Thursday, August 18, 2022

Daun Sirsak Cermat dan Waspada

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Anita – nama samaran – di Kota Wisata Cibubur, Jakarta Timur, mengalami diare sesudah sepekan rutin mengonsumsi rebusan daun sirsak. Gejala diare dengan tanda feses berbentuk cair itu sebetulnya sudah muncul sejak hari ke-3 konsumsi. “Dalam sehari bisa 3 kali ke kamar kecil,” ujar Anita yang mengidap tumor jinak di payudara itu. Memasuki hari ke-7 frekuensi ke kamar kecil meningkat 5 – 6 kali sehari. Efeknya, “Tubuh menjadi lemas. Suami khawatir sehingga saya langsung dibawa ke rumahsakit,” kata Anita mengenang kejadian pada awal April 2011 itu. Anita untuk sementara waktu menghentikan konsumsi rebusan daun sirsak.

Di Ciracas, Jakarta Timur, Tety Juriah juga menyetop konsumsi rebusan daun sirsak. Setiba di rumah pascaoperasi tumor payudara, sang suami langsung menyuguhkan segelas air rebusan daun sirsak. “Biar cepat sembuh,” kata Tety meniru ucapan sang suami. Namun, tak dinyana 2,5 jam setelah meminum, tubuh Tety berubah tak enak. “Sendi terasa nyeri, demam tinggi, tenggorokan kering, dan kepala terasa sakit,” ujarnya. Padahal sang suami menyebutkan bahwa ia sudah merebus sesuai aturan: tujuh lembar daun direbus dengan 3 gelas air hingga tersisa segelas untuk diminum.

Lain lagi yang menimpa Ricky Setiadharma, penderita kanker otak di Bogor, Jawa Barat. Atas saran herbalis di Bogor, Ricky rutin mengonsumsi herbal yang antara lain mengandung serbuk daun sirsak untuk menolong penyembuhan penyakitnya. “Herbalisnya bilang efek awal pemberian akan buruk,” ujar Wiwie, sang istri. Benar saja 7 hari setelah mengonsumsi Ricky anfal. Tubuhnya sering kejang-kejang dibarengi keringat deras mengucur di seputar kepala dan tengkuk. “Sehari bisa 4 – 5 kali ganti baju,” tambah Wiwie. Konsumsi herbal itu tetap berjalan lantaran menginjak hari ke-16 Ricky menunjukkan kemajuan: selang di kepala sudah bisa dicabut.

Cermat

Diare, nyeri sendi, hingga keluar keringat bercucuran boleh jadi efek dari pemakaian daun sirsak. “Efek itu bisa bersifat negatif dan positif,” kata dr Arijanto Jonosewojo SpPD, kepala Poliklinik Obat Tradisional Indonesia (POTI) RS Dr Soetomo di Surabaya, Jawa Timur. Positif bila menyembuhkan, tetapi negatif jika merugikan. Diare yang menimpa Anita, misalnya, merugikan karena berujung pada dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. “Jika begitu pemakaian herbal perlu segera dihentikan,” ujar Arijanto.

Lebih jauh Arijanto menuturkan keluhan yang timbul itu dapat merupakan reaksi alergi si pemakai terhadap herbal. Itulah bentuk respon tubuh terhadap benda asing. Arijanto menyebutkan dari riset sebelumnya terungkap bahwa daun sirsak mengandung tanin. “Sifat tanin itu bila masuk di tubuh justru menyebabkan kesulitan buang air besar,” kata Arijanto yang menyarankan agar pengguna herbal aktif berkonsultasi dengan dokter bila muncul keluhan.

Menurut dr Sidi Aritjahja, dokter sekaligus herbalis di Yogyakarta, diare dapat muncul bila pengguna mengonsumsi herbal kedaluarsa. Yang disebut kedaluarsa pada rebusan air daun sirsak itu, bila air rebusan diminum setelah lewat dari 12 jam pascarebus. “Salah satu efek yang tampak adalah diare dan khasiat obat yang diharapkan tidak tercapai,” kata Sidi.

Keluhan-keluhan yang timbul itu seyogyanya perlu ditelaah lebih dalam. Dr Prapti Utami di Jakarta Selatan menjelaskan sederet pertanyaan perlu dijawab si pengguna bila efek merugikan itu timbul, antara lain, “Seperti apa pemakaiannya, dosisnya, apakah dikonsumsi bersama obat lain, bagaimana tekanan darah si pengguna?” kata pemilik klinik Evergreen itu. Hal itu penting untuk merekam jejak pemakaian sehingga penyebab munculnya keluhan-keluhan itu dapat diprediksi.

Waspada

Rasa aman dalam mengonsumsi herbal sangat penting. Prapti menganjurkan konsumsi herbal tidak tunggal. “Ini untuk menetralisir efek merugikan yang muncul akibat pemakaian herbal tunggal,” ujarnya. Itu pula yang selama ini diterapkan oleh para herbalis. “Tidak ada satu peluru ajaib untuk bisa menyembuhkan penyakit,” kata dr Paulus Wahyudi Halim SpB, dokter dan herbalis di Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, memberikan ilustrasi.

Menurut Paulus mesti ditekankan bahwa peran herbal hanya 40% dari kesembuhan. Selebihnya adalah pikiran, jiwa, dan semangat hidup si pasien. Kalaupun menaruh harapan pada herbal atau obat lain, Arijanto mengungkapkan beberapa hal penting yang perlu diketahui pemakainya, yakni tepat indikasi, tepat penderita, tepat obat, tepat dosis, dan waspada efek samping.

Untuk mereka yang sehat Prof Dr Sumali Wiryowidagdo Apt, Guru Besar Farmasi F-MIPA Universitas Indonesia memperbolehkan konsumsi rebusan daun sirsak sebagai tindakan preventif atau pencegahan. “Dosisnya rendah saja seperti membuat olahan teh daun sirsak yang diminum satu atau dua hari sekali,” kata Sumali. Hal senada disampaikan oleh Arijanto yang menekankan pemakaian herbal mestinya diarahkan sebagai upaya preventif dan promotif. Yang disebut terakhir mengarah kepada efek untuk menyegarkan tubuh.

Bila dipakai untuk kuratif atau pengobatan, memang perlu perhatian lebih serius. Upaya kuratif mesti memakai dosis aman. “Harus benar-benar dilihat tingkat keseriusan dari penyakit penderita,” kata Sumali. Itu penting karena dosis pemberian bisa ditambah atau bahkan diturunkan dari dosis preventif. Dengan begitu diharapkan pemakaian herbal dapat memberikan khasiat dan kesembuhan, bukan malah membuat derita bertambah. (Dian Adijaya S/Peliput: Tri Istianingsih, Amadea Pranastiti, dan Susirani Kusumaputri)

 

Rebusan daun sirsak yang disimpan setelah 12 jam (kiri) dan rebusan daun sirsak baru (kanan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img