Cara Petani di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, Menjaga Harga dan Kualitas Cabai

0
harga cabai
Pasokan cabai di Kelompok Tani Maju. (Trubus/ Muhamad Fajar Ramadhan)

Trubus.id—Harga cabai berfluktuasi, saat turun hingga harga terendah petani merugi. Petani cabai lazimnya menitipkan hasil panen pada pengepul. “Petani dulu tidak tahu harga jual sebenarnya, pernah juga harga jual lebih rendah daripada biaya produksi,” kata Petani cabai di Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Armanto.

Imbasnya pengepul kerap mendapatkan laba dominan, terutama ketika terjadi lonjakan harga.  Adapun petani kerap merugi ketika harga jatuh. Kondisi itu berubah setelah terbentuknya kelompok tani dan lelang yang dilakukan Armanto dan para petani setiap hari untuk menentukan harga.

Menurut Armanto kelompok taninya menentukan harga cabai dengan lelang. Para pengepul datang ke tempat pelelangan cabai yang sudah disiapkan petani. Kemudian masingmasing pengepul melakukan penawaran.

Harga tawaran tertinggi dari pengepul itulah yang menjadi acuan harga harian cabai. “Dengan sistem lelang, petani dan pengepul sama-sama untung,” kata petani cabai sejak 2014 itu. Sejak saat itu harga jual cabai tidak pernah lebih rendah daripada biaya produksi.

Menurut pemerhati pertanian setempat, Grengseng Pamuji, S.Pt., tidak mudah membentuk budaya baru di tingkat petani, banyak pula kelompok tani yang berguguran.

Sarjana Peternakan alumnus Universitas Gadjah Mada itu mengatakan, jika petani berserikat akan memiliki daya tawar kuat dihadapan pengepul. Grengseng mencontohkan, harga suatu produk akan terjaga jika terjamin kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.

Ia menuturkan untuk mencapai hal itu tidak bisa dilakukan petani perseorangan dengan luas lahan rata-rata 3.000 meter persegi. Namun, jika berserikat memungkinkan memasok produk dengan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas terjamin. Imbasnya harga cabai pun relatif stabil.

Menurut Grengseng membentuk sebuah kelompok tani relatif sulit, tidak bisa memaksakan suatu program pada petani atau kelompok tani. Perlu edukasi bertahap sehingga membentuk suatu budaya. Edukasi bertahap itu pula secara tidak langsung meningkatkan kemampuan petani.

Pada zaman modern petani tidak sekadar menghasilkan produk baik. Petani dituntut paham tata niaga dan harga. Armanto contohnya. Semula ia sekadar membudidayakan cabai. Kini pekebun cabai di lahan 8.000 meter persegi itu juga kerap memantau harga cabai.

Armanto menghubungi kolega di berbagai sentra lain cabai seperti Kabupaten Temanggung, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah untuk memperoleh informasi harga cabai. Tujuannya sebagai acuan pembukaan harga lelang.

Edukasi lain pada pengepul yang memiliki peran vital. Mendistribusikan produk dari petani ke pasar induk hingga konsumen. Edukasi berupa tepat penanganan distribusi dan transparansi harga.

Petani berserikat salah satu siasat tepat terjaminnya kualitas, kuantitas, dan kontinuitas cabai. Imbasnya harga lebih terkendali dan mengurangi risiko inflasi. Mereka pun bersemangat menanam si pedas.