Monday, August 15, 2022

Dua Pilihan Menjual Porang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Pengeringan porang secara tradisional.(foto: Dok. Arif Dika Mahendra & Munib Muhaimin)

TRUBUS — Petani dapat menjual umbi porang segar. Harga jual irisan umbi lebih mahal, tetapi berisiko.

Arif Dika Mahendra memanen 20—25 ton umbi porang setiap tahun. Petani di di Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, mengelola porang Amorphophallus muelleri di lahan keluarga seluas 4 hektare. Musim panen pada April—Agustus. “Bulan April masih sedikit hasil panen dan panen raya pada Juni—Juli,” kata pekebun porang sejak 2014 itu.

Selain mengebunkan tanaman kerabat Araceae itu, ia juga mengumpulkan hasil panen pekebun di sekitar rumah untuk memasok beberapa pabrik pengolahan di Gresik, Mojokerto, dan Surabaya, semua di Provinsi Jawa Timur. Hingga pertengahan Juni 2021, ia menyetor 130 ton umbi basah ke pabrik-pabrik itu. Harga umbi basah di Desa Sumberbendo berkisar Rp7.000 per kg.

Tanpa cendawan

Bila Dika mengiris umbi tipis-tipis atau keripik dan mengeringkannya, harga lebih tinggi. Harga keripik porang berkisar Rp45.000—Rp75.000 per kg sesuai kelas. Menurut Dika dua tahun terakhir ada penggolongan keripik berdasarkan kualitas. Kelas A berwarna kuning, tanpa kulit umbi, dan dikeringkan dengan oven. Harga keripisk kelas A Rp70.000—Rp75.000 per kg.

Hasil panen dari kebun langsung diolah menjadi keripik.(foto: Dok. Arif Dika Mahendra & Munib Muhaimin)

Adapun kelas B berwarna kuning kecokelatan, tanpa kulit umbi, dan dikeringkan dengan oven. Harga keripik kelas B Rp65.000 per kg. Mutu terendah kelas C dengan warna cokelat kehitaman, masih beserta kulit umbi, dan dikeringkan dengan panas matahari. Harga keripik kelas C Rp45.000—Rp50.000 per kg. Keripik mesti benar-benar kering. Tandanya ada bunyi ‘tek’ saat keripik dipatahkan.

Pekebun dan pengepul umbi porang, Arif Dika Mahendra.

Salah satu pengepul yang memproduksi keripik porang di Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Munib Muhaimin. Munib menuturkan, pengeringan dengan panas matahari perlu waktu 6 hari. Syaratnya tersinari matahari sehari penuh. “Dengan cuaca kurang mendukung seperti kemarau basah saat ini, pengeringan berisiko gagal,” kata pekebun dan pengolah umbi porang sejak 2000 itu.

Praktis pengeringan menjadi lebih lama hingga 2—3 pekan. Pengeringan gagal bila muncul cendawan ditandai dengan adanya warna hitam pada permukaan keripik. Dika mengisahkan beberapa tahun lalu importir Tiongkok menolak 3—4 kontainer porang dari Kabupaten Madiun lantaran mengandung cendawan dan kutu. Penyebabnya ternyata metode pengeringan kurang tepat.

Sejak itu tercetuslah penggolongan keripik kelas A, B, dan C. Selain bebas cendawan dan kutu, beberapa pabrik mensyaratkan rajangan umbi memiliki ketebalan tertentu biasanya 0,5—1 cm. Lazimnya pengolah keripik langsung merajang begitu umbi tiba dari lahan. Menurut Munib pencucian umbi sebelum perajangan dapat meningkatkan mutu keripik. Namun, ia menyayangkan harga keripik dengan dan tanpa pencucian masih sama.

Pekebun dan pengolah keripik porang, Munib Muhaimin.

Itulah mengapa Munib, Dika, dan pengepul lain memilih menjual umbi basah daripada memproduksi keripik saat cuaca kurang bersahabat. “Di sini banyak yang dijual basah. Hampir 90% pengepul menjual umbi basah,” kata Munib. Dengan demikian mereka menyerahkan pengolahan sepenuhnya pada pabrik dan tak perlu risau mengenai standar mutu yang mesti dipenuhi. Tak ada kelas kualitas dan harga untuk umbi basah sehingga mereka tak menanggung rugi.

Pengeringan elektrik

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan, Dr. Ir. A. M. Adnan, M.P., membenarkan bila pihak Tiongkok kini menetapkan syarat pengeringan sebaiknya diarahkan pada pengeringan elektrik dengan oven. Itu dapat mengurangi kontaminasi dengan lingkungan sehingga tak lagi ada cendawan dan kutu. Adnan menuturkan, Tiongkok melarang masuknya produk porang berupa keripik.

“Saat ini yang dilarang masuk ke Cina untuk sementara berbentuk chips, tetapi hingga saat ini bentuk tepung masih diizinkan,” kata Adnan dalam gelar wicara porang pada 25 Mei 2021. Ia menuturkan pemerintah mengupayakan perbaikan kualitas keripik porang agar bisa diterima kembali oleh pasar mancanegara. Baik pekebun, pengepul, atau pabrik pengolah mesti lebih teliti agar tidak menggunakan logam berat dan pestisida yang dapat mengurangi mutu tanaman kerabat dekat suweg Amorphophallus paeoniifolius.

Peningkatan standar mutu krusial mengingat volume ekspor kian meningkat. Menurut data Indonesia Quarantine Full Automation System Balai Karantina Pusat (IQFAST Barantan) Kementerian Pertanian menunjukkan adanya peningkatan ekspor porang 0,8% pada 2019. Hingga Oktober 2019, tercatat ekspor 11.170 ton keripik porang. Pada 2018, volume ekspor baru 11.058 ton.

Pengepul memilih jual umbi basah daripada keripik.(dok. Trubus)

(dNegara tujuan ekspor pun bertambah. Semula hanya empat negara yakni Pakistan, Malaysia, Kamboja, dan Bangladesh. Kini bertambah Vietnam, Tiongkok, Thailand, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Hongkong, dan Australia. Produk porang yang diekspor berupa keripik dan tepung. Permintaan porang diperkirakan masih tinggi sebab kegunaannya sebagai bahan pembuat lem, kosmetik, mi, dan roti. (Sinta Herian Pawestri/ Peliput: Zahrotul Millah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img