 25 ml umpan protein pada 4 titik di bawah kanopi tanaman mangga (spot spray).

Penyemprotan umpan protein dilakukan sepekan sekali sejak buah mangga sebesar kelereng hingga panen. Penyemprotan pada pagi pukul 08:00–10:00 WIB. Andi menuturkan penerapan teknologi pengendalian lalat buah dengan menggunakan umpan protein merupakan kegiatan berkala.

“Untuk itu, perlu komitmen dari petugas dan petani untuk melakukan gerakan pengendalian,” tutur Andi.

Keberhasilan pengendalian lalat buah dengan penggunaan umpan protein dalam skala luas perlu kerja sama dengan berbagai pihak dalam penerapannya. Cara itu sudah dilaksanakan bukan hanya di Indramayu, melainkan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Ia menjelaskan, indikator keberhasilan dari hasil penelitian di kedua wilayah menunjukkan penerapan teknologi pengelolaan lalat buah skala luas pada tanaman mangga mampu menurunkan populasi lalat buah.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Limbah Tandan Kelapa Sawit Diolah Menjadi Bahan Baku Fashion

Trubus.id — Indonesia, produsen sekaligus eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), produksi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img