Thursday, August 18, 2022

Demi Lebat Naga Merah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Di kebun berketinggian 700 m di atas permukaan laut, pukul 05.30, sepuluh “penghulu” mulai bekerja di kaki Gunung Salak.  Mereka bukan mau menikahkan pasangan sejoli tetapi mengawinkan bunga buah naga merah.

Mari kita hitung. Di lahan seluas 5 hektar itu tertancap 7.000 tiang pancang. Setiap tiang untuk merambatkan empat tanaman buah naga. Pengalaman para penghulu setiap hari selama musim bunga terdapat 5 bunga siap kawin di pancang setiap tiang. Itu berarti ada 35.000 bunga mesti dikawinkan.

Dengan perhitungan minimal itu saja maka dalam waktu kurang dari empat jam setiap penghulu harus mengawinkan 3.500 bunga. Harap mafhum, bunga berbentuk corong milik si naga merah akan menutup pada pukul 09.00 setelah pada malamnya mekar sempurna.

Para “penghulu” bunga buah naga  itu berbekal sebatang bambu dengan secuil kapas terjepit di ujung. Mereka lalu memasukkan bambu sepanjang 30 cm itu ke tengah bunga yang masih mekar dan memutarnya 3600. Bunga siap dikawinkan satu bulan setelah muncul pentil bunga. Dalam hitungan detik benangsari dan putik si naga merah menyatu. Setelah satu tugas terselesaikan masih ada 3.499 bunga lain menunggu dikawinkan oleh setiap penghulu.

Bantuan lebah

Para penghulu di kebun buah naga lain biasanya mengawinkan pada malam hari, dimulai pukul 22.00 hingga 00.00. Pada tengah malam bunga mekar sempurna sehingga penghulu lebih mudah mengawinkan bunga.

Saat sang penghulu asyik mengawinkan bunga naga merah, terdengar suara lirih. Nging…nging….nging, dan muncullah 3 – 4  ekor lebah dari balik bunga mekar yang belum sempat dikawinkan.  Itulah bala bantuan dari Gunung Salak. Serangga penghasil madu itu  mengambil pakan berupa polen dan nektar dari bunga Hylocereus costaricencis itu. Saat lebah hinggap dari satu kuntum ke kuntum yang lain, serbuk sari menempel di kaki-kakinya dan berpindah ke kepala putik seiring pergerakan serangga-serangga kecil itu.

“Mereka melakukan 20% proses mengawinkan, kami menjadikannya 100%,” kata Uyung. Menurut pengamatan Uyung bobot buah naga hasil penyerbukan oleh serangga hanya setengah bobot buah hasil kawin oleh manusia.

Para penghulu rutin bekerja pada Agustus, September, dan Oktober. Ketika itu setiap hari terdapat 5 – 10 bunga mesti dikawinkan. Tingkat keberhasilan penyerbukan buatan itu sekitar 90%.  Mulai November, buah yang warna kulitnya sudah merah dan  sisiknya berubah warna dari hijau menjadi kemerahan siap dipanen.

Lebat

Lihatlah pada pengujung Desember 2011, saat Trubus berkunjung sang naga merah berbuah sangat lebat. Setiap sulur digelayuti 2 – 5 buah, bahkan ada sulur yang dihuni 8 buah yang saling berdesakan. Pantas saja jika dari setiap tanaman Warso bisa memanen 15 – 25 buah setiap 1 kali panen yang dilakukan 2 hari sekali.

Lima belas persen bobot buah mencapai 800  g alias masuk grade A. Dari kebun itu hampir setiap hari 500 kg naga merah dikirim ke pasar modern di Jakarta dengan harga Rp20.000/kg di tingkat konsumen. Di kebun, Warso menjualnya Rp3.000/100 g.

Harga itu terbilang tinggi dibanding buah naga dari pemasok lain. Itu yang sempat dipertanyakan pihak pasar modern. “Saya mengambil keduanya, lalu mengetes tingkat kemanisan buah,” kata Uyung. Hasilnya, tingkat kemanisan buah naga asal kebun Warso menunjukkan angka 17o brix, sedangkan buah naga pekebun lain hanya 10o brix.

Menurut Uyung, kunci budidaya buah naga ala Warso Farm adalah tepat waktu. “Pemangkasan, sanitasi kebun, pemupukan, mengawinkan dan pemanenan semuanya harus dilakukan tepat waktu,” kata Uyung.

Setiap sulur yang sudah mengalami 3 kali masa berbuah dipangkas. Begitu juga dengan tunas air. Menurut Prof Dr Roedhy Purwanto dari Pusat Kajian Buah Tropika IPB, pemangkasan tunas air pada buah naga sangat efektif meningkatkan pertumbuhan tanaman. Saat tunas air dipotong, fotosintat (hasil fotosintesis) yang sebelumnya mengalir ke tunas air berpindah ke bagian lain yang sedang tumbuh. “Jika pemangkasan dilakukan saat tanaman berbunga, dapat meningkatkan bobot dan rasa manis buah,” kata Roedhy. Pantas saja, buah naga Warso berbobot rata-rata 500 g.

Organik

Warso memberikan pupuk organik hasil fermentasi bangkai anak ayam dengan bantuan bakteri dekomposer. Sebanyak 20 kg DOC mati dicampur dengan 200 liter air, lalu ditambahkan 2 liter bakteri dekomposer. Fermentasi berlangsung selama  4 bulan. “Setelah 4 bulan biasanya sudah tidak berbau, dan bahan baku sudah hancur paling tinggal tulang saja,” kata Uyung. Setiap bulan larutan hasil fermentasi itu yang disemprotkan ke sulur-sulur buah naga dengan mengencerkannya terlebih dahulu dengan 400 liter air.

Menurut Dr Ir Tualar Simarmata MS, ahli tanah di Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran, sari pati anak ayam yang sudah terfermentasi mengandung asam amino dan asam-asam organik yang tinggi. “Asam-asam organik itu menjadi makanan bagi mikroba yang hidup di sekitar perakaran buah naga,” tuturnya. Akibatnya, pertumbuhan akar buah naga lebih cepat dan secara tidak langsung meningkatkan pertumbuhan si naga merah. Untuk mempertahankan kemasaman tanah dalam kondisi netral Suwarso membenamkan segenggam kapur dolomit per tiang pancang setiap selesai turun hujan.

Setahun sekali, pada Juli atau sebulan sebelum tanaman berbunga,  pria 84 tahun itu menambahkan pecahan batu bata merah dan kompos. Campuran dengan perbandingan 1:1 sebanyak 2 kg itu ia taburkan di sekeliling tiang pancang. Menurut Tualar batu bata merah yang dihancurkan memperbaiki aerasi tanah. “Butiran-butiran pecahan batu bata merah membuat tanah memiliki rongga-rongga yang membuat pertumbuhan akar optimal,” kata Tualar.

Efeknya, tanah menjadi lebih gembur dan perakaran menjadi optimal. Pertumbuhan tanaman menjadi subur karena penyerapan hara lebih baik. Semua usaha itu demi menghadirkan buah naga superlebat dan supermanis. (Bondan Setyawan).

 

 

Tingkat kemanisan buah naga Warsofarm mencapai 170 brix

Buah naga berbuah lebat karena perlakuan intensif

Ambil serbuk sari dengan cara memutar-mutar bambu hingga sertbuk sari menempel di kapas

Oleskan serbuk sari ke putik hingga rata

Suwarso Pawaka di depan tugu buah naga di kebun

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img