Saturday, January 17, 2026

Catat Transaksi Fantastis di Pameran FHA 2025 Singapura, Kakao Hingga Madu Jadi Komoditas Unggulan

Rekomendasi
- Advertisement -

Produk makanan dan minuman (mamin) Indonesia berhasil mencatatkan nilai transaksi sebesar USD 43,7 juta atau sekitar Rp736 miliar dalam ajang Food and Hotel Asia (FHA) 2025 di Singapore Expo pada 8—11 April 2025. Nilai itu berasal dari tujuh kontrak ekspor senilai USD 32,2 juta untuk produk seperti kakao, cokelat, madu, hingga bumbu organik.

Selain kontrak yang telah diteken, terdapat potensi transaksi tambahan senilai USD 11,5 juta atau hampir Rp194 miliar. Produk yang diminati mencakup mi instan, camilan organik, dan aneka rempah-rempah khas Indonesia.

Produk-produk tersebut dipamerkan di Paviliun Indonesia selama pelaksanaan FHA 2025. Kehadiran paviliun ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Perdagangan RI, Atase Perdagangan Singapura, dan KBRI Singapura.

Dukungan penuh juga diberikan oleh Bank Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Paviliun Indonesia tercatat menarik lebih dari 5.714 pengunjung selama acara berlangsung.

Duta Besar RI untuk Singapura, Suryo Pratomo, menyebut partisipasi Indonesia sebagai hasil kerja sama yang membanggakan antara pemerintah, BUMN, perbankan, dan sektor swasta. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam mempromosikan produk-produk unggulan Indonesia di pasar global.

Pembukaan Paviliun Indonesia dilakukan oleh Dubes Suryo bersama Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Singapura, Widi Agustin, dan Kepala Kantor BRI di Singapura, Dhanny. Acara ini juga dihadiri CEO Informa Indiana Forest-Bisley sebagai penyelenggara FHA 2025 serta perwakilan perusahaan dan importir Singapura.

Tahun ini, Paviliun Indonesia menghadirkan jumlah peserta terbanyak sepanjang keikutsertaan Indonesia di FHA, yakni 35 pelaku UMKM dari sektor mamin, rempah, dan pertanian. UMKM tersebut merupakan binaan Kemendag, Bank Indonesia, dan BRI.

Selain UMKM, terdapat pula 13 perusahaan besar Indonesia yang difasilitasi pemerintah untuk ikut serta. Beberapa di antaranya adalah Wings Group, Manohara, Savoria, dan Solo Murni.

Dubes Suryo menambahkan, di tengah dinamika perdagangan global, promosi untuk eksportir UMKM harus diperkuat. Menurutnya, pembinaan, pembiayaan, hingga promosi harus dilakukan secara optimal dan berkelanjutan.

Salah satu UMKM yang ikut serta adalah APB Food Indonesia yang membawa berbagai varian sambal. Pendiri APB, Erna Sari, menyebutkan bahwa produk mereka menarik perhatian banyak calon pembeli dari Malaysia, Singapura, dan Arab Saudi.

Saat ini, APB Food Indonesia sedang dalam tahap pendekatan dengan beberapa mitra potensial. Erna berharap dapat segera menutup kesepakatan dan kembali berpartisipasi di FHA tahun depan.

FHA merupakan salah satu pameran produk mamin internasional terbesar di dunia dan menjadi ajang strategis bagi pelaku industri global. Tahun ini, FHA diikuti oleh peserta dari 61 negara dan dikunjungi lebih dari 73 ribu orang dari berbagai sektor industri.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyebutkan bahwa sektor mamin menjadi tulang punggung industri ekspor Indonesia dalam lima tahun terakhir. Ia berharap promosi terus diperkuat melalui sinergi antar sektor.

Tren ekspor produk mamin Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 10,55 persen secara tahunan (YoY) pada 2024. Kemendag RI mendorong promosi berkelanjutan dengan memperkuat kolaborasi bersama perbankan, BUMN, dan pelaku industri lainnya.

Atase Perdagangan Singapura, Billy Anugrah, menyampaikan bahwa Paviliun Indonesia selalu hadir dalam FHA selama satu dekade terakhir. Menurutnya, FHA adalah salah satu ajang pameran unggulan yang secara rutin diikuti Indonesia.

Billy menambahkan, keikutsertaan Paviliun Indonesia telah menciptakan kerja sama strategis dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekspor produk mamin sebesar 62 persen ke pasar Singapura. Ini menunjukkan peran penting FHA dalam membuka akses pasar regional dan global.

Dilansir pada siaran pers Kemendag berkomitmen terus menyediakan akses bagi para pelaku ekspor Indonesia, terutama UMKM. Hal ini dilakukan melalui kolaborasi sinergis dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memperluas jangkauan pasar global.

Pada Januari 2025, total perdagangan Indonesia dan Singapura tercatat sebesar USD 2,27 miliar. Untuk sektor nonmigas, ekspor Indonesia mencapai USD 583 juta, sedangkan impor dari Singapura sebesar USD 549,2 juta.

Selama periode 2020 hingga 2024, perdagangan kedua negara tumbuh dengan tren positif sebesar 9,42 persen. Total perdagangan pada 2024 tercatat sebesar USD 33,72 miliar.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img