“…menghilangkan bau badan dan melangsingkan tubuh,” ujar artis penyanyi Mayangsari di televisi. Kunyit asam keluaran Sidomuncul itu memang lagi naik daun. Untuk membuat minuman kesehatan berisi ekstrak kunyit 60% itu, Sidomuncul membutuhkan pasokan kunyit segar 4 ton per hari.
Minuman kunyit asam itu merupakan produk unggulan ke—3 dari Sidomuncul setelah Kukubima dan Tolak Angin. Menurut Bambang Supartoko dari Sidomuncul, sejak produk minuman itu gencar diiklankan pada 2002 hingga sekarang, kebutuhan kunyit segar melonjak. Sebelumnya pabrik itu lebih banyak menggunakan kunyit kering sebagai campuran jamu. Minimal 4 ton kunyit kering per bulan dipasok dari beberapa pengepul di seputaran Jawa Tengah.
Kebutuhan Sidomuncul meningkat mencapai 8—10 ton per hari memasukiFebruari—April karena kadar air tinggi pada pasokan kunyit segar. Sebagaiperbandingan, Juli—Oktober, bertepatan musim panas, untuk memperoleh 50 kg ekstrak diperlukan 1 ton kunyit basah. Febuari—April bertepatan dengan musim penghujan, volume ekstrak setara, diperoleh setelah mengekstraksi bahan baku 2 kali lipat lebih banyak.
Selain minuman kunyit asam,Sidomuncul juga memproduksi anekaproduk berbahan baku kunyit, seperti kunyit serbuk untuk seduhan, kunyit berserat alami untuk melancarkanpencernaan. Yang terbaru kunyit asam dicampur ekstrak daun sirih khusus untuk wanita.
Selalu dibutuhkan
Kunyit alias kunir memang jenis rempah yang telah lama dikenal diIndonesia. Rimpang tanaman herba tahunan itu mudah ditemukan di pasar tradisional dan pasar swalayan. Beberapa industri obat tradisional kelas kakap hingga skala rumahan membutuhkan dalam jumlah banyak. Curcuma domestica itu dipakai sebagai bahan baku fitofarmaka, kosmetik, dan bumbu dapur.
Menurut catatan Koperasi Balai Penelitian Tanaman Obat di Tawangmangu, kebutuhan kunyit untuk industri jamu per tahun diperkirakan mencapai 3.000 ton kering dan 1.500 ton basah. Dengan volume itu, kunyit menempati peringkat ke-3 setelah jahe dan temulawak dari sekitar 25 bahan baku utama yang dibutuhkan industri obat tradisional.
Pasar tradisional penyerap kunyit paling besar. Terutama untuk kunyit segar. Rempah ini dibagi 3 kelas; biang kunyit, kunyit besar, dan kunyit kecil. Darmin, pengecer aneka bumbu dapur di Pasar Induk Kramat Djati misalnya membutuhkan 4—5 kuintal per hari kunyit segar. Anggota keluarga Zingeberaceae yang dipasok dari pekebun di Garut itu didistribusikan ke pelanggan-pelangan di seputaran Jakarta Timur.
Kelahiran Kebumen 45 tahun silam itu mematok harga perkilo Rp2.000— Rp2.200. “Kebutuhan sebetulnya mencapai 7 kuintal per hari. Tapi bagibagi dengan 10 pengecer lain.” ujarnya. Volume itu akan meningkat hingga 20% lebih saat memasuki hari-hari besar keagamaan.
Pengolah jamu instan tradisional juga banyak menyerap kunyit. F. Giyatno pengelola Gityara jamu tradisional instant setiap pekan membutuhkan 1 kuintal kunyit segar untuk minuman kunyit asem. Perusahaan keluarga di Kwangsan, Jumapolo, Karanganyar itu mendapatkan bahan baku dari pekebun di sekitar Karanganyar.
Sejak pertengahan 2003, volume pembelian bertambah 25% untuk memenuhi kebutuhan produk baru bubuk kunyit. Hal sama juga dialami Ny Daryati Tjipto Utomo di Pasarminggu, Jakarta Selatan. Produsen rumahan minuman kesehatan itu setiap pekan minimal perlu pasokan 1/2 kuintal kunyit.
Yang menarik, sejak 7 tahun terakhir, permintaan ekspor kunyit dengan nama dagang safron fresh ke mancanegara terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, hanya Malaysia yang tercatat sebagai pengimpor kunyit dengan volume impor sebesar 645 kg senilai US$101 pada 1998. Memasuki 2000—2002, jumlah negara pengimpor meningkat. Tercatat Saudi Arabia, Belanda, Hongkong, Australia, dan Uni Emirat Arab mengimpor dengan volume bervariasi, 946 kg—39.535 kg per tahun. Hingga Januari—Oktober 2003, Hongkong menjadi importir terbesar. Total volume 145.000 kg senilai FOB US$509.887.
Mulai banyak pekebun
Pasar ekspor itu sebagian dipasok dari sentra-sentra kunyit di Pulau Jawa. Tiga sentra terbesar ialah Jawa Barat dengan total luas lahan 278 ha dan tersebar di Serang, Lebak, Sukabumi, Bogor, Garut, dan Karawang.
Mentari sudah tegak di atas ubun-ubun. Namun, kesibukan di gudang 108 dermaga Tanjungpriok, Jakarta Utara, tetapberlangsung. Empat orang buruh sibuk memindahkan tumpukankarung di dalam perut kontainer. Di mulut kontainer, 2 truk milikperusahaan ekspedisi menanti muatan.
Tempurung setebal 3 mm yang membungkus daging buah kemiri amat alot untuk dipecahkan. Pengolahan tradisional menghasilkankemiri utuh hanya 40—60%. Dengan mesin otomatis pekebunmemperoleh kemiri utuh hingga 85%.
Panen 2—3 ton biji kering kemiri per ha bukanlah angan-angan jika perawatannya intensif. Produktivitas itu jauh di atas produksi tanaman telantar yang hanya 0,5—0,6 ton/ha/tahun.
Dengan perawatan intensif stevia dapat dipanen setiap 2 bulan sekali selama 5 tahun. Populasi setiap hektar 100.000 tanaman menghasilkan 4—6 ton kering per tahun.
Permintaan pasokan daun kering stevia dari GR Farmacy, Korea, cukup membuat Kevin Clement kelimpungan. Ia menyambangi setiap tempat dan perusahaan yang diduga memproduksi dan menampung stevia.
“Kalau ada minyak pala kirim saja ke sini,” pinta TR Manurung, direktur PT Sarana Bela Nusa. Ia memang sedang butuh pasokan. Maklum, permintaan ekspor terus mengalir. Berapapun jumlah pasokan, pasar ekspor siap menerima.
Philodendron termasuk tanaman yang kuat. Meski beitu tanda seperti layu, busuk akar, atau daun menguning biasanya mengindikasikan gangguan fisiologis...