
Mengolah buah ceplukan menjadi penganan berkelas sekaligus bergizi.

Trubus — Suara kressh… terdengar ketika Danniary Ismail Faronny menggigit ceplukan. “Rasanya renyah dan lezat,” ujar mahasiswa Program Studi Agroekoteknologi, Universitas Brawijaya itu. Harap mafhum, ia mengonsumsi ceplukan berbalut rice crispy, oatmeal, dan lelehan gula jawa. Cita rasa chipbar itu perpaduan antara rasa masam plus rasa khas ceplukan. Camilan sehat itu bernama chipbar, singkatan dari ceplukan food bar.
Di Indonesia, camilan itu lazimnya berbahan oatmeal, kismis anggur, dan rice crispy. Danniary bersama keempat rekannya yaitu Yusuf Mufti Bimantara, Rizka Aikmelisa, Rosabela Sayu Prameswari, dan Farin Prasetyaningrum memasukkan ceplukan sebagai pengganti kismis anggur. “Ceplukan kami olah dulu menjadi kismis, baru kemudian kami campur dengan bahan-bahan lain seperti rice crispy, gula merah, dan oatmeal,” ujar Danniary.
Pangan bergizi
Danniary mengolah ceplukan segar menjadi kismis dengan mengovennya pada suhu 70—80oC selama 6 jam. Pemuda kelahiran Malang 18 April 1997 itu menggunakan buah ceplukan jenis Physalis peruviana. Danniary pernah mencoba spesies lain, Physalis angulata, tetapi cita rasa olahan kurang mantap. Ia memperoleh buah dari tanaman koleksi dosen pembimbing, Dr. Budi Waluyo, S.P., M.P. Budi kerap berburu tanaman ceplukan di berbagai daerah di Indonesia dan mengoleksi 500-an jenis.

Idealnya tingkat kematangan buah bahan baku chipbar 100%. Kemudian ia dan tim mencairkan gula jawa plus bumbu pendukung (lihat ilustrasi). Mahasiswa berumur 23 tahun itu mencampur semua bahan itu dengan sangraian rice crispy plus oatmeal. Ia lantas mencetak dan mengoven penganan itu hingga matang. Bobot chipbar 20 gram per kemasan. Menurut Danniary ukuran itu komposisi buah ceplukan mencapai 20—30%.
Menurut dosen pembimbing, Dr. Budi Waluyo, S.P., M.P., keragaman buah ceplukan di Indonesia sangat tinggi. “Ceplukan buah sehat yang tinggi antioksidan. Di Indonesia keragaman karakter-karakter ceplukan sangat tinggi mulai dari bentuk tanaman, bentuk buah, warna, dan rasa buah,” ujar peneliti yang mengoleksi 500-an aksesi ceplukan itu. Buah anggota famili Solanaceae itu juga bermanfaat bagi kesehatan. Buah ceplukan antara lain mengandung vitamin C. Kadarnya mencapai 43 mg per 100 gram buah.
Danniary mengatakan, inspirasi chipbar sejatinya berawal dari dosen pembimbingnya di Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Brawijaya. Namun, proses pembuatan chipbar amat sulit. Danniary dan rekan bergonta-ganti resep hingga 6 kali sampai menemukan rasa yang enak dan harganya terjangkau. Semula ia menggunakan oatmeal tanpa rice crispy dan jadilah cemilan bertekstur lembek plus mahal. Setelah ia menambahkan rice crispy, tekstur chipbar lebih renyah.
Raih penghargaan

Faronny Rosabela Sayu Prameswari. (Dok. Koleksi Tim Chipbar)
Ide kreasi itu mengantarkan tim chipbar meraih dua penghargaan sekaligus pada ajang The World Young Inventors Exhibition di Malaysia, pada Juli 2018. Penghargaan pertama kami mendapat medali emas dan penghargaan kedua menjadi yang terbaik se-Asia. Keruan saja, capaian itu memompa semangat mereka untuk melangkah lebih jauh. Ia juga mengikutsertakan chipbar pada kompetisi Program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) pada Oktober 2018.
Acara yang diselenggarakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia itu menawarkan bantuan usaha dengan total pendanaan sekitar Rp250 juta per tim. Para periset itu berhasil menjadi salah tim yang mendapat pendanaan itu. Oleh karena itu, Danniary dan rekan mengurus perizinan usaha melalui lembaga Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kini mereka baru mendapat sertifikat nilai B dari BPOM. Danniary dan rekan menyempurnakan chipbar agar siap dipasarkan dengan kualitas bagus plus harga yang terjangkau. (Bondan Setyawan)
