Saturday, December 3, 2022

Cegah Ketergantungan Impor, IPB Kembangkan Empat Galur Sintetik Ulat Sutera

Rekomendasi

Trubus.id — Indonesia masih menggantungkan impor untuk mencukupi kebutuhan benang mentah sutera. Untuk mengurangi ketergantungan impor itu, tim peneliti dari Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) berusaha mengembangkan empat galur sintetik ulat sutera non murbei Samia ricini.

Prof. Ronny Rachman Noor, Ketua Tim Peneliti, menjelaskan empat galur sintetik yang diberi nama Jopati, Prasojo, Pasopati, dan Joglo ini memiliki karakter warna dan pola warna yang spesifik.

Tidak hanya itu, galur tersebut juga memiliki ketahanan terhadap stres lingkungan, terutama panas. Dengan demikian, galur ini sangat cocok dipelihara di wilayah marjinal guna menopang perekonomian masyarakat.

“Salah satu keunikan ulat sutera Samia ricini adalah wilayah pemeliharaannya yang sangat luas dan sumber pakannya yang tidak memerlukan pakan khusus,” kata Prof. Ronny Rachman Noor seperti dikutip dari laman IPB University.

Lebih lanjut, ia menuturkan, ulat sutera ini dapat dipelihara dengan pakan daun singkong, daun karet, dan daun jarak kepyar. Dengan demikian, sangat cocok untuk dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia dengan biaya pakan yang murah.

Galur sintetik unggul ini dikembangkan untuk menghasilkan serat sutera Samia ricini yang sangat unik. Hal ini karena penampilannya tidak mengilap serta teksturnya yang unik sehingga dapat menjadi tren baru dalam industri fashion.

Di samping itu, menurutnya, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kokon ulat sutera Samia ricini mengandung serisin. Kandungan serisin tersebut memiliki aktivitas bioaktif yang lebih baik jika dibandingkan dengan serisin dari kokon ulat sutera murbei Bombyx mori.

“Zat aktif serisin Samia ricini sedang dalam proses pengembangan, pengolahan dan pemanfaatan untuk industri kecantikan dan kosmetik,” jelasnya.

Ia menilai, zat aktif tersebut dapat membuat wajah glowing dan dapat menghasilkan produk kesehatan, yaitu penutup luka pascaoperasi alami dan ramah lingkungan.

Kegiatan pengembangan galur sintetik ulat sutera nonmurbei Samia ricini, diharapkan dapat bergulir cepat yang diawali dengan pembentukan lima koperasi peternak dan pengrajin di wilayah Kulon Progo, Yogyakarta dan selanjutnya akan dikembangkan di wilayah lainnya.

Ke depan, galur sintetik yang telah dihasilkan akan dikembangkan lebih luas lagi dengan kerja sama pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan pemerintah Kabupaten Malang.

Jika nantinya ulat sutera Samia ricini ini sudah dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia, langkah ini akan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor benang sutera mentah dari negara lain yang tentunya dapat menghemat devisa.

Selain itu, melalui budidaya Samia ricini, peternak yang tergabung dalam koperasi diharapkan dapat meningkatkan taraf hidupnya dengan memanfaatkan galur unggul yang telah dikembangkan.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img