Sunday, August 14, 2022

Bisnis Manis Rumput Manis

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ia pun meminta bantuan Trubus untuk mencarikan alamat penyedia daun stevia. Maklum, “Permintaan perusahaan itu tak tanggung-tanggung. Tahap awal saja 100 ton/ bulan,” tutur Kevin kepada Trubus.

 

Selama ini perusahaan farmasi terbesar di negeri Ginseng itu mendapatkan pasokan bahan baku dari Cina dan Australia. Namun, karena kebutuhan bahan baku terus meningkat, mereka mencari pasokan dari Indonesia.

GR Farmasi bukan satu-satunya yang meminta pasokan stevia dari Indonesia. Dari Singapura, sebuah industri pengolahan juga mulai melirik Indonesia sebagai salah satu pemasok bahan baku. “Yang saya dengar kebutuhan bahan baku mereka mencapai 2.000 ton/bulan,” ungkap Kevin.

Jepang melalui mitra bisnisnya, Kamar Dagang dan Industri (KADIN), meminta pasokan 2.000 ton kering per bulan. Praktis sulit dipenuhi. Pasalnya, tak mudah mengumpulkan stevia sebanyak itu. “Sudah keliling ke seantero Tawangmangu, tapi hanya dapat 2 ton/bulan,” papar seorang pengurus KADIN menolak disebut namanya.

Lokal butuh

Tawangmangu, Karanganyar, memang salah satu sentra stevia yang masih aktif. Namun, produksi para pekebun di sana kebanyakan hanya untuk memenuhi kebutuhan pabrik rokok dan jamu di dalam negeri. “Jangankan ke pasar ekspor, permintaan lokal saja kami masih kewalahan,” papar

Sugiyono, pekebun di Tawangmangu. Sugiyono mulai mengembangkan stevia sejak 1988. Ketika itu ada permintaan dari pabrik rokok. Belakangan, permintaan juga datang dari pabrik jamu, sehingga areal penanaman ditingkatkan menjadi 2 ha. Dengan 2 ha lahan ia masih angkat tangan memenuhi permintaan. “Kuota yang diberikan Sidomuncul saja saat ini 1,5—3 ton/bulan,” ungkapnya. Belum lagi permintaan dari pengepul di Solo dan Sukoharjo. Dari 2 ha lahan yang dimiliki Sugiyono memanen 6—8 kuintal daun kering setiap 2 bulan.

Tertarik melihat peluang stevia, ayah 2 anak itu mendirikan CV Sumber Agung Sejahtera (SAS) bersama Hari Kisdarwanto, rekan bisnisnya. “Selain menampung hasil panen, kami mengembangkan kemitraan dengan pekebun,” tutur Hari Kisdarwanto. Pekebun diberi bibit, pupuk, dan uang untuk perawatan tanaman selama 1 tahun. Dengan pola bagi hasil, kini SAS telah berhasil merangkul 15 pekebun yang luas kepemilikan lahannya 500—1.000 m2. Total jenderal, lahan yang dikelola SAS mencapai 3 ha.

Menguntungkan

Banyaknya pekebun yang tertarik pada stevia bukan tanpa alasan. ”Pasarnya mudah. Ada pengumpul yang datang mengambil ke kebun.” ujar Sugiono, pekebun yang namanya hampir sama dengan pemilik CV SAS. Oleh karena itu, meskipun harga jual sempat terpuruk hingga Rp2.000/kg pada 1999—2000, ia tak meninggalkannya.

Harga jatuh memang bukan masalah bagi Sugiono. Toh, hasil panen dapat disimpan bertahun-tahun hingga harga membaik. Lihat saja 3,5 ton daun kering hasil panen 2 tahun lalu, baru dilepas pertengahan 2003 dengan harga Rp6.000/kg.

Menurut Sugiono, harga stevia sebenarnya cukup stabil. Sejak mengebunkan pertama kali pada 1983, ia hanya merasakan harga jatuh pada 1999—2000. Dalam beberapa tahun terakhir, harga berkisar Rp6.000—Rp7.000/kg, sama seperti sekarang.

Bagi Sugiono berkebun stevia memang menguntungkan. Setiap 1,5—2 bulandari lahan seluas 3.000 m2 diperoleh hasil 200—300 kg daun stevia kering. Dengan harga jual Rp6.000/kg, ia meraup Rp1,2—Rp1,8-juta. Padahal, selain biaya pemupukan sekitar Rp200.000/periode panen, hampir tak ada lagi biaya yang perlu dikeluarkan. Artinya, lahan seluas 3.000 m2 itu mampu “mencetak” uang minimal Rp1-juta setiap 1,5—2 bulan.

Karena alasan itu pula Benny Chalid, investor di Jakarta berniat mengebunkan stevia. Direktur PT Nusa Patra Persada itu, menilai prospek pasar gula stevia memang baik. Kebutuhan bahan bakunya pun bakal meningkat. “Kalau tidak ada aral melintang musim tahun ini saya akan membuka perkebunan di Sukabumi. Bibit klon unggul BP 72 sudah disiapkan untuk ditanam di lahan 5 ha,” paparnya. Rencana jangka panjang kebun itu akan diperluas jika hubungan dengan pembeli asal Korea berjalan lancar.

Menanggapi maraknya permintaan, sebuah asosiasi yang bernaung di bawah KADIN pun kini gencar mengajak anggotanya untuk mengembangkan stevia. “Untuk memenuhi target 2.000 ton/bulan, pengembangannya harus dalam skala luas. Sedikitnya 2.000 ha,” papar Nelly Suparno, pengurusnya. Strategi yang diterapkan mengikuti pola kemitraan yang telah dilakukan asosiasi itu terhadap jagung dan komoditas lain. Menurut Nelly, sasaran kemitraan terutama pekebun di dataran tinggi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Sejak 1977

Tanaman stevia di Indonesia bukan barang baru. Tanaman asal Amerika Latin itu telah masuk ke Indonesia pada 1977. Ditanam pada awalnya di daerah Tawangmangu, Jawa Tengah. Setahun kemudian tanaman yang dikembangkan atas kerjasama pengusaha Jepang dan Indonesia itu mulai diekspor ke Jepang.

Pada 1981 giliran PT Grasella Raya mendatangkan biji stevia dari Jepang dan mengembangkan di Garut Selatan. Maksud penanaman, menghasilkan daun stevia untuk diekspor ke negeri Matahari Terbit itu. Tanaman milik perusahaan itulah yang kemudian diseleksi Pusat Penelitian Perkebunan Bogor untuk mendapatkan klon-klon unggul. Hasil seleksi pada 1983 diperoleh 76 klon BPP. Pada tahun yang sama, sebuah perusahaan lain juga membuka perkebunan di Sukabumi.

Sayangnya, perkembangan rumput manis—nama lainnya—tersendat-sendat karena berbagai kendala, terutama masalah pengolahan pascapanen. “Proses pengeringan seringkali tidak memadai sehingga ditolak importir,” papar Eko Sudjiarto dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan.

Menurut Eko, pada 1980-an, P3GI pernah mengkaji stevia secara mendalam. Mulai dari potensi budidaya hingga pengolahan. “Dengan peralatan yang ada kami sebenarnya mampu mengekstraksi gula stevia,” tutur Dr Martoyo, ketua Kelti Pengolahan Hasil dan Bahan Olahan P3GI. Sayangnya, penelitian tak dilanjutkan karena masalah kebijaka administratif.

Gula diet

Menurut Martoyo, peluang stevia bukan untuk menggantikan gula tebu, meski tingkat kemanisan mencapai 300 kali gula tebu. Rasanya tak seperti gula tebu, sehingga konsumen sulit menerima keberadaannya. Apalagi ia punya rasa ikutan (after taste) yang kurang disukai.

“Gula stevia dimanfaatkan sebagai gula diet nonkalori,” papar Willy Gondoboentoro, national marketing manager PT Sun Label Indonesia. Willy menuturkan penderita diabetes dan autisme cocok mengkonsumsi gula stevia. Makanya sejak 2001 Sun Label Indonesia mulai memasarkan produk gula stevia di Indonesia. Namun, karena bukan untuk pasaran umum, gula diet produksi perusahaan di Singapura itu dipasarkan lewat jaringan distribusi salah satu perusahaan farmasi.

Menurut Nelly Suparno, permintaan gula stevia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Itu setelah aspartam, pemanis rendah kalori, yang banyak dikonsumsi mulai dilarang penggunaannya. Pemanis sintetis itu diduga bersifat karsinogenik atau pemicu kanker. Lantas gula stevia yang merupakan pemanis alami akhirnya menjadi pilihan terbaik. Ia terbukti nonkalori dan nonkarsinogenik sehingga aman dikonsumsi.

Meningkatnya pasar gula stevia itulah yang menyebabkan permintaan bahan baku meningkat. Meski begitu Nelly selektif memilih calon pembeli. Ia tak ingin terjebak harga murah yang ditawarkan. Di pasar dunia harga daun kering stevia rata-rata US$2 per kg. Sementara di dalam negeri industri jamu sanggup membeli dengan harga minimal Rp6.000/kg di tingkat pekebun. “Kalau harga beli Korea hanya US$700/ton, kita dapat apa?” ujar Nelly. (Fendy R Paimin/Peliput: Sardi Duryatmo)

Previous articlePerang Sound System
Next articleOrganik
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img