Monday, August 8, 2022

Cari Jejak Perutak di Siberut

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dua speed boat yang berjalan beriringan pun terpaksa berlabuh di 2 tempat berbeda. Keduanya terpisah sejauh 7 km. Perjalanan ke Muaratakungan terpaksa ditunda.

Selama 5 hari 5 malam gempuran badai dan hujan deras tak kunjung usai. Lima peneliti?dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Conservation Internasional Indonesia?yang berlabuh di Tiniti terpaksa menginap di pondokan Janthi. ?Kita seperti terdampar di pulau asing. Hanya selembar pakaian yang menempel di tubuh yang menemani. Semua perlengkapan dan peralatan di perahu yang lain,? kata Dr Tukirin Partomiharjo, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi LIPI, Bogor.

Hampir setiap hari, ombak pantai mengganas. Biji bintaro dan nipah terlihat terdampar di pasir di tepian pantai. Namun, tak satu pun terlihat pohon-pohon penciri pantai perawan itu. ?Ternyata keragaman pantai sudah menipis,? ujar Tukirin, doktor dari Universitas Kagoshima, Jepang, itu. Pantai Tiniti yang labil?rusak akibat eksploitasi hutan?tampak gersang. Tak ada hutan bakau sebagai ciri pantai perawan yang stabil. Hanya tanaman perintis alami seperti cemara laut yang tumbuh. Barisan kelapa yang ditanam penduduk terlihat berjejer.

Muaratakungan

Lima hari berselang, badai mereda. Perahu yang mengangkut peralatan tiba. Perjalanan dilanjutkan menuju Muaratakungan dengan berjalan kaki di atas tanah alluvial selama 2 jam. Dari muara, perahu yang sejak tadi mengikuti dengan menyisir pantai, kembali dinaiki menuju hutan Takungan. Jarak antara muara dengan hutan pedalaman yang dituju sekitar 3 km. Dalam perjalanan itu sesekali melintas satwa endemik Kepulauan Mentawai. Sebut saja siamang kerdil, monyet ekor babi, beruk mentawai, dan lutung mentawai.

Keesokan harinya, eksplorasi flora pun dimulai. Tukirin menyisiri hutan milik Janthi yang luasnya di atas 100 ha. Maklum, hutan di Pulau Siberut tak dimiliki negara, tetapi dikuasai oleh penduduk setempat. Alumnus Jurusan Biologi Universitas Jenderal Soedirman itu berjalan sejauh radius 3 km ke-8 penjuru mata angin. Di situlah Tukirin melihat sarang semut Myrmecodia sp menempel di batang-batang pohon.

Pemandangan di Pulau Siberut tampak berbeda dengan di Papua. Di ujung timur Indonesia, perutak?sebutan sarang semut di Semenanjung Malaysia?tumbuh menempel di pohon-pohon hutan primer. ?Di Papua, myrmecodia menempel di pohon tua yang hampir lapuk,? ujar Tukirin. Di Kepulauan Mentawai, anggota keluarga Rubiaceae itu berasosiasi dengan pohon sekunder hingga primer. Tukirin melihat, sarang semut hidup di pohon terentang, sengon, dan akasia. Beberapa pohon nipah yang ditemui di pinggir sungai pun tampak ditumbuhi sarang semut.

Satu jenis

Usai pengamatan di Takungan selama 5 hari, rombongan kembali ke daerah Tiniti pedalaman. Seperti diduga, pemandangan hampir serupa di Takungan pun ditemukan. Umbi-umbi sarang semut sebesar bola takraw menempel dan menggantung di pepohonan. ?Kadang-kadang, tak sampai 20 m kita sudah bertemu lagi sarang semut,? kata Tukirin.

Populasi sarang semut di Pulau Siberut itu cukup mengagetkan Tukirin. Pasalnya, studi literatur sebelum keberangkatan tak ada yang menyebutkan Siberut kaya sarang semut. ?Ini menjadi laporan baru,? ujar kurator anggota famili Rubiaceae itu.

Dari pengamatan Tukirin, seluruh sarang semut yang tersebar di Takungan dan Tiniti berjenis sama: Myrmecodia tuberosa. Diduga sarang semut juga menyebar ke Kepulauan Mentawai lain. Sebut saja Pulau Batu, Pulau Pageh, dan Pulau Sipora.

Sayang, sebaran sarang semut yang melimpah di Kepulauan Mentawai itu tak diamati oleh penduduk setempat. ?Mereka menganggapnya tanaman hutan biasa. Tak ada yang memanfaatkan,? ujar Tukirin. Itu berbeda dengan penduduk Papua yang akrab dengan sarang semut sebagai obat tradisional sejak 3 generasi lalu.

Toh, perjalanan yang hampir merenggut nyawa itu tetap berkesan. Ternyata Pulau Siberut?dan pulau lain di Kepulauan Mentawai?yang masih perawan kaya sarang semut dan plasma nuftah lain. Semoga rusaknya bibir pantai Tiniti akibat penebangan liar tak terulang di hutan lain yang masih menghijau. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img