Friday, December 9, 2022

Nutrisi Tepat Panen Berlipat

Rekomendasi
Benih padi IF8, aktual panen mencapai 11,4 ton per haktare di atas rata-rata panen nasional 5,7 ton per hektare. (foto : dok. Trubus)

TRUBUS — Intensifikasi solusi pemenuhan pangan di tengah alih fungsi lahan.

Sawah di Indonesia menyusut setiap tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan luas panen padi pada 2020 mencapai 10,66 juta hektare. Angka itu lebih rendah daripada luas panen padi pada 2019 yang mencapai 10,68 juta hektare. Artinya terjadi alih fungsi lahan seluas 20 ribu hektare dari 2019 hingga 2020. Oleh karena itu, intensifikasi salah satu solusi memenuhi kebutuhan pangan.

Menurut Direktur Utama PT Agro Industri Nasional (Agrinas), Ir. Rauf Purnama, M.Si, intensifikasi merupakan upaya meningkatkan produktivitas dengan asupan teknologi. Rauf menjabarkan, intensifikasi pertanian lazimnya dengan perbaikan benih, optimalisasi nutrisi, dan peningkatan teknologi budidaya. Menurut Rauf penggunaan pupuk majemuk bagian dari intensifikasi.

Pupuk Majemuk

Sebelum 2004 petani belum mengenal pupuk majemuk, mereka menggunakan pupuk tunggal. Rauf pernah menguji pupuk majemuk pada padi di lahan 133 hektare tersebar di Bali, Jawa, dan Sumatera. Pupuk majemuk meningkatkan produktivitas hingga 2,45 ton gabah kering panen (GKP) per hektare dibandingkan penggunaan pupuk tunggal. Menurut Rauf peningkatan rata-rata 2,45 ton itu sangat signifikan.

Saat ini luas sawah Indonesia 12 juta hektare. Oleh karena itu, akan ada peningkatan minimal 28 juta ton GKP. “Jika dikonversi menjadi 14 juta ton beras,” kata Magister Manajemen Lingkungan alumnus Universitas Negeri Jakarta itu. Pernyataan Rauf sesuai dengan hasil riset dosen di Universitas PGRI Yogyakarta, Dr. Ir. Paiman, M.P dan Ir. Ardiyanto, M.Sc.

Mereka menyatakan, pemberian pupuk NPK meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi Oryza sativa. Menurut Paiman pemberian unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) mengoptimalkan pertumbuhan seperti jumlah anakan, luas daun, bobot kering tajuk, bobot kering akar, bobot kering brangkasan, dan bobot kering gabah dan indeks panen. Produktivitas pun melonjak.

Penggunaan pupuk hayati dan majemuk bisa dikombinasikan sebagai upaya intensifikasi.

Dosis optimum NPK yakni 32,6 gram setiap rumpun, menghasilkan bobot gabah kering giling (GKG) maksimal, yakni 203,25 gram per rumpun. Alternatif lain untuk meningkatkan produksi tanaman anggota keluarga Poaeceae itu dengan aplikasi pupuk hayati. Menurut praktikus pertanian di Kabupaten Serang, Banten, Dr. Ali Zum Mashar, upaya intensifikasi dengan kombinasi pemupukan majemuk dan hayati.

Pupuk hayati

Upaya peningkatan lain dengan menggunakan benih bagus dengan potensi belasan ton per hektare. Sekadar menyebut beberapa padi trisakti dan IF8 dengan potensi panen minimal 9—11,4 ton per hektare. Salah satu petani yang sukses meningkatkan produksi padi dengan aplikasi pupuk hayati adalah Fauzul Khakim. Petani di Kampung Cikutu, Desa Rancasanggal, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, itu memanen 5—10 ton GKP.

Semula Fauzul hanya memanen 3—4 ton padi per hektare. Kini petani sejak 2013 itu memanen rata-rata 9—14 ton per hektare. Fauzul menggunakan pupuk hayati pada saat pengolahan tanah. Kemudian pemberian berikutnya berselang 10 hari sejak penanaman bibit hingga panen. Menurut Fauzul 1 liter pupuk hayati cukup untuk 1 hektare sawah. Ia memfermentasi liter pupuk hayati pada 20 liter air selama 48 jam.

Sebaiknya petani menambahan 1 kg gula dan 1 kg urea. Jika hendak digunakan cukup mengambil 1 liter larutan fermentasi kemudian larutkan dengan 10 liter air. Penyemprotan secara merata pada tanah dan tanaman. Faedah lain berkurangnya kebutuhan pupuk kimia hingga 50%. Sebelum menggunakan pupuk hayati kebutuhan NPK hingga 400 kg per hektare. Kini Fauzul hanya mengaplikasikan 200 kg per hektare.

Penurunan penggunan pupuk itu tentu memangkas biaya produksi. Jika rata-rata harga NPK Rp4.500 per kilogram biaya produksi yang terpangkas Rp900.000 per hektare. Menurut Ali jika produksi padi optimal seperti hasil panen Fauzul, 4 juta hektare pun sudah bisa memenuhi kebutuhan nasional. Syaratnya hasil panen rata-rata 8 ton gabah kering panen per hektare.

Produksi 32 juta ton itu setara dengan 17,6 ton beras (satu kg beras berasal dari 1,81 kg gabah kering giling atau randemen beras 55%). Padahal, konsumsi beras nasional mencapai 125 kg per kapita per tahun. Artinya kebutuhan beras tanah air 32 juta ton bila jumlah penduduk 265 juta jiwa. Produksi pun melebihi kebutuhan nasional. (Muhamad Fajar Ramadhan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img