Tuesday, August 9, 2022

Cara Siam Tanam Pupia

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Budidaya pupia di Thailand dengan para-para dan sprinkler.

Semula gulma, pupia menjadi primadona baru di Thailand.
Semula gulma, pupia menjadi primadona baru di Thailand.

Kebun seluas 6.400 m² itu penuh tiang-tiang beton segiempat bersisi 5 cm. Di ujung setiap tiang setinggi 2 m tertambat kabel baja berukuran hampir sebesar jari kelingking. Kabel-kabel itu membentang di seluruh kebun dan membentuk para-para yang menghubungkan semua tiang berjarak 4 m x 4 m itu. Dari tanah di bawah setiap tiang, tumbuh tanaman menjalar yang cabang-cabangnya merambat di kabel.

Itulah panorama kebun pupia alias gac fruit di Kabupaten Kamphengsieng, Provinsi Nakhonpathom, Thailand. Saat buah muda, kulit berwarna kuning cerah. Semakin tua, warna kulit kian jingga sampai akhirnya menjadi merah pucat. Pemilik kebun, Pon Chai, menanam pupia itu sejak pertengahan 2012. Ia memasok kebutuhan bahan baku sebuah produsen minuman berbahan buah pupia di Provinsi Nakhonpathom.

 

Penyiraman otomatis

Biji pupia yang baru berkecambah.
Biji pupia yang baru berkecambah.

Sebelum menanam, Pon Chai menancapkan 400 tiang beton dengan jarak 4 m x 4 m sebagai penopang cabang tanaman. Di ujung setiap tiang beton tertancap kawat baja berdiameter 0,7 cm membentang dari tiang ke tiang. Di sela membujur tiang beton, Pon memasang senar mirip senar pancing membentuk anyaman bujursangkar bersisi 20 cm.

Kawat atas dan senar itu menjadi “pegangan” untuk perambatan sulur tanaman pupia. Untuk menghadapi kemarau, Pon menyiapkan jaringan pipa dan sprinkler. Jarak antarsprinkler sama dengan tiang beton, 4 m.

Air memancar selama 5 menit pada pukul 16.00 setiap hari. “Penyiraman jangan terlalu basah agar tanaman tidak terserang cendawan,” kata Pon. Pengadaan pilar beton, para-para kawat, dan sistem pengairan itu tidak murah. Pon membelanjakan 120.000 baht—setara Rp48-juta—di luar pembelian benih, pupuk, dan tenaga kerja. Cara itu menjamin produktivitas tinggi dan biaya operasional rendah.

Sumber nutrisi
Pon Chai hanya memerlukan 500 l air per hari untuk menyiram. Meski demikian kebutuhan air tanaman tercukupi. Dengan demikian tanaman anggota famili Cucurbitaceae itu tetap berproduksi meski pada kemarau. Namun, ia membiarkan sebagian tanaman kekeringan sebagai ganti pemangkasan.

Untuk mempertahankan kesuburan, Pon Chai memberikan pupuk NPK 2 kali setahun, yaitu pada Februari dan September. Ia membenamkan padatan pupuk ke dalam tanah di sekitar perakaran. Setiap kali memupuk, lahan seluas itu memerlukan 50 kg pupuk sehingga dalam setahun ia memberikan 100 kg pupuk NPK. Selain pupuk kimia, Pon juga memberikan pupuk organik dari limbah media tumbuh jamur tiram.

Pria berusia 52 tahun itu memfermentasi limbah jamur dengan bahan hayati racikan sendiri berbahan herbal lokal Thailand. Ia membeli bahan itu di pasar terdekat. Sebulan sekali ia menabur pupuk itu lalu mengaduk dengan tanah di sekitar perakaran. Cairan yang terbentuk dari fermentasi itu juga ia semprotkan ke tajuk. Cara budidaya pupia relatif mudah.

Menurut periset fisiologi tanaman di Nakhonpathom Rajabhat University (NPRU), Thailand, Dr Pitakpong Pompranee, jenis kelamin tanaman baru diketahui setelah berbunga. “Jenis kelamin biji, bibit, maupun tanaman muda tidak bisa ditentukan,” kata asisten rektor NPRU itu. Hal itu menjadi kendala bagi pekebun lantaran hanya tanaman betina yang menghasilkan buah.

Panen
“Masa panen pupia sepanjang tahun, tetapi panen raya terjadi pada Mei—Juli,” kata Pon. Setiap tanaman menghasilkan 50 kg buah berbobot 500—700 g. Produktivitas mencapai 50 kg buah pupia per tanaman per tahun. Semakin tua tanaman semakin tinggi produksi lantaran cabang semakin banyak.

Dr Pitakpong Pompranee, periset di Nakhonpathom Rajabhat University, Thailand.
Dr Pitakpong Pompranee, periset di Nakhonpathom Rajabhat University, Thailand.

“Dengan pemupukan intensif dan pemangkasan teratur, produktivitas buah semakin tinggi dengan banyaknya cabang,” kata Pitakpong. Menurut Dr Wichet Leelamanit, ahli fitofarma di Departemen Biokimia Universitas Mahidol, Bangkok, pupia primadona baru bagi petani Thailand. Fakkao—sebutan pupia di Thailand—itu ramai ditanam 10 tahun terakhir.

Sebelumnya pupia malah dianggap gulma di perkebunan tanaman buah. “Jika menjumpai tanaman pupia, petani langsung menebangnya karena tanaman itu cepat tumbuh, tajuknya rimbun, dan berumur panjang sehingga dikhawatirkan mengganggu produktivitas tanaman utama,” kata Wichet. Setelah khasiatnya diketahui, pupia pun naik kelas. Budidaya sederhana, perawatan mudah, dan produktif menjadi daya tarik utama. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img