Thursday, August 18, 2022

Yang Diburu Minyak Bermutu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Musababnya, kualitas minyak rendah. Kadar patchoully alcohol hanya 25% dan berwarna merah,” tuturnya menahan kekecewaan. Senyum bahagia pun sirna seketika.

Dengan tertunduk lesu dan langkah gontai, Joko mengangkut kembali drum berisi minyak nilam ke rumahnya. Sepanjang jalan, ia merenung penolakan eksportir terhadap minyak nilamnya. Terlintas di benaknya pengorbanan mendapatkan tetes demi tetes minyak. Sayang, lantaran berkualitas rendah, terpaksa ia menjual murah.

Prinsip historia vitae magistra, pengalaman adalah guru yang terbaik, memang layak dipegang. Semula ia hanya mengeringkan daun nilam selama 2 hari. Padahal di daerahnya kelembapan udara sangat tinggi sehingga pengeringan belum maksimal. Tingkat pengeringan mempengaruhi rendemen. “Pengeringan harus sempurna minimal 3 hari. Semakin kering, kualitas minyak semakin bagus,” katanya.

Alat penyuling dari besi kini diganti dengan stainless steel. Minyak nilam mengandung unsur Fe alias besi sangat tinggi menyebabkan mutu rendah dan aroma khasnya tidak muncul. Itu biang kerok eksportir menolak. “Penyulingan berbahan besi menghasilkan minyak berwarna merah. Kualitas turun, harganya pun turun,” kata Arifin, pekebun di Purwokerto. Saat penyulingan suhu dipertahankan minimal 130—1400C.

Kualitas tinggi

Joko bukan satu-satunya penyuling nilam yang minyaknya ditolak. Pekebun Kalimantan, Sumatera Selatan, dan Toraja juga pernah ditolak oleh PT Djasula Wangi, eksportir minyak asiri. “Pasar dunia menginginkan kualitas tinggi. Otomatis kita harus ketat menyeleksi,” kata Suwandi dari PT Djasula Wangi. Minyak yang dikirim untuk pasar ekspor minimum mengandung PA 30%. Sementara yang dihasilkan penyuling sangat rendah, hanya 22—24%.

Minyak berkualitas memang langka sehingga bernilai tinggi. Wajar jika eksportir semakin getol memburunya. Itulah yang dilakukan PT Takasago, eksportir di Purwokerto. Setiap bulan ia mengekspor 1,5 ton minyak nilam ke Jepang, Perancis, Amerika Serikat, dan Singapura.

Kini perusahaan itu kesulitan mendapatkan minyak berkualitas tinggi. Kerap perusahaan itu menolak minyak dari penyuling di sekitar Banyumas. “Kadar PA rendah 25—28%. Baunya pun menyengat,” kata Hendar Setiawan dari PT Takasago. Oleh karena itu, terpaksa minyak disuling ulang selama 8 jam.

Penyuling seharusnya memperhatikan standar nilam yang diinginkan pengekspor. Itu ditempuh sejak budidaya, seperti yang dilakukan Beni Budiman. Pekebun di Purwokerto itu mengupayakan penanaman di lahan terbuka agar tanaman mendapatkan penyinaran penuh. “Kalau cahaya kurang, daun nilam lebar dan tipis. Rendemen minyak rendah,” kata pria kelahiran Bandung 44 tahun silam itu.

Pengeringan daun nilam pun tidak boleh diabaikan untuk menurunkan kadar air hingga 15%. Bila cuaca sangat panas, penjemuran cukup 4—5 jam kemudian dikeringanginkan selama 3 hari. Setelah kering, hindari penempatan di tanah untuk mencegah serangan cendawan.

Standar mutu

Tiap negara tujuan ekspor menetapkan standar mutu tersendiri. Amerika Serikat yang menyerap 210—220 ton per tahun minyak nilam Indonesia menghendaki warna cokelat kehijauan sampai cokelat kemerahan. Aroma khas, bobot jenis 0,950—0,975 pada suhu 250C dengan putaran optik –480— –650 .

Dengan mengetahui standar mutu minyak nilam di pasar dunia, pekebun dan penyuling diharapkan mampu meningkatkan kualitas minyak. “Dengan kualitas tinggi kita bisa memenuhi kebutuhan minyak nilam dunia. Toh, 70% kebutuhan nilam dihasilkan dari Indonesia”, kata Suwandi. Standar mutu minyak nilam Indonesia ditetapkan oleh Dewan Standardisasi Nasional mengacu pada permintaan importir. (Rahmansyah Dermawan)

 

 

Kerja keras Joko Wicaksono selama 16 jam nonstop seperti sia-sia. Hasilnya berupa 40 kg minyak nilam ditolak eksportir di Purwokerto, Jawa Tengah. Musababnya, kualitas minyak rendah. Kadar patchoully alcohol hanya 25% dan berwarna merah,” tuturnya menahan kekecewaan. Senyum bahagia pun sirna seketika.

Dengan tertunduk lesu dan langkah gontai, Joko mengangkut kembali drum berisi minyak nilam ke rumahnya. Sepanjang jalan, ia merenung penolakan eksportir terhadap minyak nilamnya. Terlintas di benaknya pengorbanan mendapatkan tetes demi tetes minyak. Sayang, lantaran berkualitas rendah, terpaksa ia menjual murah.

Prinsip historia vitae magistra, pengalaman adalah guru yang terbaik, memang layak dipegang. Semula ia hanya mengeringkan daun nilam selama 2 hari. Padahal di daerahnya kelembapan udara sangat tinggi sehingga pengeringan belum maksimal. Tingkat pengeringan mempengaruhi rendemen. “Pengeringan harus sempurna minimal 3 hari. Semakin kering, kualitas minyak semakin bagus,” katanya.

Alat penyuling dari besi kini diganti dengan stainless steel. Minyak nilam mengandung unsur Fe alias besi sangat tinggi menyebabkan mutu rendah dan aroma khasnya tidak muncul. Itu biang kerok eksportir menolak. “Penyulingan berbahan besi menghasilkan minyak berwarna merah. Kualitas turun, harganya pun turun,” kata Arifin, pekebun di Purwokerto. Saat penyulingan suhu dipertahankan minimal 130—1400C.

Kualitas tinggi

Joko bukan satu-satunya penyuling nilam yang minyaknya ditolak. Pekebun Kalimantan, Sumatera Selatan, dan Toraja juga pernah ditolak oleh PT Djasula Wangi, eksportir minyak asiri. “Pasar dunia menginginkan kualitas tinggi. Otomatis kita harus ketat menyeleksi,” kata Suwandi dari PT Djasula Wangi. Minyak yang dikirim untuk pasar ekspor minimum mengandung PA 30%. Sementara yang dihasilkan penyuling sangat rendah, hanya 22—24%.

Minyak berkualitas memang langka sehingga bernilai tinggi. Wajar jika eksportir semakin getol memburunya. Itulah yang dilakukan PT Takasago, eksportir di Purwokerto. Setiap bulan ia mengekspor 1,5 ton minyak nilam ke Jepang, Perancis, Amerika Serikat, dan Singapura.

Kini perusahaan itu kesulitan mendapatkan minyak berkualitas tinggi. Kerap perusahaan itu menolak minyak dari penyuling di sekitar Banyumas. “Kadar PA rendah 25—28%. Baunya pun menyengat,” kata Hendar Setiawan dari PT Takasago. Oleh karena itu, terpaksa minyak disuling ulang selama 8 jam.

Penyuling seharusnya memperhatikan standar nilam yang diinginkan pengekspor. Itu ditempuh sejak budidaya, seperti yang dilakukan Beni Budiman. Pekebun di Purwokerto itu mengupayakan penanaman di lahan terbuka agar tanaman mendapatkan penyinaran penuh. “Kalau cahaya kurang, daun nilam lebar dan tipis. Rendemen minyak rendah,” kata pria kelahiran Bandung 44 tahun silam itu.

Pengeringan daun nilam pun tidak boleh diabaikan untuk menurunkan kadar air hingga 15%. Bila cuaca sangat panas, penjemuran cukup 4—5 jam kemudian dikeringanginkan selama 3 hari. Setelah kering, hindari penempatan di tanah untuk mencegah serangan cendawan.

Standar mutu

Tiap negara tujuan ekspor menetapkan standar mutu tersendiri. Amerika Serikat yang menyerap 210—220 ton per tahun minyak nilam Indonesia menghendaki warna cokelat kehijauan sampai cokelat kemerahan. Aroma khas, bobot jenis 0,950—0,975 pada suhu 250C dengan putaran optik –480— –650 .

Dengan mengetahui standar mutu minyak nilam di pasar dunia, pekebun dan penyuling diharapkan mampu meningkatkan kualitas minyak. “Dengan kualitas tinggi kita bisa memenuhi kebutuhan minyak nilam dunia. Toh, 70% kebutuhan nilam dihasilkan dari Indonesia”, kata Suwandi. Standar mutu minyak nilam Indonesia ditetapkan oleh Dewan Standardisasi Nasional mengacu pada permintaan importir. (Rahmansyah Dermawan)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img