Thursday, June 11, 2026

Produk Peru Bidik Indonesia, dari Superfood hingga Buah Beku

Rekomendasi

Ruang Sapphire di Hotel JW Marriott Jakarta pagi itu agak berbeda. Biasanya ruang pertemuan hotel di kawasan bisnis ibu kota dipenuhi percakapan berbahasa Indonesia atau Inggris. Namun pagi itu, beberapa orang berbincang dalam bahasa Spanyol. Di meja-meja kecil, mereka membuka katalog, menunjukkan contoh produk, lalu menjelaskan asal-usul komoditas dari negeri yang jauh di seberang Samudra Pasifik yaitu Peru.

Itulah suasana business matching yang digelar Kedutaan Besar Peru di Jakarta. Acara pada 21 Maret 2026 itu mempertemukan perusahaan-perusahaan Peru yang bergerak di sektor superfood dan pangan dengan calon mitra dari Indonesia. Produk yang mereka bawa tidak biasa. Ada quinoa, chia, maca, sacha inchi, golden berries, kakao, tara gum, hingga buah beku seperti mangga, alpukat, stroberi, dan bluberi.

Sales Manager PT Gress Tropika Frutindo, Sodikin, menjadi salah satu pengunjung yang hadir di acara itu. Ia datang bukan untuk sekadar melihat-lihat, melainkan mencari peluang pasar baru di Amerika Selatan untuk buah eksotis Indonesia. PT Gress Tropika Frutindo selama ini mengekspor manggis, buah naga merah dan kuning, rambutan, durian, hingga salak ke berbagai negara.

Kehadiran Sodikin memberi sudut pandang menarik. Dari sisi Indonesia, ia datang membawa harapan agar buah eksotis Nusantara bisa masuk pasar Amerika Selatan. Namun dari sisi Peru, acara itu justru memperlihatkan bagaimana negara di Amerika Latin itu membawa produk lokalnya ke pasar Asia Tenggara.

Quinoa

Salah satu peserta yang menarik perhatian Trubus yakni Glint. Perusahaan itu bergerak di segmen superfood dan biji-bijian. Produk yang mereka tawarkan antara lain quinoa, chia, maca, sacha inchi, kacang Amazon, golden berries, bluberi, serta kakao spesial dari berbagai wilayah Peru.

CEO Glint, Luis Guerrero, mengatakan kakao Peru memiliki karakter berbeda dari kakao Indonesia atau Malaysia. Perbedaannya bukan hanya pada varietas, tetapi juga aroma, proses, cita rasa, dan asal wilayah. Dengan kata lain, Peru tidak hanya menjual kakao sebagai bahan baku. Mereka juga menjual identitas single origin.

Glint tidak memiliki kebun sendiri. Mereka bekerja sama dengan petani kecil di pesisir, Andes, hingga Amazon. Hubungan itu dibangun dalam jangka panjang. “Kami tidak terus berpindah-pindah petani,” ujar Luis Guerrero.

Quinoa saah satu superfood asal Peru yang bernutrisi tinggi. (Foto: Dok. KamranAydinov/Magnific)

Petani wajib mengikuti prosedur operasional standar perusahaan, termasuk sertifikasi organik dan halal. Pernyataan itu penting. Produk lokal tidak otomatis menjadi produk global hanya karena unik. Keunikan baru bernilai ketika disertai standar. Pasar ekspor menuntut konsistensi mutu, keamanan pangan, ketertelusuran bahan baku, sertifikasi, dan cerita produk yang bisa dipahami konsumen luar negeri.

Proses itu bukan hanya tugas petani atau perusahaan. “Perlu kerja sama petani, perusahaan, pemerintah, industri makanan, dan media seperti majalah untuk membuat laporan tentang produk-produk tersebut,” tutur Luis Guerrero. Di Peru, chef terkenal ikut mempromosikan bahan lokal ke panggung kuliner internasional. Sementara pemerintah mendukung melalui ajang promosi dagang.

Cara itu menjelaskan mengapa pangan lokal Peru bisa tampil percaya diri di pasar dunia. Produk tidak berdiri sendirian. Quinoa, maca, sacha inchi, kakao, dan buah Andes masuk ke jaringan yang lebih luas: petani, perusahaan, pemerintah, industri makanan, chef, media, dan ajang promosi dagang.

Tara gum

Di sudut lain pameran, produk yang terdengar asing justru menyimpan peluang besar, yaitu tara gum. Exportadora El Sol menjadi salah satu perusahaan asal Peru yang mempelopori penelitian dan penjualan tara gum. Bahan itu merupakan hidrokoloid alami dari biji polong pohon tara, tanaman endemik dataran tinggi Peru. Dalam industri pangan, tara gum berfungsi sebagai pengental, penstabil, dan pengikat air.

“Aplikasi tara gum bisa digunakan untuk es krim, puding, jeli, saus, produk daging, minuman, dan produk olahan lain,” kata Sales Representative Exportadora El Sol, Rodrigo Bouroncle. Salah satu keunggulan tara gum yaitu membantu menjaga tekstur produk beku dan mengendalikan pembentukan kristal es.

Tara gum merupakan hidrokoloid alami dari biji polong pohon tara, tanaman endemik dataran tinggi Peru. (Foto: Riefza Vebriansyah)

Bagi pasar Indonesia, tara gum relevan karena konsumsi produk jeli, puding, es krim, minuman siap saji, saus, dan pangan olahan sangat luas. Rodrigo melihat peluang itu. Mereka menawarkan tara gum bukan untuk menggantikan sepenuhnya gum lain seperti xanthan gum, melainkan sebagai alternatif atau pelengkap.

“Keduanya bisa saling bersinergi,” kata Rodrigo yang baru kali pertama menginjakkan kakinya di Indonesia pada Mei 2026. Kalimat itu menunjukkan posisi tara gum yang realistis. Produk itu tidak harus menggusur bahan lain yang sudah lebih dulu dikenal industri. Tara gum bisa masuk sebagai pilihan tambahan untuk membantu produsen pangan mendapatkan tekstur yang lebih sesuai kebutuhan.

Buah beku

Jika Glint datang dengan superfood dan tara gum hadir sebagai bahan fungsional, Dominus membawa wajah lain agribisnis Peru, yaitu buah beku. Perusahaan bagian dari Dumper Group itu mengolah mangga, alpukat, bluberi, stroberi, anggur, hingga jeruk mandarin dalam bentuk beku.

“Produk bisa berupa potongan dadu, irisan, atau buah utuh,” kata Commercial Executive Dominus, María Claudia Díaz. Bentuk produk itu membuat buah lebih mudah masuk ke berbagai kebutuhan industri pangan. Buah beku bisa digunakan untuk hotel, restoran, katering, minuman, bakeri, ritel modern, dan industri makanan.

Pabrik Dominus berada di Piura, wilayah tropis di utara Peru. Untuk mangga, perusahaan itu memiliki 120 hektare kebun yang dibudidayakan sejak 2007. Sementara luas kebun alpukat sekitar 100 hektare. Stroberi baru mulai dikembangkan pada 2024.

Namun, karena permintaan pasar lebih besar daripada pasokan kebun sendiri, Dominus juga menggandeng petani pihak ketiga. Sebelum bahan baku masuk pabrik, tim kualitas mengambil sampel dari lahan petani. Mereka memeriksa residu pestisida, logam berat, dan karakteristik organoleptik.

Buah beku salah satu komoditas andalan Dominus menembus pasar Indonesia. (Foto: Dok. linaghiska/Magnific)

Tahap itu penting karena produk beku tetap menuntut standar ketat. Pembekuan bukan jalan pintas untuk menyelamatkan bahan baku buruk. Pembekuan menjadi teknologi untuk mempertahankan mutu bahan baku yang memang layak.

Dominus mengekspor sekitar 6.000 ton mangga beku per tahun, 2.500 ton alpukat beku, dan 3.600 ton stroberi beku. Pasar utama mereka adalah Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, termasuk Jepang dan Korea Selatan. Sekitar 70% ekspor mereka berupa produk beku, sedangkan sisanya produk segar.

Untuk Indonesia, Dominus mulai membidik keduanya, tetapi saat ini lebih fokus pada produk beku. Pilihan itu masuk akal. Produk beku memberi fleksibilitas bagi industri makanan, hotel, restoran, katering, minuman, bakeri, dan ritel modern. Buah yang musimnya terbatas bisa hadir lebih panjang. Ukuran dan bentuk bisa disesuaikan kebutuhan industri. Risiko kerusakan selama distribusi juga lebih terkendali dibanding buah segar.

Dari Glint, Exportadora El Sol, hingga Dominus, terlihat bahwa Peru tidak sekadar menjual bahan pangan. Mereka membawa produk lokal yang sudah dipilah, distandarkan, diolah, dan diberi cerita agar siap masuk pasar global. Di ruang Sapphire pagi itu, produk-produk dari Andes, Amazon, dan pesisir Peru mulai mencari jalan menuju pasar Indonesia. (Riefza Vebriansyah)


Artikel Terbaru

Pascapanen Tepat, Kunci Hasilkan Beras Sorgum Berkualitas

Trubus.id — Sorgum semakin dilirik sebagai sumber pangan alternatif karena kaya serat, bebas gluten, dan dapat diolah menjadi beras...

More Articles Like This