Biji salak sumber antioksidan dan berkhasiat meredakan hipertensi.

Trubus — Setiap kali tekanan darah meningkat, Sujiyanto pusing yang hebat. Kondisi itu mengganggu aktivitasnya sebagai petani kelapa sawit di Kabupaten Rokanhilir, Provinsi Riau. Pria berusia 38 tahun itu mengonsumsi obat dari dokter untuk mengatasi tekanan darah tinggi. Gangguan pusing pun hilang setelah ia mengonsumsi obat dari dokter. Namun, itu tak bertahan lama. Dalam hitungan pekan, hipertensinya kambuh kembali.

Menurut Sujiyanto tekanan darah sistoliknya lebih dari 130 mmHg ketika kambuh. Sewaktu pulang kampung ke Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, seorang rekan memperkenalkannya pada seduhan biji salak. Rekannya menuturkan, seduhan biji salak mujarab mengendalikan hipertensi.
Biji terbuang
Semula Sujiyanto tidak percaya, tetapi terdorong membuktikannya. Pria kelahiran Wonosobo pada 1981 itu mengambil 1 sendok serbuk biji salak dan 150 ml setara 1 cangkir air panas. Ia menuturkan, “Setelah coba, rasanya aneh, seperti kopi tapi ada rasa sepat salak.” Meski demikian ia rutin mengonsumsi seduhan serbuk biji salak 2—3 kali sehari.
Setelah rutin konsumsi rebusan biji salak selama 3 pekan, pusingnya reda. Pengecekan terakhir pada awal 2019, tekanan darahnya kembali normal pada kisaran 120 mmHg. Selama ini masyarakat membuang biji ketika mengonsumsi buah salak. Padahal, tanaman kerabat pinang itu banyak tumbuh di sekitar kita, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera—yang menjadi daerah asal salak. Kemudian tanaman anggota famili Arecaceae itu menyebar ke Bali, Lombok, Timor, Maluku, dan Sulawesi.

Melimpahnya produksi salak di Indonesia mendorong tumbuhnya industri pengolahan buah salak. Perpaduan sepat dan manis menjadi rasa khas buah Salacca zalacca. Di Kabupaten Wonosobo biji salak mulai meramaikan toko oleh-oleh khas dataran tinggi Dieng itu.
Menurut pengolah biji salak di Wonosobo, Eko Yulianto, biji salak berkontribusi sekitar 50% dari bobot buah. Sebelumnya, ia pernah membuat manisan dan kerupuk salak sewaktu kuliah. Kini alumnus Jurusan Akuntansi Universitas Sains Al Quran itu fokus mengolah biji salak menjadi seduhan berkhasiat. Eko mencuci biji salak di bawah air mengalir 7 kali hingga air bilasan terlihat bersih.

Setelah meniriskannnya, ayah 2 anak itu menjemur biji salak di bawah sinar matahari langsung selama 7 hari saat musim kemarau. Ketika musim hujan, penjemuran sampai 14 hari. Sebanyak 1 kg biji segar menghasilkan 1 ons biji kering. Ia menyangrai biji salak kering selama 1 jam. Pria yang genap berusia 32 tahun pada Juli 2019 itu sengaja memesan alat sangrai berupa tabung besi tahan karat yang dapat menampung 6 kg biji kering.
Rendah kafein
Eko lantas menghaluskan biji salak dengan mesin hammer mill hingga tingkat kehalusannya 100 mesh. Serbuk biji salak dalam kemasan berlapis aluminium foil dapat bertahan hingga setahun.
Eko mengujikan serbuk biji salak ke Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo. “Yang terbanyak adalah kandungan polifenol sebagai antioksidan. Polifenol juga menurunkan kolesterol dan hipertensi,“ tutur Eko.
Periset di Politeknik Kesehatan Denpasar, Provinsi Bali, I Wayan Karta dan rekan menguji kandungan serbuk biji salak. Biji salak mengandung antioksidan 436,91 mg/l GAEAC (gallic acid equivalent antioxidant capacity) dengan nilai IC50 9,37 mg/ml. Menurut Eko kesulitan mengolah biji salak adalah menentukan racikan. Ia perlu 10 kali percobaan selama 4 bulan untuk memperoleh racikan yang tepat.
Hasilnya serbuk biji salak dengan tampilan menarik dan rasa yang pas. Warnanya hitam pekat dengan rasa pahit dan sepat khas salak. Ia menganjurkan seduhan biji salak sebagai alternatif kopi bagi mereka yang tidak bisa mengonsumsi minuman tinggi kafein. Sujiyanto juga melanggani serbuk biji salak bikinan Eko. Ia menjadikan seduhan biji salak sebagai pengganti kopi. “Saya rutin minum seperti ngopi biasa, sehari 2 kali pada pagi dan sore,” kata Suji.

Bagi yang suka manis, dapat menambahkan gula dan krimer. Devi Lestari dan rekan-rekan periset dari Pendidikan Teknologi Pertanian Universitas Negeri Makassar, membenarkan seduhan biji salak sebagai alternatif kopi Coffea sp. Pada uji organoleptik seduhan biji salak dan biji kopi, sebagian panelis berpendapat serbuk biji salak hampir sama dengan bubuk kopi arabika. Bedanya, biji salak mengandung karbohidrat lebih tinggi sekitar 78%, sedangkan kopi arabika 62%. Kafein biji salak juga sangat rendah 0,2% sedangkan kopi arabika 1,16%. (Sinta Herian Pawestri)
