Monday, November 28, 2022

Bungkil Lebih Top

Rekomendasi

Untuk mengejar target, Hem memacu pertumbuhan ikan dengan memberi berbagai pakan. Dengan azola dan gabah, gagal. Bungkil kelapa sawit juga tidak berhasil. Namun, titik terang muncul dari onggokan bungkil yang masih tersimpan di belakang rumah dinasnya.

 

Onggokan bungkil itu disatroni lalat hermetia. Lalat-lalat itu bertelur di sana. Saat telur menetas Hem memanen ribuan larva lalat. Belatung berukuran 3 – 4 mm itu ditebar sebagai pakan alami. Terbukti ikan-ikan menyukai dan produksi terdongkrak. Penduduk Guinea pun punya pasokan ikan untuk memperbaiki gizi.

Duduk perkara bungkil cocok sebagai media perkembangbiakan hermetia dan kelebihan larva terungkap tuntas saat ia bertugas sebagai perwakilan Institute de Recherche Pour le Developpement ke Indonesia pada 2005. Menurut Melta Rini Fahmi, rekan peneliti maggot Saurin Hem, bungkil yang merupakan limbah mengandung 18% protein. Sayang protein itu tidak bisa diserap langsung oleh tubuh ikan. Justru oleh hermetia melalui mekanisme biokonversi, protein itu dapat diserap. Hebatnya di tubuh larva lalat, jumlah protein melonjak mencapai 40%.

Hermetia memiliki banyak keunggulan. Anggota diptera itu bukan vektor penyakit, seperti lalat rumah. Malah kehadirannya justru dapat menghambat perkembangbiakan lalat rumah dengan memakan larvanya. Hermetia pun mempunyai toleransi besar terhadap perubahan lingkungan. Singkat kata, ‘Jenis ini paling cocok untuk produksi maggot,’ kata Melta Rini.

Budidaya maggot hermetia tidak ribet. Untuk mendapat sekilo maggot diperlukan 3 kg bungkil. Proses meramu media itu sederhana. Memakai wadah plastik bungkil itu dicampur 6 liter air dan diaduk, lalu didiamkan sehingga terjadi fermentasi. Sebelumnya selesai diaduk, media campuran tadi ditutup serasah daun pisang untuk tempat hermetia meletakkan telur. Wadah pun ditutup plastik. Nah, supaya lalat hermetia bisa masuk ke dalam, di sekeliling wadah diberi lubang. Wadah berdiameter 60 cm diberi 12 lubang masing-masing bergaris tengah 2 cm dengan jarak antarlubang 12 cm.

Berikutnya wadah ditaruh di atas bambu, layaknya obor. Proses ini berjalan secara alami sehingga produksinya agak sulit dikontrol. Setiap betina bisa bertelur hingga 900 butir. ‘Karena media ditaruh di alam terbuka, jumlah hermetia yang masuk tergantung kondisi lingkungan. Paling bagus di lokasi terbuka, tetapi dekat rerimbunan pohon,’ ujar Melta Rini yang membuktikan dengan pemakaian 2 kg bungkil menghasilkan 1 kg maggot selama 2 minggu pada uji lapangan di Jambi.

Cara terbaru agar terkontrol adalah memperbanyak tanaman widelia di dalam rumah mirip greenhouse. Ini yang tengah dilakukan di LRBIHAT. Prinsip kerjanya sama seperti memakai wadah, termasuk medianya. Yang membedakan populasi hermetia terawasi. ‘Ini dilakukan untuk panen telur yang akan menjadi minilarva,’ tutur Melta. Melalui teknik pengaturan pakan dan temperatur, larva itu dapat tetap mini sampai 3 bulan. Inilah yang dapat dijadikan stok induk karena daur hidup lalat hermetia terbilang pendek, 1,5 bulan.

Larva lalat dapat dipanen setelah 2 minggu sejak induk meletakkan telur. Ada 2 cara bentuk panen: basah dan kering. Basah untuk larva segar dan hidup, kering sudah diolah menjadi pelet. Menariknya lagi sisa fermentasi media sebanyak 20 – 30% yang tidak terpakai masih punya nilai tambah sebagai pupuk. Ujicoba pada tanaman kacang-kacangan yang diberi 300 g per lubang tanam, produksinya mencapai 4 kali lipat. (Dian Adijaya S/Peliput: Tri Susanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img