Wednesday, June 3, 2026

Wangi Nilam Terhalang Daun Kering

Rekomendasi
- Advertisement -

Di dalamnya, Ajudin menggodok 8—10 kuintal daun kering hingga menjadi 16—20 kg minyak. Dengan harga minyak nilam Rp220-ribu per kg, mantan pekebun jagung itu meraup untung Rp3,5-juta—Rp4-juta per hari.

Setiap hari peluh bercucuran membanjiri tubuh laki-laki 62 tahun itu. Saat malam tiba, Ajudin melawan kantuk demi menunggu tetestetes minyak keluar dari pipa penyulingan. Semua itu dilakukan agar dapat memenuhi permintaan minyak nilam yang masuk kepadanya. Wajar jika aktivitas penyulingan minyak tak pernah berhenti di rumah di Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut.

Namun, pengorbanan Ajudin lebih besar pasak daripada tiang. Produksi 80 kg minyak nilam per bulan belum menutupi kebutuhan total pengepul yang mencapai 5 ton per hari. “Memenuhi permintaan dari Garut saja saya kewalahan. Jakarta dan Bandung tidak bisa saya pasok,” kata Ajudin.

Pilihan pria tinggi kurus itu beralih dari berkebun jagung ke nilam beralasan. Kala menanam Zea mays, kegagalan demi kegagalan kerap dialami. “Daun segarnya saja sudah menguntungkan apalagi kalau sudah disuling,” kata pria kelahiran 1942 itu. Dengan harga Rp500—Rp700 per kg basah, ia meraup untung Rp24,5-juta per ha sekali panen. Nilai itu berlipat kali daripada biaya yang dicemplungkan Rp5- juta—Rp6-juta per ha.

Lonjakan permintaan

Kisah manis berkebun dan menyuling nilam dialami juga pekebun di Purwokerto dan Surabaya. Wandi Setiawan menebas tanaman singkong dan palawija di kebunnya di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Purwokerto sejak 2 tahun silam. Maklum harga daun kering nilam merangkak naik dari Rp800—Rp900 per kg menjadi Rp2.000—Rp3.000 per kg.

Oleh karena itu, Wandi memperluas lahan di kaki Gunung Slamet hingga 4 ha. Dengan populasi 120.000—140.000 tanaman, ia menuai 44—48 ton per ha daun basah atau setara 1,3—1,5 ton daun kering setahun. Bila disuling dengan rendemen 2—2,5%, berarti 30—40 kg minyak nilam siap dijajakan. Dengan harga Rp190-ribu per kg, Wandi meraup untung Rp7,6-juta.

Kenaikan itu diduga karena meningkatnya permintaan minyak nilam di pasar dunia, sementara pasokan dari Indonesia terbatas. Salah satu penyebabnya adalah macetnya pasokan dari Aceh, sentra terbesar di Indonesia dan sentra nilam lainnya. “Dalam 1 tahun ke depan masih sulit memenuhi kebutuhan ekspor,” kata Toga Raja Manurung, ketua Asosiasi Perdagangan Minyak Asiri Indonesia.

Sebagai pemasok minyak nilam terbesar di dunia, Indonesia kini memasok 80—90% kebutuhan dunia atau setara 700—1.500 ton per tahun. Sejak permintaan dunia meningkat pada 2002 hingga sekarang, jumlah pasokan justru berkurang. Wajar jika harga pun melonjak. Pada 1999 harga minyak nilam 18 US$ per kg menjadi 25 US$— 26 US$ per kg di awal 2004. Kenaikan itu berimbas pada naiknya harga bahan baku.

Kekurangan pasokan

Laba yang dihasilkan dari berkebun dan menyuling nilam bukan berarti tanpa hambatan. Dede Ajudin kini mulai kesulitan mendapatkan bahan baku. Untuk memasok 5 ton minyak per hari, ia membutuhkan 2.000—2.500 kuintal daun nilam kering. Kebun seluas 7 ha hanya mampu memasok 400—420 kuintal selama setahun.

Itu setali tiga uang dengan yang dialami Wandi Setiawan. Lahan 4 ha harapan Wandi hanya menyediakan 60 ton daun kering setahun. Padahal ia membutuhkan 6 kuintal per hari. Untuk mendapatkan tambahan bahan baku, sentra di Baturaden dan Purbalingga disambangi setiap 3 hari. Di sana ia beradu cepat dan berebutan daun kering dengan pengepul lainnya.

Maklum kesulitan mendapatkan bahan baku terjadi di mana-mana. Produksi dari sentra seperti Aceh, Purwokerto, dan Garut tak mencukupi banyaknya permintaan. Untuk mengatasi kelangkaan bahan baku, Beni Budiman di Nagrek, Bandung, mengebunkan seluas 20 ha untuk kebutuhan sendiri. Toh, luasan itu tetap tidak menutupi kekurangan bahan baku.

Perluasan kebun-kebun membuat permintaan bibit melonjak. Sejak sebulan yang lalu, Heri Agung Nugroho, pemilik perusahaan Nilam Agung itu kesulitan mendapatkan bibit nilam. Itu lantaran kemampuan produksi bibit tak sebanding dengan kebutuhan. Heri membutuhkan 130-ribu bibit untuk memasok 40 pekebun di sekitar Kediri.

Untuk menutup kekurangan bibit, ia bersama 2 rekannya—Purwanto dan Koderi—memperbanyak sendiri di daerah Bocok, Malang. Sayang, usaha kerasnya berbuntut kematian bibit 50—90% terserang layu bakteri dan budok (hoprosep).

Berburu pasokan

Imbas semua itu, eksportir kelimpungan memenuhi permintaan pelanggan. Amin Hidayat, eksportir di Surabaya, hanya mampu mengirim 200 kg minyak nilam per bulan ke Amerika Serikat. Padahal 2 tahun sebelumnya minimal 2 ton per bulan rutin ia pasok ke negara Paman Sam itu. Akibatnya para eksportir getol berburu ke pelosokpelosok.

PT Takasago, perusahaan eksporimpor minyak nilam di Desa Tambaksogra, Kecamatan Sumbang, Purwokerto pun mengalami hal serupa. Pasokan 7 mitra penyuling di sekitar Purwokerto tak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan Perancis, Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. “Dari 7 penyuling cuma memasok 1 ton dari kebutuhan yang mencapai 1,5 ton per bulan,” kata M Amin, direktur PT Takasago.

Menurut Amin, PT Takasago hanya mampu menyuplai 20% kebutuhan Perancis yang mencapai 25 ton per tahun. Oleh karena itu, Takasago tidak hanya memperluas daerah pasokan di Karesidenan Banyumas. Para pengepul dari Jawa Timur dan Jawa Barat pun berusaha dirangkul untuk menutup kebutuhan 1,5 ton per bulan. Buktinya, Takasago berhasil mendapatkan tambahan pasokan pengepul di daerah Kediri, Pare, dan daerah-daerah lain di Jawa Timur. Sedangkan 50 kg minyak per bulan rutin diperoleh dari Kuningan, Jawa Barat.

Kadar PA

Selain kuantitas, kualitas minyak menjadi penghalang ekspor. Banyak penyuling belum sanggup memenuhi kadar patchouly alcohol (PA) yang diminta pasar. Yang dibutuhkan kadar PA minimum 30%. Oleh karena itu, PT Takasago mulai menyortir minyak sejak di tingkat penyuling. Ada 2 kelas yang diterima yaitu yang berkualitas tinggi disebut destilation molecul (DM) dan kelas menengah light colour. Kelas DM harus memenuhi PA minimum 32% sedangkan kelas light colour PA minimum 30%.

Meski sejuta kendala menghadang, itu tak menyurutkan langkah para pemain. Para pekebun terus memperluas penanaman. Penyuling menggenjot jam operasi mesin penyuling. Para eksportir pun tak sungkan terjun langsung ke sentrasentra produksi memburu pasokan. Di balik tembok penghalang, terbentang peluang mengisi pundi-pundi dengan memasok kebutuhan pasar dunia. (Rahmansyah Dermawan/Peliput: Pupu Marfu’ah)

 


Artikel Terbaru

Beternak Lebah Kelulut di Pekarangan Rumah, Investasi Awal Besar tetapi Minim Perawatan

Budidaya lebah tanpa sengat atau kelulut (Trigona itama) semakin diminati sebagai usaha sampingan yang dapat dijalankan di pekarangan rumah....

More Articles Like This