Siapa tak ngeri melihat sosok sangar doberman. Diam pun ia sudah dapat menggetarkan hati orang awam yang melihat. Apalagi sampai menyalak lalu tiba-tiba menerkam. Daging tangan saya pernah koyak gara-gara tak sengaja digigit, ujar Tommy Watulo, hobiis doberman di Jakarta suatu saat pada Trubus sambil memamerkan jahitan luka panjang di lengan kanan.
Sebab itu Midian memilih doberman. Ia betul-betul geram menghadapi ulah begal-begal itu. Setiap kali masa panen tiba, setiap malam pula sekitar 40 monthong berbobot 3-5 kg di kebun seluas 25 ha itu lenyap. Pencuri itu berkelompok sampai 5 orang.Jadi penjaga pun tidak berani melawan, kenang alumnus Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor itu.
Asal tanam
Darwono Ajisurya di Jakarta Selatan menderita kerugian belasan juta rupiah saat mulai berkebun pada 1994. Sejumlah 1.320 bibit monthong, sunan, dan sukun, yang diburunya dengan susah-payah ke sana-kemari, mati meranggas dikepung ilalang di kebun seluas 10 ha di Carita, Kabupaten Pandeglang. Saya suruh orang setempat tanam, tapi mereka tidak membuang ilalang dulu, ujar alumnus Akademi Militer Nasional (AMN) angkatan 64 itu.
Mudah ditebak akibatnya. Bibit-bibit setinggi 40 cm itu mesti bersaing melawan ilalang setinggi semeteran. Kompetisi makanan dan sinar matahari pun terjadi. Bibit-bibit itu kalah. Dari ribuan batang, dalam tempo 4 bulan bertahan 100 bibit. Tanaman sisa itu pun mayoritas tumbuh abnormal. Batangnya membengkok. Ya sudah karena yang lain mati sekalian saja bibit itu dimusnahkan, ujar Darwono.
Bibit tertangani, masalah lain muncul saat umur tanaman menginjak 6-7 tahun. Monthong, sunan, sukun, petruk, dan sitokong, yang berbuah pertama kali pada 1999-2000 itu mendadak sulit berbuah lagi. Bahkan sejak 2000- 2005, tak ada satu tanaman pun mengeluarkan buah. Suami Nani Suryaningsih itu mencoba berbagai cara merangsang Durio zibethinus berbuah, tapi nihil. Pupuk sudah diberikan, termasuk hormon perangsang buah, katanya.
Panen monthong 2005 pun menjadi kisah sedih bagi Midian. Sekitar 95% buah didapati bantet. Daging keras, bentuk tak beraturan, daging pun tak dapat dimakan. Semua jadi sampah. Saya sampai capai mengangkut buah, dari 10 buah hanya satu yang dapat dijual, katanya.
Menurut Ir Hendro Soenarjono, pakar buah di Bogor, tingginya kadar garam di kebun dekat pantai membuat tanaman stres. Pohon jadi tercekam hingga tidak mau berbuah, tuturnya. Saat kadar garam turun baru tanaman mau berbuah lagi. Kekurangan unsur mikro terutama boron menyebabkan buah kuntet, tambah Hendro.
Diusap solar
Serangan penyakit menjadi batu sandungan lain. Lihat saja kedatangan phythophthora yang membuat tanaman meranggas hingga tak tersisa sehelai daun pun. H. Soewarso Pawaka mencoba mengatasi dengan memberi fosforid acid. Namun, karena aplikasinya tidak sesuai, hasilnya pun kurang maksimal. Fosforid acid 40 cc itu dicampur seliter air lalu diusap ke batang. Yang benar, tidak perlu diencerkan dulu, ujar pemilik Warso Farm di Bogor itu setelah melihat cara pekebun Thailand.
Selain diusap ke batang, pekebun di negeri Gajah Putih itu membor akar untuk memasukkan racun. Saking penasaran Warso-panggilan akrab- pun mempraktekkan ilmu itu. Sayang karena terlalu bersemangat, Warso kerap membor tanpa melihat kemiringan mata bor. Lubang bor jadi terlalu dalam bahkan hampir menyentuh batang utama. Yang terjadi, racun masuk, pohon pun mati. Jadi itu ibarat suntik mati pada tanaman, katanya.
Menurut Buyung, staf Warso Farm, seorang hobiis di Semarang pernah mencoba mengutak-atik tanaman di kebunnya. Ia coba-coba merangsang pembungaan dengan mengoleskan solar di batang, ujar Buyung. Setelah ditanya, hal itu meniru perlakuan penyadap karet. Karet kuat karena dindingnya ada lapisan getah penahan panas solar. Di durian tidak ada, sehingga bisa mati pohonnya, tambah Buyung. (Dian Adijaya S/Peliput: Sardi Duryatmo & Lastioro Anmi Tambunan).
