Monday, November 28, 2022

Dalam Kepungan Musuh Naga

Rekomendasi

 

Imam Hambali pantas masygul. Mamalia yang aktif di malam hari itu sungguh merusak. Daging buah menjelang matang kerap digasak hingga tinggal separuh. Yang membuat miris, ‘Terkadang yang digerogoti hanya sedikit. Tapi, buah seperti itu sudah tidak layak jual,’ keluh pemilik kebun Agro Wiyata Mini itu.

Dari 900 tanaman ia hanya memanen 1,8 ton per musim; mestinya 2 ton per musim. Dengan harga jual Rp30.000/kg, Imam kehilangan omzet Rp6-juta/musim buah. ‘Jumlah sebanyak itu cukup untuk membayar upah tenaga kerja 2 bulan,’ ujarnya. Yang mengherankan waktu pertama membuka kebun buah naga 5 tahun lalu tak satu pun kelelawar berkeliaran di kebun. Serangan kelelawar baru mewabah sejak 2 tahun lalu.

Bungkus!

Agustinus Suyanto, manajer koleksi mamalia Museum Zoologi Puslit Biologi LIPI, menuturkan di Indonesia ada 205 jenis kelelawar dari 53 famili seperti Pteropopidae, Megadermotidae, dan Rhinolophidae. Dari jumlah itu 72 jenis pemakan buah, sisanya pemakan serangga.

Kelelawar pemakan buah kebanyakan tinggal di pohon (80%), yang lain menetap di dalam gua. Di malam hari mereka mencari pakan. Buah beringin karet, keluwih, sawo, dan srikaya pakan favorit kalong. Toh, buah lain seperti pisang dan mangga juga disambar. ‘Makanya kebun yang lokasinya berdekatan dengan tanaman buah itu mesti siap-siap juga dirongrong kalong,’ tutur Agustinus.

Untuk mencegah serangan sang kampret, Imam membungkus buah dengan plastik bening ketika mulai bersemburat merah. Pada bungkus plastik itu dibuat 2 lubang berdiameter 5 mm agar proses respirasi tidak terhambat. Cara itu memang membutuhkan biaya tambahan, tapi tergolong murah. Ia hanya mengeluarkan biaya Rp50.000 untuk membeli plastik pembungkus ditambah Rp30.000 untuk upah seorang tenaga kerja. Teknik murah meriah itu terbukti ampuh. Buah naga selamat hingga panen.

Awas basah

Ancaman lain buat sang naga adalah makhluk liliput seperti bakteri. Trubus melihat serangan Erwinia carotovora di kebun Eric Wiraga di Subang, Jawa Barat. Agresi anggota famili Enterobacteriaceae itu mudah dideteksi. Pada sulur terinfeksi terdapat bercak basah berwarna kecokelatan.

Erwinia menyerang tanaman dengan memproduksi enzim pektinase yang mengurai dinding pelindung sel tumbuhan. Makhluk supermini itu lantas dengan leluasa mengisap nutrisi dari dalam sel yang telanjang. Ketika sulur ditekan, lendir kekuningan berbau busuk meleleh keluar.

Bercak kecil saja – bila tidak segera diatasi – bisa menyebabkan kerusakan besar. Maklum erwinia mudah menyebar dengan perantara serangga dan angin. Yos Sutiyoso, entomolog di Jakarta yang datang bersama melarang Trubus memegang tanaman buah naga lain karena sebelumnya memegang sulur terserang. ‘Harus cuci tangan dulu dengan desinfektan agar bakteri tidak menular ke tanaman lain,’ katanya.

Di kebun Eric erwinia memang tidak menyebabkan kerugian berarti. Maklum begitu terlihat ada serangan, Eric langsung memotong dan memusnahkan bagian sulur terinfeksi. Trubus melihat beberapa sulur menguning. ‘Itu salah satu bentuk perlawanan buah naga terhadap serangan bakteri supaya infeksi tidak menyebar ke sulur lain,’ ujar Yos. Pisau yang digunakan untuk memotong dicuci dengan alkohol atau air panas agar steril sebelum dipakai kembali.

Bila serangan bakteri sudah menyebar ke seluruh bagian tanaman, bongkar dan musnahkan tanaman terserang. Untuk mencegah penularan, semprotkan bakterisida seperti Stamycin 20 WP atau Agrept 20 WP dengan konsentrasi 1 – 2 g/l setiap pagi selama sepekan.

Meski sejauh ini belum merusak, Yos mewanti-wanti agar pekebun buah naga tetap waspada karena serangan erwinia ganas. Bakteri itulah yang meluluhlantakkan ratusan hektar Sansevieria trifasciata laurentii di Cipanas, Jawa Barat, pada 2005. Sementara di Malayasia, pada 2006 erwinia menghancurkan sejuta tanaman pepaya di lahan seluas 800 hektar. Total kerugian mencapai US$60-juta atau sekitar Rp600-miliar.

Karat merah

Kebun milik Dr Paulus Tribrata Budiharjo MTh MM di tepi Pantai Glagah, Bantul, Yogyakarta, juga tak luput dari serangan makhluk liliput. Sulur puluhan tanaman buah naga merah miliknya diselimuti alga Cephaleuros virescens. Alga itu menyebabkan munculnya bintik-bintik merah kecokelatan di permukaan daun sehingga disebut karat merah. Warna merah berasal dari hormon hematokrom yang muncul saat kotak spora siap berproduksi.

Lokasi kebun di tepi pantai membuat alga karat merah tumbuh subur. Intensitas sinar matahari tinggi yang mempercepat laju penguapan air laut membuat kelembapan di kawasan kebun tinggi. Pada kondisi itu alga leluasa tumbuh dan berkembang biak.

Di kebun Paulus penyakit karat merah memang belum menyebabkan masalah besar. ‘Produktivitas rata-rata masih 80 kg/tiang (1 tiang terdapat 4 tanaman, red) per musim tanam. Jumlah itu masih ekonomis,’ ujar master di bidang theologi itu. Meski demikian jangan anggap enteng karat merah. Menurut Yos bila alga menyelimuti lebih dari 30% permukaan sulur akan mengganggu fotosintesis. Akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat karena gagal memproduksi ‘makanan’.

Yos menyarankan untuk menebang atau memangkas pohon yang menaungi kebun. Kebun yang ternaungi membuat iklim mikro semakin lembap. Drainase juga meski diperbaiki. Air yang tidak mengalir membuat lahan menjadi basah sehingga ketika suhu udara tinggi terjadi penguapan berlebihan. Akibatnya kelembapan udara semakin tinggi. Untuk menghilangkan karat merah semprotkan pestisida berbahan aktif tembaga dan senyawanya seperti Cupravite B-12, Kocide 60 WSG, dan Copper Sandoz. Dosis disesuaikan dengan yang tertera pada label kemasan. Dengan begitu, para perongrong sang naga itu sirna. (Imam Wiguna/Peliput: Ari Chaidir dan Evy Syariefa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img