Friday, August 12, 2022

Duet Herba Musuh Kanker

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Wedang uwuh salah satu produk mengandung kayu secang yang umum dikonsumsi masyarakat sehari-hari. (Dok. Trubus)

Paduan kayu secang dan rimpang lempuyang menghambat sel kanker payudara.

Trubus — Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dari total 348.809 kasus kanker di Indonesia, 16,7% atau setara dengan 58.256 kasus adalah kanker payudara. Kematian akibat kanker itu pun terbilang tinggi, yakni 17 orang per 100 ribu penduduk. Pada umumnya kasus terjadi pada perempuan berusia 30 tahunan. Upaya pencegahan kanker dengan Pemeriksaan Payudara Klinis (Sadanis) dan Pemeriksaaan Payudara Sendiri (Sadari).

Upaya lain mencegah serangan kanker dengan mengonsumsi rebusan kayu secang dan rimpang lempuyang. Keduanya manjur mencegah kanker sebagaimana riset ilmiah Dr. Sari Haryanti, M.Sc., Apt dan rekan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, itu. Secang dan lempuyang menghambat pertumbuhan sel kanker pada fase G2/M yaitu fase sesaat sebelum sel membelah.

Hambat sel kanker

Dr. Sari Haryanti, M.Sc., Apt. periset di Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. (Dok. Pribadi)

Menurut Haryanti kanker merupakan penyakit yang sangat kompleks. Sel kanker sangat mudah dan cepat beradaptasi. Penanganan kanker saat ini melalui kemoterapi. Namun, sering kali kemoterapi berefek samping yang justru menjadi masalah baru bagi kesehatan pasien. “Bila pada fase ini pertumbuhan sel terhambat, lama-kelamaan sel kanker akan mati,” kata doktor Farmasi alumnus Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada itu.

Kayu secang Caesalpinia sappan mengandung senyawa brazilin dan brazilein. Menurut Sari Haryanti kedua senyawa itu berfaedah dalam menghambat pertumbuhan dan perkembangan sel kanker. Peran rimpang lempuyang Zingiber zerumbet berbeda dengan kayu secang. Menurut Haryanti tanaman anggota famili Zingiberaceae itu memiliki mekanisme penghambatan penyebaran sel kanker menuju organ lain atau antimigrasi.

Kayu secang Caesalpinia sappan mengandung senyawa brazilin dan brazilein yang berpotensi sebagai antikanker. (Dok. Trubus)

Haryanti memadukan kayu secang dan rimpang lempuyang untuk mengatasi sel kanker. Jenis sel kanker payudara dalam riset ilmiah itu adalah MCF-7 dari perempuan berusia 69 tahun di Michigan Cancer Foundation tahun 1970. Periset itu meregenerasi sel agar sel optimal. Perempuan 43 tahun itu mengujikan dengan dosis 15 mikrogram per mililiter. Hasilnya pertumbuhan sel kanker pun terhambat.

Meski demikian, “Efektivitas ekstrak kayu secang dan rimpang lempuyang belum dapat dikatakan sebagai obat kanker. Namun, berdasarkan pengujian kami secang dan lempuyang berpotensi sebagai antikanker,” kata Haryanti. Perempuan kelahiran 24 Desember 1976 itu berharap risetnya terus berkembang ke tahap berikutnya yakni uji klinis. Tujuannya agar dapat menjadi sebuah penemuan baru yang dapat membantu pasien kanker.

Kekebalan tubuh

Haryanti memilih kayu secang dan rimpang lempuyang karena masyarakat sudah lama menggunakannya antara lain dalam sajian wedang uwuh. Wedang uwuh terdiri atas campuran antara lain kayu secang, rimpang jahe, daun cengkih, dan bunga cengkih. Haryanti menuturkan, masyarakat dapat mengonsumsi wedang uwuh sebagai upaya pencegahan penyakit. “Tidak spesifik untuk mengatasi kanker, tapi cukup untuk menjaga stamina tubuh,” kata Haryanti.

Valentina Indrajati, herbalis di Kota Bogor, Jawa Barat. (Dok. Pribadi)

Selain itu masyarakat juga mengonsumsi kayu secang tunggal. Bahkan, karena memiliki sensasi hangat, masyarakat sering memanfaatkan kayu secang sebagai campuran air mandi. Sementara itu para perajin batik menggunakannya sebagai pewarna tekstil karena warna merah yang menyala. Herbalis di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, Valentina Indrajati, juga sering meresepkan secang dan lempuyang kepada pasiennya yang menderita kanker.

Herbalis yang acap mengajar yoga dan meditasi itu meresepkan 10 gram kayu secang dan 5 gram rimpang lempuyang. Ia menambahkan 15 gram daun babandotan, 10 gram daun tapak dara, dan 5 gram benalu teh. Namun, itu bukan ukuran pasti. Valentina memberikan dosis tergantung pada kondisi tubuh pasien. Jadi, dosis berbeda-beda antarpasien. Semua sediaan itu dalam  bentuk serbuk. Pasien tinggal menyeduh atau merebus higga mendidih.

Perempuan kelahiran 19 Februari 1965 itu mengatakan, secang memang bertindak sebagai antitumor, antiradang, dan antibakteri. Rimpang lempuyang mengandung senyawa zerumbone. Menurut Valentina senyawa itu memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. “Sifatnya seperti antimikrob yang mengobati infeksi akibat sel kanker,” kata alumnus Universitas Katolik Parahyangan itu. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Previous articleMenyesap Madu di Oceng
Next articleKefir Atasi Kista
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img