Friday, December 2, 2022

Dari Batu Tumbuh di Pantai

Rekomendasi

 

Pemandangan di tepi Pantai Weri, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu begitu mengejutkan. Selama ini NTT tak dikenal sebagai sentra Dimocarpus longan. ‘Yang mengebunkan pun tidak ada,’ ujar Silvester, staf Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (DPTPP) Kabupaten Flores Timur.

Maklum, NTT termasuk daerah kering dengan curah hujan kurang dari 2.000 mm/tahun. Sementara lengkeng lokal Indonesia idealnya tumbuh di daerah basah bercurah hujan 2.500 – 4.000 mm/tahun. Umumnya di dataran tinggi berelevasi di atas 700 m dpl dan berudara dingin karena lengkeng butuh udara dingin untuk memicu pembungaan. ‘Contohnya sentra lengkeng lokal di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dan Batu, Jawa Timur,’ kata Ir Agus Sugiyatno, peneliti lengkeng di Balai Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Tlekung, Malang. Ambarawa berketinggian 700 – 900 m dpl; Batu, 700 – 1.200 m dpl. Di dataran rendah seperti Larantuka hampir tak pernah ditemukan sentra lengkeng lokal.

Asal Batu

Kehadiran lengkeng di Weri bermula dari ‘keisengan’ Oemboe Ratu Djawa. Sekitar 31 tahun silam, ia mendapat oleh-oleh lengkeng dari Batu, Jawa Timur. ‘Bijinya lalu saya sisihkan untuk disemai,’ ujar Oemboe. Keisengannya berbuah manis. Dari puluhan biji yang ditanam, 3 di antaranya tumbuh dewasa.

Ketiganya mulai berbuah pada umur 7 tahun. ‘Saya betul-betul kaget karena tak menyangka bakal berbuah,’ kata Oemboe. Oemboe pantas kaget karena tak melakukan perlakuan apa pun untuk merangsang pembuahan. Berbeda dengan lengkeng mutiara asal Poncokusumo, Malang, yang berbuah di Bekasi yang berketinggian 58 m dpl karena perangsangan dengan potassium klorat.

Dari 3 pohon yang Oemboe tanam pada 1979 itu, 1 yang berbuah lebat. Pohon itu lantas dijadikan indukan untuk memperbanyak lengkeng. Pria asal Sumba itu mengumpulkan dan menanam bijinya di halaman rumah. Sebanyak 26 di antaranya tumbuh menjadi tanaman dewasa yang produktif hingga sekarang.

Pada 1993 Oemboe mulai memperbanyak bibit dengan mencangkok pohon induk utama. Saat berkunjung ke rumahnya pada akhir September 2010, Trubus melihat 18 pohon hasil cangkokan berumur 17 tahun dan 12 pohon berumur 5 – 10 tahun. Menurut Oemboe pada umur 2 – 3 tahun pohon asal cangkokan mulai berbuah. Total jenderal kini Oemboe mempunyai 56 pohon dewasa yang dijadikan sekarang indukan, termasuk pohon induk pertama – diameter batang mencapai 80 cm – yang masih rajin berbuah.

Menurut Agus Sugiyatno, lengkeng lokal bisa saja beradaptasi di dataran rendah, tapi butuh waktu lama. Dr Moh Reza Tirtawinata, pakar buah di Bogor, Jawa Barat, menuturkan adaptasi itu bisa terjadi karena adanya mutasi pada hormon pengatur pembungaan. Jadi lengkeng tidak perlu pemicu udara dingin untuk berbuah. Contohnya lengkeng selarong asal Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang tumbuh dan berbuah di Selarong, Bantul, berketinggian 50 – 100 m dpl.

Kering

Lengkeng Larantuka biasanya berbunga pada Januari – Februari dan berbuah pada Juni – Juli. Produksi tanaman berumur di atas 10 tahun 300 – 350 kg per pohon per tahun. Menurut Laurensius SF Aikoli SP, kabid Produksi dan Pengembangan Pertanian DPTPP Flotim, buah larantuka punya keunggulan: rasa lebih manis dan daging buah lebih tebal daripada lengkeng batu. Diduga rasa lebih manis karena tanah di tepi pantai kaya mineral. Tanah yang cenderung berpasir juga membuat daerah perakaran tidak tergenang sehingga daging buah lengkeng pun lebih kering.

Pada September itu Trubus masih sempat mencicipi buahnya. ‘Ini sisa buah kemarin,’ kata Oemboe. Pada 2010 itu, lantaran hujan masih turun di musim kemarau, beberapa pohon tampak memunculkan bunga baru, tapi jumlahnya lebih sedikit.

Bibit-bibit hasil cangkokan Oemboe kini sudah menyebar ke beberapa daerah di Flotim seperti Pulau Adonara, Lembata, Solor, serta daratan Flotim. Bibit umur 6 bulan setinggi 20 – 30 cm dijual Rp5.000/pohon. Buahnya diminati masyarakat, meski dibanderol Rp25.000/kg. Pantas pada 2011 DPTPP Flotim berniat mengembangkan lengkeng larantuka lebih massal agar makin banyak yang bisa merasakan manisnya ‘buah keisengan’ Oemboe itu. (Tri Susanti)

 

  1. Bibit lengkeng selarong di Balitjestro Tlekung mulai belajar berbuah umur 1,5 tahun
  2. Lengkeng larantuka hasil budidaya Oemboe bercita rasa manis, daging buah tebal, dan kering
  3. Silvester menunjukkan buah dari pohon umur 17 tahun
  4. Lengkeng mutiara berbuah di dataran rendah karena perangsangan

Foto-foto: Tri Susanti & Nesia Artdiyasa

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img