Trubus.id-Ujun rutin menuai 5 kuintal gabah basah sekali panen. Dalam setahun, Ujun menanam padi dua kali.
Varietas yang ditanam adalah padi IR 64. Beras yang dihasilkan dari sawah Ujun memiliki kualitas unggul.
Kandungan nutrisinya lebih tinggi dibandingkan dengan beras pada umumnya. Beras tersebut juga lebih sehat untuk dikonsumsi.
Petani padi organik di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, itu membudidayakan padi dengan sistem organik. Ia benar-benar menerapkan standar budidaya yang ketat untuk menghasilkan produk beras organik.
Standar budidaya itu mencakup pengawasan sistem pengairan yang ketat hingga penggunaan pupuk dan pestisida organik. Ujun menanam padi organik di lahan seluas 1.000 m².
Ia menjual hasil panen kepada pengepul di Kabupaten Cianjur. Hasil panen dijual dalam bentuk gabah basah langsung dari sawah.
Ujun menjual dengan harga Rp7.000 per kg gabah basah. Bandingkan dengan harga padi sistem budidaya konvensional yang hanya Rp6.400 per kg gabah basah.
Sekali panen, Ujun memperoleh pendapatan sebesar Rp3,5 juta. Sebenarnya pendapatan itu bisa lebih tinggi apabila petani mengolah sendiri menjadi beras.
Namun, pengolahan itu membutuhkan sistem yang cukup rumit. Semua peralatan yang digunakan juga harus benar-benar bebas dari paparan bahan kimia.
Sistem budidaya konvensional biasanya hanya menghasilkan pendapatan sekitar Rp3,2 juta sekali panen. Dalam sistem tersebut, petani memerlukan pupuk kimia.
Otomatis biaya perawatan lebih tinggi dibandingkan dengan sistem organik. Belum lagi ketersediaan pupuk kimia yang sering langka.
Selain itu, budidaya padi dengan pupuk kimia dapat merusak tanah. Hal itu tidak baik untuk pertanian berkelanjutan di masa depan.
Untuk beralih ke budidaya pertanian organik, Ujun membutuhkan waktu 2 hingga 3 tahun. Tujuannya untuk memastikan bahwa lahannya benar-benar bebas dari kontaminasi bahan kimia.
Ujun memanfaatkan pupuk berupa kotoran kambing terfermentasi kering kandang. Pupuk itu ia peroleh dari hasil ternak yang ia pelihara sendiri.
Ujun menaburkan 15 karung kotoran kambing sebelum penanaman. Setiap karung berisi 25 kg kotoran kambing terfermentasi kering kandang.
Pupuk itu digunakan untuk olah lahan sebelum musim tanam. Sebelum menabur pupuk, Ujun menggemburkan tanah terlebih dahulu dengan membajak.
Setelah 20—30 hari setelah tanam (HST), Ujun melakukan pemupukan ulang. Ia kembali menaburkan 15 karung kotoran kambing dengan jumlah yang sama.
Untuk nutrisi daun, Ujun memanfaatkan pupuk organik cair (POC) dari urine kelinci. Urine kelinci itu difermentasi hingga membentuk larutan pekat berupa mikroorganisme lokal (MOL).
Ia melarutkan 2 liter urine kelinci terfermentasi ke dalam 15 liter air. Ujun mengaplikasikan larutan itu dengan cara menyemprotkan merata pada bagian daun.
Menurut Ujun, urine kelinci sangat baik untuk menutrisi tanaman. Selain itu, urine kelinci juga bisa mengatasi serangan serangga pengganggu.
Jadi, POC dari urine kelinci juga bermanfaat sebagai pestisida alami. Ia memperoleh urine kelinci itu dari peternakan kelinci di sekitar Kabupaten Cianjur.
Harga urine kelinci sangat terjangkau, yakni hanya Rp20.000 per liter. Terkadang Ujun juga memanfaatkan daun suren sebagai pestisida nabati.
Ia mengekstrak daun Toona sureni untuk mengusir serangga pada tanaman. Menurut Ujun, penggunaan pestisida nabati dapat disesuaikan dengan bahan yang tersedia di sekitar lahan.
Ujun konsisten melakukan budidaya padi organik sejak 2017. Konsistensi itu menjadikannya salah satu pelopor petani padi organik di daerahnya.
